Batam-Singapura: Indonesia is My Country

20 November 2006 | Ditulis oleh: |

Dalam perjalanan Tour Singapura-Malaysia, 9-16 April 2006, captaint tour Erwin DN, merancang masuk lewat Batam. Saya sangat gembira karena belum pernah melihat Batam. Dalam benak mengayun-ngayun jembatan Balerang, kawasan Nagoya dan pembangunan Batam yang serba wah. Konon semasa Habibie aya-jayanya dia menginginkan Batam mampu menyaingi Singapura yang menurutnya tak lebih dari red dote dalam peta dunia. Begitu mendarat di Bandara Hang Ngadim, langsung terlihat geliat pembangunannya. Bandara internasional dibangun begitu megah dengan tanahnya masih merah bata pertanda baru. Begitu turun, melepas pandangan ke segala arah, memantapkan apa yang dilihat dari udara. Sangat menakjupkan. Mengikuti captaint tour dengan langkah cepatnya, disapa sopir taksi sembari menawarkan mengantar, iseng menunjuk RM Padang dan Sang sopir langsung bicara bahasa Padang sembari memberi informasi.

Dalam sepuluh menit datang kijang bermerek Batam Pos. Pemred Pos Metro Batam, Hasan Aspahani dengan elok menawarkan keliling. Saya bilang kepada Erwin, baiknya Jawa Pos menerbitkan koran di Singapura dan Malaysia agar hal-hal menyamankan juga didapat he … he …

Hasan, orang Banjar yang lama bekerja di Kaltim Pos kemudian bertugas di Batam. Pembicaraan langsung gayeng karena dia juga penulis sastra. Apalagi Erwin membawa kaset lagu-lagu Banjar yang langsung diputar. Saya jadi menyesal tidak memberinya buku puisi sebab hanya membawa satu set untuk adik di Malaysia. Ternyata buku-buku saya diminati. Tidak memberi National Library Singapura atau Perpustakaan Universiti Kebangsaan Malaysia. Bahkan Ipho Santoso, pemotivasi bisnis yang tengah populer, hanya dijanjikan akan dikirim ketika bertemu di Bandara Soekarno-Hatta.

Batam memang seolah disulap dari kawasan sepi menjadi pusat perekonomian. Kawasan industri, ruko, dan perumahan ruko dibangun dimana-mana. Saya terkaget-kaget satu kawasan industri saja menampung tenaga kerja sampai seratusan ribu orang. Tidak syak lagi, pada tahun-tahun mendatang Batam akan menjadi kota industri dan perdagangan internasional. Dari bandara dan pelabuhan laut saja indikasi tersebut terlihat nyata.

Hasan memberi keterangan panjang lebar tentang Batam, terutama Jawa Pos Grup menerbitkan tiga koran dan memperlihatkan Gedung Pena Jawa Pos yang megah di pusat kota. Puas mutar-mutar kami ‘mendarat’ di kawasan Nagoya, mampir di RM Sop Ikan yang khas dan lezat, lalu ke terminal Ferry. Suasana bukan lagi berbau Indonesia, tetapi internasional. Rupa-rupa orang sibuk dengan urusan masing-masing. Berbagai ragam bahasa komunikasi menjadi ciri tersendiri kehidupan kami enam hari ke depan.

Pasir Indonesia
Captaint Tour melakukan tugas dengan hebat. Setelah membeli tiket fery, langsung ke bagian imigrasi. Urusan begitu mudah dan cepat. Untuk pertama paspor saya, Bambang, Hakim, Dewa, dan Rustam di cap. Kalau Erwin, paspornya sudah hibak dicap berbagai negara. Harap maklum, kawan yang satu ini sering bepergian. Lalu, kami antri. Bangga terpantik sebagai orang Indonesia, semua orang tertib.

Karena Fery sudah penuh, kami duduk berpencar. Saya memilih berbincang dengan awak Fery hampir selama perjalanan. Yang menarik, dia sudah 12 tahun bekerja dengan kehidupan yang begitu-begitu saja. Sebagai orang asli Batam, dia geram dengan pejabat-pejabat pemerintah. Kenapa?

Lihat tu, katanya sangat serius. Kapal-kapal yang tambat di tengah laut itu bermuatan pasir. Memang sejak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) jadi presiden dan korupsi diganyang KPK, kegiatan tersebut melorot tajam. Dulu, BBM dilego di tengah laut. Batam menjadi tempat hiburan orang Singapura apalagi ketika judi dibiarkan. Kini, sudah agak sepi setelah dilarang. Dia geram dengan aneka keculasan dalam praktek kehidupan yang dilakukan oknum-oknum. Orang Singapura ke Batam untuk rekreasi dan belanja.

Mendengar keterangan kawan baru ini, lucu juga kalau pejabat dan orang kaya Indonesia belanja ke Singapura. Memangnya Singapura punya pabrik apa? Lebih mengherankan, harga-harga di Singapura jauh lebih mahal dari di Malaysia (Kuala Lumpur). Di Indonesia, bahkan lebih murah. Kalau barang-barang dengan branding memang luar biasa. Mereka komsumen produk bermerek kali ya.

