UnlamView and The Trust
16 November 2006 | Ditulis oleh:ALKISAH, setelah UnlamView edisi perdana terbit, banyak yang kaget sembari berbingung tanya: Unlam menerbitkan majalah dengan kualitas (cetakan) begitu yahud? Tidak sedikit yang berbanggaria. Unlam (kini) hebat. Puncaknya, UnlamView yang dirancang terbit 4 (empat) kali setahun, ‘dipaksa’ terbit tiap bulan. Tepatnya, antara ‘dipaksa’ dan ‘terpaksa’. Sivitas akademika, alumni, ‘pecinta’ Unlam sampai yang simpati menyupor dengan semangat, masukan, plus dana.
Sebutlah Supriadi misalnya, seorang pengusaha sukses, alumnus Unlam yang peduli, langsung meminta nomor rekening. Tentu saja, ditolak. Prinsip kami, silahkan bantu asal diimbangi dengan promosi atau iklan. Kalau membantu doang, kami keberatan. Sedari awal dipancang tekad bukan mengemis, apalagi merampok, atau minta dikasihani.
Belum lagi sambutan dari perusahaan. Kami tidak usah ceritalah, lihat saja bukti. Para petinggi institusi bisnislah yang paling ‘membeban’. Mereka ‘mengancam’, kalau bulanan akan dijadikan mitra, tapi kalau terbit triwulan, sorilah. Hal sedemikian membuat pengelola nekat, tiga nomor pertama terbit per bulan. Minimal dipahami guna mengejar lebih layak mendapatkan ISSN.
Tetapi, saudara-saudara sekalian. Ada pula yang tega-teganya menyebar isyu menusuk. Nampaknya ‘kawan’ ini tidak peduli dengan kebenaran, tidak respek pada inisiatif dan kreatifitas. Luar biasa. Pokoknya UnlamView jelek, dari segi apapun.
Padahal, asbabumnuzul UnlamView sederhana saja. Rasmadi, rektor Unlam suatu kali, mengeluh soal Humas Unlam. Kami diskusi tentang majalah, percetakan, dan penerbitan. Saya tentu senyum saja.
Bayangkan, kalau merancang dan kemudian diperintahkan mengerjakan, kan ruwet. Orang seperti saya tidak bakat ngantor jam 8 pagi pulang jam 5 sore. Bisa rusak gaya hidup. Lucu kalau ada yang bilang saya memanah jabatan. Bagi sementara orang jabatan mungkin segalanya, tapi ada pula yang memandang hal biasa-biasa saja. Pakai kopiah masing-masing saja enak kog. Entah nanti.
Tapi, sudahlah. Saya membawa Jumadi dan Krisdianto merespon maunya Pak Rektor. “Hayo kita berbuat. Tapi, jangan pasang bingkai otak proyek. Ini pekerjaan kreatif”. Benar saja.
Ya, seperti diintrodusir terdahulu. Belum apa-apa, ada yang bilang: “Proyek besar nich ye”. Peduli amat. Kita-kita senang. Menerbitkan majalah kan gampang. Ibarat lagu dangdut, beli bensin sendiri, cari bahan sendiri, layout sendiri, makan sendiri, percetakan bayar sendiri.
Mohon simpan saja curigation Unlam membiayai persiapan, operasional, sampai pencetakan. Menambah dosa Sampeyan saja kalau berpikir demikian. Kami belum memakai dana Unlam sepeser pun.
Yang pasti, dari ‘luar’ dapat sambutan hangat. Apalagi, terlebih dahulu ditayangkan di dunia maya: www.unlamview.com. Dari Swedia, Amerika serikat, Hongkong, Singapura, Malaysia, Australia, apalagi dari negara sendiri pada mengintip. Heran juga.
Sekalipun versi cetak, belum terbit, direspon berbagai pihak. Mungkin seperti ditulis Francis Fukuyama, dalam bukunya Trust, kepercayaan penting. Itu lho penulis buku The End of History and The Last Man yang baru menjadi trilogi menakjubkan dengan diluncurkannya buku The Great Discruption: Human Nature and the Reconstitution of Social Order.
Sebaliknya, Pak Rektor bilang: “Banyak tu yang mengeluh. Orang Unlam jangan ‘dimintai’. Perusahaan besar saja”. Nah lo.
Kami santai saja, kalau soal dana, tidak usah kuatir. Keyakinan yang diusung, kalau bekerja bagus tentu akan menghasilkan yang bagus. Tahun 2007 UnlamView akan fokus ke kualitas isi. Dus, dana akan datang sendiri. Percayalah hal sedemikian. Orang kalau terbiasa ‘makan’ proyek, orang lain dikiranya juga sama. Perbanyak istigfar. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir batin.
Bagaimana menurut Sampeyan?












