ESQ Peduli Pendidikan

26 November 2006 | Ditulis oleh: |

Kepedulian pendidikan adalah kiprah yang pasti dirdhoi Allah SWT sebagai wujud tanggung jawab kehidupan.
Ersis Warmansyah Abbas

Tanpa diduga-duga, beberapa waktu lalu, seorang mantan Kadisdik dan seorang guru bertamu ke rumah dan kebetulan saya ada di rumah. Kebetulan pula, bersama Ogi, Jaya, dan Erwin kami baru dari RM Atom Rahayu Banjarbaru berdiskusi kecil-kecilan tentang pengembangan ESQ Training, khususnya prihal melibatkan guru-guru Kalsel.Hebatnya pula, mereka membawa kliping pernyataan sekretaris PP ESQ Kalsel, Ogi Fajar Nuzuli, yang berkhabar, PP ESQ Kalsel melalui ‘anak perusahaan’ ESQ Peduli Pendidikan dibawah koordinator Latifah Said, akan menggratiskan guru-guru mengikuti ESQ Training. Intinya, mereka terharu, PP ESQ Kalsel begitu peduli terhadap guru-guru. Suatu bentuk perhatian yang sangat mereka rindukan. Saya menangkap rona haru dan kebanggaan di wajah mereka.
 
Memang, sesuai Memorandum of Understanding dengan ESQ Leadership Training Jakarta, PP ESQ Kalsel dapat mengundang beberapa orang. Tetapi, sebagai pihak penyelenggara di Kalsel, kami merasa ada yang kurang sreg prihal undang mengundang tersebut. Soalnya, ada yang diundang, malah tidak datang hingga kesempatan buat orang lain tertutup. Ada pula yang datang, e … suka-suka aja. Walau, yang sedemikian tidak banyak jumlahnya, tetap saja kurang menyamankan.

Guru Gratis
Sejak awal, kami sebenarnya sudah memikirkan, bagaimana caranya lebih memurahkan ongkos ESQ Training. Tersebab, pelatihan ini bukan soal ceramah agama, tetapi tergolong “pelatihan kepribadian”, tentu harus mengikuti pakem yang berlaku. Secara finansial ada kewajiban yang harus dibayarkan ke Jakarta dan kami perlu membayar berbagai komponen biaya pelaksanaan.
 
Harap diingat, kita melaksanakan pelatihan di tempat terstandar, dengan peralatan serba canggih, pelayanan bagus dan segala sesuatu ada standar minimalnya. Dengan demikian, memang diperlukan biaya sangat besar. Nah, kalau untuk Reguler Basic diperlukan Rp.1.150.000 dan Professional Rp.1.650.000 sangatlah wajar. Lalu, bagaimana misalnya agar terjangkau oleh kalangan guru?
 
Untuk guru, misalnya, secara aturan, tidak ada pengurangan biaya apapun, tetap bayar sebagaimana peserta lainnya. Tetapi, karena PP ESQ dan alumni punya kepedulian terhadap pengembangan ESQ dilakukan gerakan pengumpulan dana. Pada uji coba pelatihan ke 3 (Professional) terkumpul Rp. 35 juta. Ini bentuk solidaritas alumni ESQ terhadap guru-guru.
 
Dalam prakteknya, guru-guru tetap saja bayar tetapi untuk ke Jakarta mereka mendapat fasilitas gratis komponen investasi, sekitar separoh dari biaya pelatihan. Nah, yang separoh itu yang disubsidi oleh PP ESQ Kalsel dan atau alumni. Guru gratis jadinya. Sederhana saja hitungannya, dan ini murni aplikasi kepedulian. Dijamin, lantaran guru-guru gratis harus memilih partai tertentu, misalnya, tidak akan, he … he …
 
Yang perlu direnungkan, dengan kebijakan demikian, tentu tidak akan mudah menyangkau guru yang jumlahnya puluhan ribu di Kalsel. Paling-paling dalam pada satu angkatan, bisa mengikutkan 20-30 orang guru. Suatu saat, kalau tidak ada penyumbang berikutnya –dari alumni dan peserta ESQ Training— lalu bagaimana keberlanjutan untuk mengikutsertakan guru-guru?

Bayar Komponen Minimal
Sementara ini, kami baru punya beberapa bayangan cara. Pertama, ESQ Peduli Pendidikan mencari dana dari sponsor atau para dermawan tidak hanya terbatas pada peserta ESQ Training dan alumni setiap pelatihan dilaksanakan. Mereka diharapkan berhubungan dengan ‘pihak luar’. Kalau hanya di dalam lingkungan ESQ sendiri, itu mah sama saja boong. Makin banyak dapat dana makin memungkinkan makin banyak guru dapat diikutkan.
 
Kedua, guru-guru membayar biaya pelatihan tanpa dibebani investasi untuk ESQ Leadership Training Jakarta. Besarnya sekitar separoh dari keseluruhan biaya. Kebijakan ini tentu akan lebih memudahkan guru-guru dapat mengikutinya. Artinya, guru-guru dapat mengikuti dengan biaya lebih murah.
 
