ESQ: Mehipnotis Iblis?
26 November 2006 | Ditulis oleh:Iblis adalah pembelenggu sejati mata hati, Asmaul Husna adalah sinaran hakiki sifat Allah di dada manusia.
Ersis Warmansyah Abbas
Suatu kali, Muhammad Husni, pengusaha sukses dari Sekumpul dan pelopor pengem-bangan ESQ di Kalsel, agak mengeluh bercerita: “Ada yang mengatakan ESQ Training itu semacam hipnotis. Karena itu orang menangis sejadi-jadinya meratapi beban dosa”.
Saya tidak menanggapi, tetapi ketawa nyengir saja. Bagi saya hal itu lucu saja. Sebab, menurut KBBI (1988: 309): Hipnotis berarti membuat atau menyebabkan seseorang tidur. Nah, itu kan sangat berlawanan dengan kenyataan. Siapa saja yang mengikuti ESQ Training dapat dipastikan, justeru kemampaun IQ, EQ, dan SQ-nya terangsang untuk aktif, bukan membuat fungsi-fungsi syaraf terlelap, tapi ‘terbangun’. Bagaimana mungkin hal sedemikian dikatakan sebagai hipnotis.
Kalau kepada saya, seorang teman pejabat teras di Pemprov Kalsel berseloroh: “Untuk menangis saja kenapa harus membayar begitu mahal. Padahal, banyak cara untuk menangis”. Atau begini: “Peserta ESQ Training yang menangis itu karena banyak dosa”, kata isteri seorang petinggi. Ada pula yang bilang: “Alumni ESQ itu kog ada yang emosinya tidak berkurang, sama haja, ESQ atau tidak”.
Membaca Al-Quran
Jujur saja, secara ‘keilmuan’ ESQ Training dalam hal materi, biasa-basa saja. Tidak banyak yang tergolong baru. Anda, para ESQmania mau bilang sombong, silahkan. Saya yakin saja, pengetahuan keagamaan misalnya, kan itu-itu saja dalam pengertian, ya berasal dari Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Begitu kira-kira pemahaman dasarnya.
Yang luar biasa itu adalah ‘kemampuan’ metode ESQ membangkitkan potensi diri manusia yang, sadar atau tidak, justeru ditimbuni oleh belenggu-belenggu. Kebanyakan kita, bisa jadi punya pengetahuan dan pemahaman tentang keagamaan, tetapi bukan tidak mungkin tidak paralel dengan praktek. Kalau sama sebangun, pastilah umat Islam menjadi umat yang sangat maju.
Ambil contoh, Allah itu tidak memerintahkan manusia untuk sholat, apalagi menunaikan haji, pada awal keimanan. Bukan, bukan wahai saudaraku. Tetapi, perintah Allah SWT yang pertama adalah: Iqra’ Iqra’ Iqra’. Nah, apakah selama ini kalian mengutamakan membaca, baik yang tersurat maupun tersirat?. Ingat, kosakata koran dalam bahasa keseharian kita berasal dari Al-Quran dalam artian bacaan.
Cobalah, masih banyak diantara kita yang mempunyai Al-Quran di rumah dan sampai berdebu karena tidak dibaca. Membaca Al-Quran bukan menjadi hal yang penting. Lebih menyedihkan lagi, iqra’ yang berarti membaca lebih luas, membaca alam semesta, ada yang mengabaikan. Terkadang lebih senang mendengar ceramah atau sekedar ujaran saja. Kemampuan membaca ditimbun dalam-dalam tersebab alasan yang tidak jelas. Logikanya, bagaimana mau sholat kalau tidak mampu membaca. Iya kalo?
Membaca “Alam Semesta”
Kalau dalam membaca Kitab Suci, semacam undang-undang kehidupan keagamaan saja tidak memuaskan, bagaimana dengan membaca ‘alam semesta”? Padahal, dari membaca itulah didapat ilmu untuk memahami alam semesta, sunnatullah.
Ada contoh sangat bagus materi ESQ. Pada awal pelatihan, melalui layar screen dengan tata audio visual, Ary ‘mehipnotis’ iblis kebodohan di hati. Nun, kurang 14 abad lalu, ketika Muhammad SAW membawa risalah Al-Quran, bahwa pada awal bumi-matahari itu satu lalu terjadi ledakan yang dalam ilmu pengetahuan populer dengan Big Bang.
