“Ngerjain” Orang Tua, Sadar Diri
26 November 2006 | Ditulis oleh:Bercanda dengan orang tua adalah nikmat hikmah tak terbatas.
Ersis Warmansyah Abbas
Sampeyan sungguh berbahagia, orang tua —Ibu dan Bapak— masih hidup. Peliharalah hatinya, mengabdilah, senangkan, turuti apa maunya sidin. Demikian kata Rudy Resnawan, ketika saya katakan Ibu dan Bapak saya datang dari Padang.Memang saya dikasihi Allah SWT, dengan umur 82 tahun Bapak masih segar bugar dan Ibu yang 76 tahun pun sehat-sehat saja. Tetapi, jujur saja, selama ini menganggap hal yang biasa-biasa saja.
Artinya, melihat dalam tataran kewajaran. Sampai sejauh ini, orang tua, Alhamdulillah, tidak mendapatkan penyakit payah. Mata, telinga, dan fisiknya masih fresh. Sebagai anak, saya yakin tidak durhaka. Tapi, karena sejak kecil dididik demokratis dalam arti sesungguhnya, suka iseng “ngerjain” Ibu-Bapak.
Bukan Haji Muhammad SAW
“Sis”, kata Bapak, “Rambutnya dipotong dong, biar rapi”. Belum habis Bapak bicara, Ibu menimpali “Iyo, di ESQ tu, indak ado nan barambui panjang. Indak rancak dicaliak urang lo”.
Saya nyengir aja sembari membalas: “Apak jo Amak, orang Islam kan? Nah, saya minta satu ayat Al-Quran atau Hadis Nabi Muhammad SAW yang melarang berambut panjang”. Bahkan, kata saya “membalas”: “Bukan tidak mungkin rambut Nabi Muhammad SAW panjang. Minimal, dia berjabis dan berjanggut”.
Kan ada hadis yang menyunatkan kalau berwudu’ mengelus-elus tangan berair ke janggut. Alhasil, diskusi malam itu saya menangkan. Kedua orangtua mengaku kalah. Saya lebih bebas mebom dengan pendapat.
Sampai jam 02.00 dini hari kami berdiskusi tentang banyak hal, hampir tiap malam selama sidin di Banjarbaru. Termasuk juga, saya menggugat pemakaian “gelar” Haji di depan nama. Nabi Muhammad SAW yang “pertama” melakukan ibadah haji tidak lazim di depan namanya ditulis Haji Muhammad SAW. Tidak ada Haji Abu Bakar, Haji Umar, Haji Usman, Haji Ali untuk khullafaurrasidin.
Argumen saya sederhana, ibadah kog dijadikan ‘gelar’. Lagi pula, mana yang lebih dulu Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, dari Haji. Hayo? Kalau mau konsisten, tulis dong Syahadat Sholat Puasa Zakat Haji DR. Drs. Ersis Warmansyah Abbas, BA, M,Pd. Tidak bisa membedakan antara kewajiban ibadah dengan gelar capaian keduniaan. Kacian dech lo.
Diperhatikan Keluarga
Yah begitulah tradisi keluarga saya, pokoknya siapa saja bebas berpendapat. Waktu kecil, di kampung saya, terbelah dalam aliran tradisional dan modern. Ada yang berpendapat Sholat Tarawih 20 rakaat, ada yang 8 rakaat. Saya memilih tidak tarawih.
Ketika pihak Bapak (Muhammadiyah) dan Paman (Perti) menegur tidak tarawih, dengan ringan saya jawab: “Lho, itu kan sunat. Dikerjakan dapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa”. Lalu saya katakan: “Tuan-tuan bertengkar sesuai pandangan masing-masing, merasa paling benar. Bertengkar itu dosa, tau. Nah, saya tidak sholat tarawih, kira-kira lebih bagus, to. Tidak menimbulkan pertentangan.”
Harap maklum, sejak kecil saya terkenal sebagai “pemberontak”. Pokoknya, apa saja yang dianggap tidak proporsional, ya dikritik. Lucunya, bisa dipastikan, semua keluarga, kalau saya mau sekolah dibantu ramai-ramai. Mereka tidak ada yang pelit. Pokoknya, walaupun “nakal” diperhatikan.
Yang saya tahu, keluarga tahu benar saya bandel. Akibatnya, dimasukkan ke PGAN. Saya tidak berkutik walaupun protes melulu. Jalur pendidikan demikian yang cukup “mengganggu” sekolah disatu sisi dan disisi lain, saya merasa bangga mendapat pelajaran agama memadai, sekalipun dalam prakteknya masih wallahualam. Pilihan kuliah hanya ke IKIP Padang atau IAIN Imam Bonjol Padang. Pintu perguruan tinggi umum “tertutup”.
Belajar Matematika
Di Padang, saya tinggal dengan tante. Di kampung, di kaki gunung Kerinci, sejak SD sudah membaca buku-buku Bapak dari Winnetow, Raja Minyak karangan Karl May, sampai Ihya Ullumudin. Panji Masyarakat dan Kiblat jadi “makanan”. Di Padang memuaskan diri membaca Kho Phing Ho. Saya hapal dari Suma Han sampai Suma Cin Liong.
Ketika pindah ke Yogya, pingin rangkap tiga kuliah, di IKIP, UGM, dan IAIN. Ketika kesandung soal matematik, membeli buku Matematika jilid 9, mulai belajar dari diagram Ven. Saya belajar biologi, fisika, dan sebagainya mandiri. Alhamdulillah bagus-bagus aja.
Ketika kuliah filsafat di UGM, membaca gila-gilaan, terbenam dunia pemikiran, sampai mempertanyakan Tuhan. Inilah pencarian paling panjang. Jujur saja, saya abai sholat dalam waktu cukup lama.
Pendek kisah, mengikuti ESQ Training, tersadar. Itu pulalah sebabnya, ketika Ibu-Bapak datang ke Banjarbaru, tahun lalu saya pulang —tahun ini giliran sidin ke Banjarbaru— diskusi sepuasnya sembari “mengaku” dosa-dosa. Ibu-Bapak “memahami” dan menyuruh bertaubat. Permintaannya ketika mau merantau dulu, jangan pernah punya niat tidak baik terhadap orang. Ditekankannya dan akan saya perteguh. Itulah “ilmu” yang diberikannya.
Saya katakan pula, saya sering disalahpahami. Kata Beliau, itu urusan orang. Kalau tidak berniat jelek, pasti selamat, tirulah jalan kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Lebih dari separoh umur di rantau, resep itu sungguh manjur. Padahal, saya sadar, saya orang yang tidak suka basa-basi, terkadang tergolong kasar. Yang penting, tidak punya niat jelek pada siapapun. Bahkan, orang yang mencelakakan, telah dimaafkan sebelum beraksi.
Alhasil, kedatangan Ibu-Bapak, memuaskan nafsu untuk “ngerjain” sidin. Kami puas saling ledek, adu pendapat, bahkan mengejek hal-hal ringan sembari ketawa-ketawa. Sungguh indah, dua orang itulah yang saya ciumi tangannya dan mampu bersujud di kakinya. Orang lain, no way.
Benar saja, hidup ini jangan disusah-susahkan. Kata Beliau: “Orang bijak menyederhanakan masalah besar, orang goblok membesarkan masalah yang tidak jelas”. Saya hanya mampu berdoa, semoga umur Beliau dipanjangkan Allah SWT dan saya menjadi Muslim sesungguhnya. Amin.
Bagaimana menurut sampeyan?












