Singapura: Little India Walking Tour

20 November 2006 | Ditulis oleh: |

SINGAPURA tak pelak lagi negara ‘seupil’ yang mendunia. Nampaknya, apa saja dimanfaatkan maksimal, apabila bernilai ekonomis. Dibeking kesadaran sebagai negara yang tidak memiliki SDA, menumpukkan pembangunan dan masa depan kepada SDM. Tidak mengherankan, walaupun tidak mengetahui ‘jeroan’Singapura, selintas saja dapat disimpulkan, rakyat Singapura adalah pekerja keras.Kesan lainnya, orang Singapura sangat mengandalkan hidup mengurus diri sendiri. Jangan coba-coba bertanya ini-itu seperti di Indonesia, apalagi mimpi diantar ke alamat yang dituju. Berjalan saja mereka seperti kesetanan, terkesan selalu diburu waktu. Untungnya, apa saja —terutama untuk kepentingan turis— disajikan lengkap dengan petunjuk jelas. Orang Singapura hidup sangat praktis.

Coba saja, nampaknya mereka tidak memerlukan polisi dimana-mana sebagai ‘pelindung’ rasa aman. Gedung atau perkantoran tidak ‘diamankan’ Satpam atau Satpol PP, bahkan bangunan-bangunan tidak berpagar. Saya mencari-cari mobil fasilitas buat aparat pemerintah seperti plat merah di Indonesia, e … tidak terlihat. Bayangkan hematnya pengeluaran pemerintah dan … seolah semua hal difokuskan untuk publik.

MRT Murah Nyaman
Alkisah, begitu selesai urusan di pabean Singapura di pintu masuk HarbourtFront, captaint tour Asia kami, Erwin DN, mengeret ke stasiun MRT (mass rapit transport) di kompleks yang sama. Menumpang eskalator turun sekitar 10 meter di perut bumi, ada malahan yang mungkin 20 meter, menuju MRT, sejenis kereta api mini dengan kecepatan ‘pesawat terbang’ dan sangat nyaman ditumpangi. Saya tidak bisa mengukur jarak, karena serba cepat. Pintu MRT terbuka dan tertutup otomatis dalam 5 menit.

Kami melewati Qutrom Park, Chinatwon, Clark Quay dan stop di Dhoby Ghaut, sentral MRT. Lalu, ke permukaan. Plaza Singapura terpampang dengan kompleks perbelanjannya. Kemana saja, kita seolah disuguhi, hotel, mall, taman-taman indah, kapling berjalan kaki dan sejenisnya. Menghirup udara bebas —di bawah tanah serba AC— kami segera mencari ruang terbuka, merokok. Rokok terasa begitu nikmat.

Sekedar catatan, jangan coba-coba merokok di MRT, di Mall dan tempat yang ada tanda no smoking, yang ada tempelan by law. Memang tidak ada petugas tapi hidden camera akan merekam dan bila berurusan dengan penegak hukum, bayar denda SGD5000 (Rp.27.500.000,00) atau penjara. Saya tidak menemukan pelanggar.

Oh ya, di HarbourFront kami membeli Tiket MRT SGD10 (Rp.55.000) cukup untuk naik MRT dan bis selama di Singapura. Murah meriah. Nampaknya ini cara pemerintah Singapura memberi kemudahan mobilitas warganya dan turis. MRT mempunyai empat lini yaitu: North South Line, East West Line, North East Line dan LRT Line. Lini itu menyangkau Singapura dengan ujung cabangnya, HarbourtFront dan Marina Bay (Selatan), Changi Airport dan Pasir Ris (Timur), Punggol, Khatip, Sembawang, Woodlands (Utara) dan Boon Lay (Barat).

Kalau di bawah tanah ada MRT, di permukaan moda transportasi publik adalah bus, dari tingkat sampai gandengan. Karcisnya jadi satu dengan MRT dan murah. Seorang teman yang kalau ke kampus Banjarmasin pakai taksi, minimal menghabiskan Rp.30.000 dari Banjarbaru pergi pulang. Sungguh mahal. Kalau pakai mobil, dalam seminggu enam kali ke kampus, untuk bensin, merogok kocek 6XRp.50 ribu berarti Rp.300 ribu alias sebulan Rp.1.200.000,00. Habis separoh gaji sebagai dosen. Kalau ditambah ongkos komunikasi, puasa dech kite.

Artinya, gaji sebagai PNS untuk tranpostasi dan komunikasi. Tentu karena penanganan sarana tranportasi publik kita memang payah. Dalam hal ini, siapa bilang hidup di Singapura mahal. Mereka cerdas menyiasati hal mendasar warganya. Kalau ceritanya demikian, sangat mustahil para PNS bisa beli rumah, menyekolahkan anak, membeli mobil apalagi punya gendak, kecuali … Tapi, faktanya para PNS kita banyak saja yang hidup lebih dari cukup he … he …
Walking Trip Country

Hal lain yang asyik di Singapura, tempat dan para pejalan kaki, sungguh diistimewakan. Jalan-jalan Singapura itu kecil saja. Dibandingkan dengan di Jakarta atau Surabaya, bahkan di Banjarbaru hampir sama saja. Bedanya, aspalnya kelas satu —di Malaysia juga sedemikian— sangat bersih dan trotoar untuk pejalan kaki sekitar 5 m. Nyaman dijalani. Katakanlah keramiknya sekelas Esensa, no tile no like it. Kalau ketertiban, tidak menarik untuk ditulis karena disiplin warga Singapura terkenal sudah.