Teori Big Bang ‘ditemukan’ manusia bukan dalam waktu yang pendek. Ketika membaca buku tentang Copernicus, Galileo, Hawking sampai Huble yang secara ringkasnya ‘mematok’ alam semesta suatu ketika mengalami ledakan besar yang dalam perjalanan memungkinkan manusia hidup. Hal itu “ditemukan” dari kerja keras ilmuwan dari waktu ke waktu, susah payah dan menghabiskan dana luar biasa besarnya. Perjuangan tersebut bahkan sampai ‘memakan’ nyawa Copernicus dan Galileo, misalnya.
Hebatnya, Nabi Muhammad SAW yang buta huruf dalam pengertian umum, kog bisa-bisa berkhabar pada manusia, bahwa apa yang dicari ilmuwan tersebut benar adanya. Apa tidak luar biasa? Mungkinkah Muhammad SAW yang tidak berbekal ilmu alam modern, apalagi teropong bintang, ‘tiba-tiba’ bisa memastikan?. Justeru para ilmuwan itulah yang membuktikan risalah Nabi Muhammad SAW. yang dari siapa lagi kalau bukan dari Allah SWT.
Maksud saya, kita mungkin rajin membaca atau belajar tentang alam semesta —mungkin pula masih berprilaku seperti zaman Nabi Muhammad SAW— tidak membaca sama sekali. Nah, pemahaman pas yang membanggakan tersebut telah ‘dipunyai’ oleh umat Islam sejak Al-Quran diturunkan. Tetapi, Saudaraku, kenapa secara keilmuan justeru ‘ditemukan’ oleh ilmuwan non-Muslim? Sebabnya, karena umat Islam sangat rajin membaca, e … maaf, mungkin tidak dapat membaca alam semesta.
Hipnotis Iblis
Banyak contoh yang bisa dikedepankan, tetapi dengan ESQ Training, saya lebih paham apa itu makna sesungguhnya keyakinan, kenapa pendekatan agama itu pendekatan keyakinan. Sebab, keyakinan itu bukan saja merupakan jalan pintas ‘pembuktian’ kebenaran Allah tetapi memang manusia memerlukan bergenerasi-generasi agar mampu memahaminya.
Saya juga lebih paham, mengapa Allah sampai ‘mengancam’: Tidak seorang manusiapun mampu ‘meniru’ Al-Quran walau satu ayat. Nah, berdasarkan keyakinan kita perlu memengerti dan memahami kebenarannya dengan ilmu dan logika yang bersandar pada Allah SWT. Alangkah nyamannya jadinya mempelajari ilmu yang dengan sendirinya bercap ibadah. Itulah ESQ Training.
Maksud saya, betapa selama ini diri kita —mudah-mudahan kalian tidak— dihipnotis iblis untuk tidak memahami kebenaran Allah SWT. Hipnotis iblis itu akan melahirkan bermacam-macam praduga, prasangka, bahwa ESQ itu justeru berupa hipnotis. Allah memperingatkan: “Allah telah mencap hati, penglihatan, dan pendengaran ….”. Kalau sampai sedemikian, sesungguhnya malang nian. Semoga kita terjauh dari hal sedemikian.
Saya ingin mengatakan, sejauh yang saya pahami, ESQ Training adalah semacam metode yang menggali potensi diri, memberi penekanan pemahaman tentang siapa kita, dimana kita, dan hendak kemana kita. Semua itu, pada dasarnya kitapun sudah tahu, sebab dari kecil sudah kita ‘pelajari’. Nah, melalui ESQ Training apa-apa yang kita ‘punyai’ itu disadarkan sebagai milik kita yang mungkin selama ini terhipnotis, dan …. mari kita bangunkan.
Bangunkan Potensi
Untuk sekedar mengetahui betapa mengagumkan ciptaan Allah SAW sebagai potensi yang Dia ‘titipkan’ kepada kita, misalnya otak. Jika Anda seorang yang memahami iqra’, bacalah tentang apa itu otak, bagaimana cara kerjanya, sistem koneksi, cara-cara saling berhubungan menerima informasi atau memerintahkan ke bagian tubuh lain.
