Aksi Total

26 November 2006 | Ditulis oleh: |

Keteguhan hati berdasarkan prinsip kuat akan teraplikasi dalam kehidupan keseharian, amalan dari Asmaul Husna.
Ersis Warmansyah Abbas

Secara prinsip, haji merupakan suatu konsep berpikir yang berpusat kepada Allah Yang Maha Esa, dimana segala pemikiran tidak lagi berprinsip kepada yang lain. Prinsip ini akan menghasilkan suatu ketangguhan jiwa yang luar biasa, begitu ditulis Ary pada bagian Aksi Total buku ESQ-nya. Haji merupakan suatu lambang dari puncak ketangguhan pribadi dan puncak ketangguhan sosial. Haji, adalah sublimasi dari sholat dan keseluruhan Rukun Iman. Haji merupakan lambang perwujudan akhir dari langkah-langkah Rukun Islam. Secara sosial, haji merupakan simbol dari kolaborasi yang tertinggi, yaitu suatu pertemuan  pada skala tertinggi, dimana seluruh umat Islam sedunia melaksanakan langkah yang sama, dengan landasan prinsip yang sama.
 
Betapa dahsyatnya penggambaran haji sebagai aksi total, dimana terjadi zero mind process (ihram), pengasahan komitmen dan integritas (thawaf), pengasahan adversity quotient (sai) evaluasi dan visualisasi (wuquf), hadapi tantangan (lontar jumrah) yang bersinerji dalam jamaah haji dan dituntaskan dengan ibadah kurban, silahkan Anda baca secara mendalam buku Ary.
 
Karena saya belum menunaikan haji, sengaja tidak membahasnya secara mendalam. Dalam tulisan ini, menggambarkan secara illustratif dalam pemahaman kehidupan keseharian. Sederhana, tetapi secara esensi sarat makna.

Fitri Zamzam
Pada awalnya, entah kenapa dan mengapa, suatu kali Fitri Zamzam alias Dewa Pahuluan, mendatangi saya sembari berucap: “Kita gabung di MGR, yuk”. Tentu saja saya agak terpana. Betapa tidak,  seorang tokoh pemuda yang malang melintang di Banjarbaru dan Kalsel, kog mambawai.  Saya jawab saja santai: “OK Bos”. Saya belum begitu kenal Dewa. Kalau bapaknya, Zafry Zamzam, sudah lama saya baca melalui bentangan sejarah Kalsel.
 
Besoknya kami sudah di RM Atom Rahayu bersama pentalon MGR —komunitas Minggu Raya Banjarbaru— dimana Dewa saya “angkat” menjadi presidennya he … he … Kami sepakat menerima SK Walikota mengelola kompleks “permakanan” Minggu Raya.
 
Lalu, bekerjasama dengan PT Djarum Banjarmasin setiap malam Minggu, plus pada acara-acara khusus, mengadakan aneka pentas seni. Tidak cukup, saya direkrut menjadi pengurus Persebaru dan terakhir Dewa “memaksa” saya menjadi Ketua Umum Percasi Banjarbaru.
 
Lima tahun bersama Dewa dan kawan-kawan, tidak terhitung kegiatan positif yang kami lakukan. Saking akrabnya, jangankan kegiatan di seputar MGR, sesekali kami juga ke karaoke menghibur diri. Walaupun kegiatan saya sepanjang hari, saya tidak merasa capek sama sekali.
 
Apalagi, Dewa terkadang idenya aneh-aneh. Ke Jakarta yuk, ajaknya melalui SMS. Besoknya kami sudah di Tanah Betawi. Yang paling saya kesalkan, sampai hari ini Dewa belum ikut ESQ Training. Padahal, sudah saya bawa melihat-lihat sampai ke Jakarta Convention Center. Lalu apa hubungannya dengan tulisan ini?
   
Aksi Total

Suatu malam, Dewa mengundang diskusi ke rumahnya. “Tahun ini, kita targetkan Persebaru juara Kalsel”, katanya tanpa pendahuluan. “OK, Bos. Apa tugas gua?” Entah apa dasar pertimbangannya, Pak Presiden bikin perintah harian: “Sampeyan mencari dana”. Karena perintah presiden ya diamini saja.
 
Secara tehnis saya tidak ikut-ikutan. Itu pekerjaan para pembina Persebaru di lapangan. Yang jelas, Persebaru jadi juara Kalsel dan mewakili Kalsel ke Kepatang, Kalimantan Barat. Waduh, ini memang pekerjaan berat. Hitung-hitungan Rully Djunaidi, manajer Persebaru, dibutuhkan dana sekitar Rp.120 juta.
 