Berjalan di sepanjang trotoar Singapura saya teringat pidato seorang pejabat, tentang K5 (kaki lima). Konon, katanya K5 karena pedagang kakinya dua ditambah tiga roda gerobak. Dasar tidak pernah baca. Kenapa?

Menurut literatur, Raffles adalah pejabat kolonial (Inggris) yang sangat peduli dengan wilayah publik. Raflles itu hobi bikin jalan. Di Indonesia, jalan dari Anyer-Panarukan sepanjang 1.000 km di pulau Jawa adalah gagasannya. Kalau di kota, di pinggir jalan dibuat trotoar untuk pejalan kaki selebar 5 kaki (foot, ukuran Inggris). Orang-orang Indonesia memanfaatkan untuk berdagang. Dari situlah muncul istilah pedagang K5. Menjelajah Singapura, saya bisa memahami filosofi Raffles.

Kegiatan rutin kami, ya jalan kaki, terutama untuk jarak pendek. Sekembali dari hotel, pada hari pertama, setelah naik bis dan makan-makan di Orchad Road kami jalan kaki ke hotel. Pada malam kedua, ke Little India, kawasan orang-orang India sekedar mencari kopi. Duh … Mak, kami jadi terseok-seok. Besoknya, sehabis ke Sultan Mosque dan sholat di kawasan Arab, jalan kaki ke Bugis Junction e … sepatu seorang kawan yang menganga sejak di Little India menemui ajalnya. Terpaksalah kawan kita membeli sepatu baru. Singapura dirancang sangat berpihak bagi pejalan kaki.

Raffles Hotel-Esplanade
Sejak dari Banjarbaru, saya menandai Hotel Raffles, National Library, Esplanade dan Merlion Park untuk dikunjungi. Dari Strand Hotel, Bencoolen Street, kami naik bis 10 menit ke Bras Basah Street ke Raffles Hotel. Sepuasnya kami mengelilingi hotel yang dijaga polisi Singapura. Harap maklum, ini hotel tempat menginap orang-orang penting.

Kami sangat beruntung kepala jaga, B. Sing, mengizinkan mutar-mutar, bahkan berfoto dengannya dan polisi Singapura. Pak Sing hapal petinggi-petinggi Indonesia yang menginap, dari Sukarno sampai SBY. Tentu tidak lupa melihat sejarah perjalanan Rafless Hotel yang ditayangkan di marmar terpahat di dinding hotel. Pengalaman ‘membaca’ buku-buku sejarah dipatri dengan melihat langsung.

Saya pikir inilah salah satu surga Singapura. Sebelumnya kami sempat mengunjungi National Library Singapore yang membuat hati terenyuh bila ditulis. Betapa tidak, dengan gedung menjulang, fasilitasnya sungguh lengkap. Bahkan, di ruang bawah tanah mereka menanam pohon. Buku-buku sampai internet tersedia gratis. Sungguh sorga untuk studi. Kunjungan ke National Library Singapore melengkapi ‘pusing-pusing’ kami sebelumnya ke kawasan Waterloo dimana terdapat Singapore Art Museum dan aneka musium lainnya. Luar biasa.

Setelah puas di Raffles Hotel kami berjalan kaki menuju Raffles Aveneu di bibir Marina Bay. Menyeberang Bras Basah Road sampai di War Memory Park, berfoto lalu ‘menyelam’ ke bawah Esplanade Brigde. Di bawah jembatan tersebut yang dibuat sedemikian rupa, kami menemukan seniman latihan drama. Muncul ke permukaan disambut Esplanade Theatres On The Bay.

Karena waktu sempit, tidak semua ruangan terdatangi, tapi untung leaftlet kami dapatkan. Lalu, duduk-duduk sembari memandangi Merlion Park dengan patung Singa yang terkenal tersebut. Sehabis itu mendatangi Lim Bo Sang Memorial dan terus ke Victoria Theatre and Empress Place. Bambang kesal karena petugas mengatakan tidak boleh menonton tersebab pergelaran telah dimulai, kami terlambat.

Disini terdapat Asian Civilisations Museum yang secara rutin mementaskan aneka budaya Asia. Beruntunglah kami dibiarkan ‘meramahi’ apa yang dapat dinikmati. Setelah itu memutar Singapore River yang terkenal dengan aneka makannya. Yang paling menyenangkan mampir di RM Padang Sari Bundo, duh nikmatnya. Capek berjalan kaki dapat makanan yang pas dengan selera.

Di Singapore River saya ‘mengerjain’ orang Singapore. “Please Sir, no pork. Halal”, katanya agar mampir di restorannya. “Nah lo’, jawab saya, “justeru kami mencari makanan dari babi”. Dia ngakak seperti juga kami ngakak. Asyiknya di Singapura bahasanya gado-gado. Bahasa Inggris, lalu ke Melayu, Mandarin dan terkadang India. Tapi, rata-rata menguasai bahasa Melayu dan … rupanya bahasa Indonesia tidak asing. Tidak heran, orang Indonesia memang suka melancong ke Singapura.

Jadi jangan takut, komunikasi di Singapura tidaklah akan mengendala. Unggulnya Singapura karena serius membenahi apa saja. Kalau soal alam dan tanah, Indonesia jauh lebih potensial. Bayangkan, Singapura itu dengan lautnya hanya kira-kira dua kali Banjarbaru. Mari meniru Singapura untuk hal-hal tertentu, tetapi lebih banyak yang lebih baik di Indonesia. Pasti itu.

Bagaimana menurut sampeyan?

Ersis Warmansyah Abbas, presiden LPKPK dan dosen FKIP Unlam.

Post a Comment