Betapa tidak mengagumkan. Otak Anda memiliki satu trilliun sel otak, termasuk 100 milyar neuron (saraf aktif), 900 milyar sel lain yang melindungi dan memeliharanya. Setiap satu dari 100 milyar itu mampu bercabang menjadi 20.000. Otak kiri (akademis) dan otak kanan (kreatif) mampu menjalankan pertukaran mengirimkan jutaan pesan per detik dan memiliki berbagai pusat kecerdasan.
Ndilalah, bagaimana Anda dengan mudahnya mengatakan (sembari menghina Allah SWT kali ya), orang yang mempunyai otak dan jaringan yang begitu kompleks dikatakan atau merasa ‘bodoh’. Bukankah tugas Anda memungsikan potensi berian Allah SWT tersebut?.
Sekalipun agak kasar, ada lelucon Adi W. Gunawan pengarang buku Born to be a Genius dan Genius Learning Strategy. Katanya, ketika terjadi kecelakaan serius, di Amerika, otak si celaka rusak berat. Dicari donor. Dari Amerika ditolak, Jepang ditolak. E … dari Indonesia justeru diterima. Kenapa?.
Ternyata, otak orang Indonesia 95% masih utuh alias belum dipakai. Kalau ditambahkan lelucon, kenapa orang Indonesia jarang geger otak karena kecelakaan?. Konon khabarnya, otaknya di dengkul. Sungguh, lelucon satire yang menggugah kesadaran asal jangan ditanggapi dengan emosi.
Yang ingin saya tekankan, kalau memang kita beriman secara total adalah tugas kita mengaktifkan potensi berian Allah SWT, bukan mehipnotisnya. Yang kita hipnotis adalah iblis yang membelenggu potensi itu. ESQ Training adalah salah satu cara mehipnotis iblis.
Bagaimana menurut Sampeyan?.













3 Responses to “ESQ: Mehipnotis Iblis?”
By zaki on Jan 14, 2008 | Reply
Wah keren sekali yang abang tulis…
luar biasa..
memang betul sekali kata abang..Hipnotis adalah membuat tidur seseorang lalu diberi sugesti..
Hmm..tentang otak juga keren..Berhubung saya lagi nulis buku “Power Brain” jadi ada hubungannya nih dengan tulisan situ bang…
Hmmm..
Iqro..betul sekali itulah ajaran Allah pertama kali untuk nabi Muhammad..
Untuk Nabi Musa “Iqro”
Untuk Nabi Adam “Iqro”
Untuk Nabi Sulaiman “Iqro”
Untuk Yesus “Iqro”
dan untuk semua umat “Iqro juga”
Jadi kita harus Iqro dulu khan…
nah banyak ulama atas umat yang males dengan Iqro..maunya adu mulut n adu otot dengan alasan Jihat..hmmmmmm? Jihat atau Jilat…
ESQ menghipno Iblis…Hmmm?
Ada cerita waktu seluruh Makhluk disuruh Allah untuk menyembah Adam (karena ada Ruh Allah di dalam tubuh Adam ) cuma Iblis yang menolak..Lalu Allah tersinggung dan memerintahkan Iblis keluar dari Syurga Allah..Tapi yang heran adalah siapa yang goda Hawa untuk memakan buah khuldi padahal Iblis sudah keluar dari Syurga Allah…
Jawabannya adalah “Setan”..
Dalam bahasa Psikilogi adalah Pikiran Jahat,atau Pikiran Negatif..
dan itu yang selalu ada dalam diri kita ..
Pikiran Baik dan Pikiran Jahat..
Jadi siapa yang harus kita Hipnotis?
Pikiran Baik atau Pikiran Jahat…
By RESSYAN on Mar 13, 2008 | Reply
Luar biasa sekali tulisannya.Training ESQ memang sangat bagus..Baru satu kali saya mengikutinya,tapi saya sudah ketagihan untuk mengikuti ESQ Training lagi.Dengan mengikuti training ESQ membuat kita termotivasi dan optimis.
***Salam 165.
By Edvan_165 on Mar 17, 2008 | Reply
Assalamu’alaikum
Pagii!!!
Saya sangat senang membaca tulisannnya.. karena bagus sekali.. kata2 nya tersusun rapih.. pokoknya dah profesional dehh,,, hehe.. ^_^
o0oia, sy mau tanya, bapa buat buku yg cara memahami ESQ ya ?? bisa pesan tidak ya ?? ^_^ Jd pengen tau isinya ..
Salam165
Wassalamu’alaikum