Ketiga, meniru kebijakan Bank BPD Kalsel. Karyawan BPD Kalsel diikutkan secara bergilir oleh perusahaan dengan mengambil alokasi dana pelatihan karyawan. Dengan demikian, karyawan tinggal mengikuti saja, tanpa harus memikirkan biaya. Hal ini juga dilakukan oleh perusahaan lainnya, seperti Bank BNI, Garuda, Krakatau Steel, Pertamina, dan lainnya.
 
Tepatnya, kalau Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota mau meniru cara demikian, sungguh akan sangat membantu. Dapat pula melalui uluran tangan koperasi, misalnya, melalui SHU. Atau, guru-guru melakukan sistem arisan di lingkungan sendiri.
 
Harap diingat, kalau semua guru “harus” gratis, yah bagaimana pelatihan akan dilaksanakan, sebab dana pelaksanaannya dari mana. Yang bagus itu, pihak PP ESQ Kalsel mencari terobosan seperti dicontohkan di atas sementara di sisi lain guru-guru juga punya kreasi sendiri menyiasatinya.
 
Sebagai Ketua Komite Sekolah SDN Jawa 2 Martapura, misalnya, saya punya ide sederhana yang akan saya bicarakan dengan pengurus. Kalau tahun anggaran 2003 kami memberangkatkan guru-guru ke Darul Tauhid dan Az-Zaitun, dengan subsidi Rp.10 juta, tahun anggaran 2004 atau 2005 akan mengikutkan guru-guru ke ESQ Training. Tapi untuk 2004 saya lebih cenderung membelikan stelan jas untuk guru-guru

Ya, mungkin agak bias, karena saya terlibat sebagai pengurus PP ESQ Kalsel dan Panitia penyelenggara, saya memang berpendapat, ESQ Training baik untuk guru. Lagi pula, dari pengalaman ikut berbagai kunjungan kerja, “hasil” banyak kunjungan kerja, bagi saya secara kongkret tidak terlalu signifikans. Guru-guru SDN Jawa 2 saya OK ke Jawa, lebih tersebab agar wawasan lebih melebar. Tapi, kalau untuk “memperkuat” profesi sebagai pendidik, rasa-rasanya lebih tepat ESQ Training.
 
Dukungan semangat yang ingin saya sambungkan kepada guru-guru adalah, jika memang guru-guru merasa perlu ikut ESQ Training, yakin sajalah, banyak jalan kemudahan yang dapat ditempuh. Hemat saya, guru-guru memang sebaiknya mengikuti ESQ Training.

Ajukan Surat Keinginan
Sebagai sekretaris panitia pelaksana ESQ Training di Kalsel, saya tahu persis  siapa-siapa yang diundang, lengkap dengan lika-likunya. Untuk itu, saya anjurkan, sekalipun pihak PP ESQ Kalsel dan ESQ Peduli Pendidikan punya mekanisme tersendiri tentang mengikutsertakan guru-guru, saya anjurkan, kalau memang betul-betul berkeinginan, ajukan surat keinginan. 
 
Minimal, kalau banyak yang mengajukan, mana tahu kami makin terpacu untuk mencari dananya. Minimal, untuk satu-dua orang misalnya, saya pribadi sanggup menolong. Logikanya, apalagi mereka yang berpunya dan peduli. Pada pelatihan yang dimulai hari ini, 16 Juli 2004, diundang dan digratiskan 20 orang guru. Cara rekrutmen yang diambil masih melalui sigian para pengurus PP ESQ Kalsel. Kalaulah banyak guru yang mengajukan surat permohonan, bisa jadi nanti diterima melalui seleksi sederhana dan terbatas.
 
Kita boleh saja kalo bermimpi, guru-guru di Kalsel yang memang berkehendak, terpenuhi kehendaknya mengikuti ESQ Training. Dan, alangkah eloknya kalau mimpi itu terwujud. Kalau tidak semuanya, sedikit barang. Wong bermimpi saja kog ngak boleh. Ya kalo?. Lagi pula, jangan lupa, manusia ke bulan itu dimulai dari mimpi para kartunis.
 
Nah, jika memang semua pihak memandang guru-guru sangat bermanfaat mengikuti pelatihan, kenapa tidak?. Gagasan, niat dan kemauan baik akan menjadi kenyataan bila dilakukan. Kalau hanya sebatas anjuran, wacana atau pidato-pidato bersemangat tentang perbaikan harapan pada guru, tanpa langsung dilakukan, ama aja boong. Itu sudah menjadi budaya lama.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?.

  1. One Response to “ESQ Peduli Pendidikan”

  2. By fina on Nov 12, 2008 | Reply

    Ass,,,
    saya juga mendengar mengenai ESQ gratis ini dari teman2 liQo saya, apa kah benar Promosi gratis ini untuk guru?? bagaimana mengajukan aflikasi dan kemana?
    terima kasih banyak sebelumya.
    wassalam

Post a Comment