Unlam: Universitas Laju Maju?
16 November 2006 | Ditulis oleh:Apa boleh buat, berbagai sindiran dihujamkan kepada Universitas Lambung Mangkurat (Unlam). Misalnya, ada yang memplesetkan menjadi ‘universitas lambat maju’. Ada pula yang bilang, universitas tertua di Kalimantan yang makin ringkih. Yang lucu tapi memerihkan, misalnya, jurnal Vidya Karya FKIP Unlam sebagai ‘produk’ Unlam yang terakredetasi B, oleh media Depdiknas ditulis dari Universitas Lampung —padahal Universitas Lambung Mangkurat, he … he …Itu belum seberapa. Almarhum Prof. Noeri’d Halui Radam pernah menulis, profesor Unlam GBHN alias (G)uru (B)esar (H)anya (N)ama. Mungkin akronim tersebut terlalu ‘berat’, tapi kalau mau berpikir positif bisa dimaknai sebagai lampiasan kecintaan. Kecintaan?
Yes. Soalnya, semua pihak menginginkan Unlam lebih maju, bergengsi, ‘bergigi’ dan sebagainya dalam segala hal. Namun, masih jauh dari yang diidamkan. Muncullah ungkapan harapan, refleksi sayang secara satire. Saya yakin, hal tersebut bukan karena benci, tetapi karena berharap terhadap Unlam.
Ambil hal GBHN. Buktikan. Berapa buku karya guru besar? Berapa penelitian akademik, berapa makalah yang dipresentasikan di forum ilmiah, skala nasional dan internasional. Data prestasi Doktor-Doktor, Magister dan Sarjana. Akan ketahuan, sekian karya ilmiah mereka yang mendapat paten, penghargaan nasional dan internasional. Gampang.
Atau begini. Di Unlam ada rektor, pembantu rektor, direktur pascasarjana dan asistennya, dekan dan pembantunya, ketua jurusan, kepala lemlit, pengabdian masyarakat dan seterusnya. Data karya mereka. Iya sih pejabat tidak wajib orang terhebat berkarya akademis.
Tetapi Saudara, ini dunia kampus, dunia intelektual. Karya intelektual sangat layak dijadikan indikator. Komunitas kampus pastilah lebih bergembira kalau birokrat kampus pekarya-pekarya besar. Pekarya tentu lebih mungkin memotivasi dan menfasilitasi karya insan kampus.
Berbekal commonsense, siapapun pastilah memilih pejabat berkarya dibanding yang karyanya minim. Apakah salah, misalnya, untuk ke depan, prestasi ilmiah sebagai syarat untuk menjadi pejabat?
Seorang teman pernah memaki (memotivasi?), you itu apaan, puluhan tahun mengajar tidak membuat buku ajar, kayak penjual obat saja. Mau tahu jawaban saya?
“Maz, kalau menulis bisa ketahuan bodoh diri ini. Bila tertulis, jangankan salah konsep, salah satu huruf saja, bisa berabe. Kalau omong doang, begitu selesai, di telan ruang. Karena takut ketahuan bodoh, tidak menulis he … he … Soal alasan gampang. Sibuklah, mengerjakan ini-itu, tugas anu-una dan seterusnya”. Getir memang.
Tetapi, sejak itu belajar menulis. Malu juga jadi ‘Raja Pandir’ doang. Buku saya baru belasan buah dan … tidak ‘diakui’ untuk kenaikan pangkat, tak apalah. Minimal, kalau memeriksa atau mengedit karya tulis mahasiswa, tidak malulah. Apalagi sering diminta sebagai pemakalah untuk berbagai keperluan. Yang belum berani, menilai buku orang. Lucu kalau penilai tidak berkarya.
Di atas semua itu, mari perbanyak karya nyata dan publikasikan. Jangan sampai teriak-teriak menyitir agama segala macam, publikasi itu riya. Yo opo rek, mentang-mentang karya cekak, publikasi diplesetkan.
Ringkasnya, kalau karya insan-insan Unlam bejibun dan masuk edaran komunitas ilmiah nasional dan internasional, akronim Unlam universitas lambat maju otomatis bertukar, universitas laju maju.
Bagaimana menurut Sampeyan?









One Response to “Unlam: Universitas Laju Maju?”
By PBSID on Oct 26, 2007 | Reply
Bagaimana kalau namanya diganti saja dengan Universitas Antasari atau Universitas Sultan Adam, lagian mereka orang Banjar asli bukan seperti Lambung Mangkurat yang bukan orang Banjar.
***Kata Shakspiere: apalah arti sebuah nama. The man behind the gun.