Berbagai pihak dijadikan ‘korban’ sumber dana. Setelah dapat Rp.60 juta menghadap Rudy Resnawan. Dibantu Rp.60 juta. Itulah bantuan terbesar yang pernah kami terima. Sejak itu, sampai hari ini, kami tidak pernah lagi minta bantuan Rudy Resnawan, apapun kegiatan Persebaru. Sebab, kalau minta yang kecil-kecil, tanggung he … he …
 
Yang ingin saya sampaikan, Dewa termasuk nekad hitungannya. Saat itu kas Persebaru kosong. Katanya: “Kita cari dananya. Kalau kita sepakat, jalan itu akan terkuat dengan sendirinya. Kita berjuang habis-habisan. Itu tugas kita. Anak-anak di lapangan jangan ikut-ikut susah memikirkan dana”, katanya. Itulah contoh kerja keras apabila tekad sudah bulat, mengerahkan segala potensi dan kemampuan. Bukankah itu yang dinamakan aksi total?

Mobil Kijang
Aksi total, dalam pemahaman sederhana saya, manakala kita membulatkan tekad, berusaha dan berdoa, mengerahkan segala potensi dan kemampuan, Insya Allah dikabulkan Allah. Saya punya contoh lain.
 
Sebagai PNS, pada awalnya tidak mimpi mampu membeli mobil. Suatu kali, ketika berbincang-bincang dengan Ali Hamdi Budi Gawis —pejuang Kalsel, mantan Bupati Amuntai dan Banjar— dia memberikan resep: “Sampeyan handak ba mobilkah?”.
 
Tentu saja saya jawab: “Ya iyalah, Pak”. Cuma saja sebagai PNS, dosen di Unlam, dengan gaji sekitar Rp.2 juta, manalah mungkin membeli mobil. Emangnya gua bisa korupsi? Mana mungkin menerima upeti mahasiswa, wong ketika mahasiswa paling benci kalau ada dosen minta upeti, apapun alasan. Untuk dosen berprilaku sedemikian, target saya, si dosen tersebut harus berhenti.
 
Kata Pak Budi: “Sampeyan taroh gambar mobil di depan ranjang. Kalau mau tidur atau bangun tidur lihat tuh mobil idaman”. Iseng saya praktekkan. E … pikiran jadi terganggu, selalu ingat mobil. Terusannya bikin kolam ikan. Dapat duit sih dapat, tapi mana mungkin untuk membeli mobil. Entah kenapa, Rudy Resnawan memanggil saya, memberi pekerjaan. Saya bilang: “Saya mau tapi kendaraan saya hilang”. Rudy meminjamkan mobil Kijang yang sekarang saya bawa kemana-mana.
 
Tentu saja tidak mau meminjam terus-menerus. Kepada Rudy bilang: “Saya beli deh Kijang Sampeyan?”. Rudy menjawab: “Kada usah, pakai aja”. Saya paksa dia, sebab punya uang Rp.50 juta. Akhirnya Rudy mau menjual dengan harga perkawanan. Punya mobillah saya.
 
Yang ingin saya sampaikan, apabila tekad sudah bulat, kita akan berjuang sekuatnya untuk mewujudkannya. Dalam bahasa manajemen barangkali berarti, apabila rencana sudah matang, lakukan dengan sungguh-sungguh, dan Insya Allah akan berhasil.

Doa Jangan Kelaparan
Saya punya seorang mahasiswa, Abdul Manan, kini menjadi guru SMP Kereng Pangi Kalimantan Tengah. Sepulang S2, saya betul-betul miskin. Suatu kali, saya kehabisan uang, blas … blas … Kelaparan bo. Saya bawalah Manan ke RM Padang Taruko, kini Cinto Raso. Sehari-hari Manan sering ikut makan dengan saya.
 
“Katanya tidak punya uang, kog mengajak makan Padang”, katanya setengah protes setengah prihatin. Tidak saya pedulikan. Minta dibungkuskan 2 nasi Padang dan … minta doang. Karena langganan, tentu saja diberi. Lalu kami makan di muka mesjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin.
 
Sehabis makan berdoa: Ya Allah, berilah hambamu rezki. Hamba tidak mau kelaparan lagi. Tolonglah ya Allah”.
 
Saya jarang berdoa, tetapi kali ini sungguh-sungguh, dengan sepenuh perasaan. Mohon diberi rezki hingga mau makan dimana saja, terpenuhi. Alhamdulillah, Allah Maha Kuasa. Sejak itu, Alhamdulillah, tidak pernah ‘kelaparan’ lagi. Kalau mau makan dimana ingin, selalu saja ada uang atau ada yang mentraktir.
 
Artinya, kalau kita menyerahkan diri secara total kepada kekuasaan dan kebesaran Allah, pastilah pertolongannya datang. Menyerahkan diri kepada Allah secara total, adalah resep hidup yang pantas dipraktekkan tiap saat. Tidak percaya? Silahkan dicoba.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. One Response to “Aksi Total”

  2. By Bulletin News on Oct 12, 2007 | Reply

    Interesting review covering Total at MENULIS TANPA BERGURU (Ersis Warmansyah Abbas)! I love this point of view!

Post a Comment