Dicanda Custom
Perjalanan ke Singapura memberi sensasi tersendiri. Betapa tidak, feri Wave Master hampir setiap 15 menit berpapasan dengan feri lainnya pergi-pulang Batam-Singapura. Gedung-gedung menjulang Singapura, pulau/daratan Johor (Malaysia) ditambah lalu lalang kapal di selat paling sibut di dunia tersebut sungguh menyajikan sensasi. Selama ini saya hanya menimba bayangan dari bacaan, kini melihat sendiri.

Memasuki perairan Singapura, suasa mulai beda. Pulau-pulau ‘digarap’ sedemikian rupa dan kapal patroli terlihat mengawasi perairannya. Ini berbeda dengan di wilayah Indonesia. Setelah melintasi beberapa pulau kecil, pulau Sentosa dengan aneka variasi wisata di depan mata. Entah kenapa, bersih, aman, dan tertata baik makin menguatkan persepsi tentang Singapura.

Akhirnya fery tambat dan langsung dihidangkan kapal-kapal bergaya Cina, Harbour Cruise on the Imperial Cheng Ho. Sayang kami tidak sempat merasakan paket wisata ini. Lalu, ‘menuju’ pengalaman sangat berharga. Singapura memberi pelajaran yang takkan pernah terlupakan.

Setelah diperiksa bagian imigrasi dengan pertanyaan singkat, paspor dicap. Ketika melewati XRay, satu pak rokok terdeteksi. Pikiran sekelabat ke Banjarbaru. Saya bilang kepada Darmawan Jaya, bagaimana caranya agar ditangkap. Nasehatnya, mengaku saja pernah ke Afrika. Sialnya tidak ditanya dan Erwin menganjurkan merokok di pemeriksaan pabean, pasti ditangkap. Tapi, suasana tidak mendukung.

Nah, begitu seorang kawan diperiksa saya segera medekat dan ditanya, bawa rokok? Langsung dijawab, ya. Berapa bungkus? 5, kata saya pendek sembari traveling bag dibuka. Hakim yang membawa rokok saya 5 bungkus telah ke luar pabean. E … Dewa malahan datang mengantarkan jas. Langsung ditanyai tentang rokok.

Alkisah kami ke ruang custom. Saya ditanyai Ahmad Zaki Abu, petugas custom. Dia memaklumi sembari memperlihatkan brosur dengan las merah: Tidak ada konsesi bebas-cukai untuk rokok dan produk tembakau yang lain. Kami mencoba mendebat agar tahu setahu-tahunya aturan. Simpulnya, tidak ada tawar menawar untuk rokok, kecuali untuk dipakai yang lak plastiknya dirobek. Karena tidak merobek, ya harus bayar cukai.

Alhamdulillah, saya menikmati ‘diwawancarai’ pabean. Setelah kami bayar, semua beres, rokok boleh dibawa. Hitungannya, daripada membeli di Singapura yang mahal. Yang tidak habis pikir, 15 menit kemudian telepon berdering atau SMS masuk menanyakan prihal kami ditangkap. Lucunya, ketika sampai di hotel ada yang menanyakan apakah kami di tahan dan dideportasi. Emangnya peyeludup dadah (narkoba)? He … he … Saya berterima kasih, dari Walikota, pejabat partai sampai guru SD berkirim simpati.

Yang ingin disampaikan, Singapura tidak mengenal toleransi dalam menerapkan hukum, ketentuan harus dipatuhi dan kalau melanggar langsung di denda. Bahkan, ada warga Singapura dan Indonesia lainnya yang harus berurusan dengan custom karena membawa permen karet, … wajib bayar. Peringatan keras: Jangan sekali-kali membawa dadah, hukuman mati ganjarannya.

Pengalaman tersebut memapar kepastian, memasuki Singapura harus mematuhi segala aturan yang ditetapkan pemerintah Singapura. Jangan pernah berharap minta konsesi apapun karena tidak ada gunanya. Kata-kata pejabat senior custom Singapura, keturunan India melekad di benak saya: Saya mau bantu Pak Cik tapi hukum Singapura meamarkan demikian, tolong hormati. Kami tidak berpikir panjang, bayar, habis perkara.

Masuk ke negara lain, memang harus ikut peraturan negara tersebut. Seminggu menjelalah Singapura dan Malaysia saya sampai pada kesimpulan: Sebaik-baiknya negara orang jauh lebih baik di negara sendiri. Apalagi, kalau hukum diterapkan secara sempurna. Indonesia is my country, my love and Singapore my inspiration.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Ersis Warmansyah Abbas, dosen FKIP Unlam dan presiden LPKPK.

  1. 2 Responses to “Batam-Singapura: Indonesia is My Country”

  2. By Mega on Dec 16, 2007 | Reply

    DiBatam, ada kawasan yang bernama Nagoya yah..?
    Kok seperti nama daerah di Jepang ya…

    ***Ya, ada tempat makan sup ikan yang sedaaaap.

  3. By Nadya Priscilla Ramli on Dec 26, 2007 | Reply

    Saya sedang kesusahan dalam mengaran I Love My Country Indonesian tolong beritahukanalah dalam sekejap bila saya kembali. Saya ikut kompetisi e-book competisi jadi tolonglah saya. E-book kompetinsi terdapat di kursus i-tutor. Jika mau tau lebih dalam. bukalah http://www.i-tutorindo.com

    Saya suer kok !!!!!!!!!!!!!!@@@@@@@@@@@@^_______________^

    ***Saya agak bingung dengan permintaannya. Tolong diperjelas deh mBak …

Post a Comment