Singapura-Malaysia

16 November 2006 | Ditulis oleh: |

Setelah Rudy Resnawan terpilih menjadi walikota Banjarbaru untuk pertama kali, tahun 2000, saya mewawancarai di kediamannya, kawasan Klause Reppe, Banjarbaru. Pertanyaan saya: Bagaimana strategi pembangunan Banjarbaru mengingat Banjarbaru miskin SDA? 
Dengan sigap Rudy menjawab: Memang Banjarbaru miskin SDA tetapi kita punya SDM mumpuni. Yah, kira-kira meniru Singapura, katanya ringkas. Tentu keterangannya agak mendetail tetapi ketika dia bicara bertumpu SDM, bagi saya cukup. Meniru Singapura tentu tidak gampang, banyak hal diperlukan.
 
Bagi saya, menempatkan pendidikan sebagai perhatian, diimplementasikan dengan

membangun gedung sekolah dan pendukung lainnya, sudah meletakkan dasar-dasar kokoh. Sekalipun masih jauh dari ideal, pendidikan dan penanganan pendidikan adalah janji Banjarbaru ke depan. Kita tinggal melihat hasil konkretnya 10-25 tahun ke depan. Lalu bagaimana dengan gandengan dengan Singapura?

Aman dan Bersih
Alhamdulillah, atas izin Allah SWT, saya, Abdurrahman Hakim, Bambang Subiyakto, Dewa Pahuluan dan Rustam Effendi dipandu captaint tour Asia 2006, Erwin Dede Nugroho, mengunjungi Singapura dan Malaysia, 9-15 April 2006. Mungkinkah Banjarbaru ’meniru’ Singapura?
 
Kalau itu pertanyaannya, jawaban reflektifnya, kenapa tidak? Pasti bisa. Tapi, diperlukan waktu panjang. Ini bukan menyangkut Banjarbaru saja tapi kondisi obyektif sosial-budaya nasional, dan hal-hal lain yang tidak mudah diimplementasikan. Tetapi, dari pengamatan selintas setidaknya ada beberapa hal yang dapat diterapkan.
 
Ambil misal soal taat aturan. Kebetulan, rombongan kami ketika masuk Singapura membawa sangu rokok sesuai selera. E … apa lacur, tidak dibenarkan hukum. Kami terpaksa membayar denda, lebih lima kali harga rokok. Agar jangan didenda, berbagai argumen diketengahkan kepada pejabat custom (pabean).
 
Yang menarik jawaban petugas: “Kami mau bantu Pak Cik. Tapi, hukum Singapura meamarkan sedemikian. Tolong hormati hukum tersebut”. Yah, kalau begitu, bayar habis perkara. Intinya, ketentuan hukum dijalankan tanpa ada tawar-menawar ataupun kelonggaran barang sedikit. Kalau harus bayar pajak, ya bayar. Titik.
 
Hal serupa dipraktekkan untuk bidang-bidang lain. Siapapun yang melanggar, ya harus menanggung akibatnya. Misalnya, merokok di ruang dan fasilitas publik. Sekalipun tidak ada petugas, kamera akan merekam pelanggaran dan siap-siap membayar SGD500.
 
Selama di Singapura, saya tidak pernah melihat polisi di jalanan kecuali ketika terjadi tabrakan dan atau di hotel Raflles atau tentara bersenjata siap tembak di bandara Changi. Singapura tidak mengenal Satpam, bahkan hampir tidak ada gedung, rumah atau flat yang dipagar. Kira-kira, tidak ada copet atau maling. Keunggulan Singapura, ya itu tadi, keamanannya. Sampai subuh pun keluyuran, aman dan rasa aman adalah garansi tak terhingga.
 
Jangan coba-coba membuang puntung rokok sembarangan sebab akan didenda. Aturan itu ditegakkan hingga tidak ada yang mau mengambil resiko. Naik MRT (mass rapid transsit) kalau memakai gaya kita, bisa diakali. Tapi, tidak usahlah. Dendanya SGD5000. Di Singapura hukum bukan untuk ditulis tapi diterapkan.

Pekerja Keras
Hal ’sederhana’ lainnya, kami tidak menemukan mobil plat merah. Apalagi fasilitas pemerintahan untuk mengantar anak ke sekolah atau ke tempat rekreasi segala macam. Bayangkan efisiensi dan hematnya pemerintah Singapura. Orang Singapura sangat praktis. Mengatur diri sendiri tidak tergantung pada orang lain.
 
Secepatnya kami berjalan, kalah jauh dengan anak-anak ingusan yang sangat menghargai waktu. Jangan coba-coba bertanya sebab dimanapun petunjuk tersedia. Mereka seperti dikejar setan saja kemana-mana. Itu pertanda pekerja keras.
 
Ketika mengunjungi National Library, misalnya, orang sibuk membaca, baik buku maupun fasilitas komputer dan internet. Tidak peduli orang lain. Begitu juga yang melayani orang, semuanya sigap. Makin cepat selesai mereka makin bangga. Tidak ada kamus, kalau dapat diselesaikan bulan depan kenapa harus hari ini.
 
Saya pikir, inilah kunci Singapura maju. Rakyatnya pekerja keras dan mengerjakan sesuatu serba cepat. Tidak akan didapat pegawai pemerintah keluyuran di pasar atau mall. Minimal tidak terlihat, soalnya mereka kan tidak pakai seragam seperti di negara kita he … he …
 
Lebih menarik, jalan-jalan di Singapura tidak lebar-lebar amat. Tapi, ya itu tadi, bersih nyaman dipandang dan dilalui. Nampaknya kemacetan langka di negeri singa tersebut. Dan, semua tempat nampaknya dibangun dengan pandangan wilayah publik. Jangan harap menemukan taman-taman dipagari, hingga siapapun bebas masuk.

Jadi, kalau taman-taman Banjarbaru pagarnya dibongkari, tindakan bagus dan berorientasi publik. Tidak usahlah studi banding atau meluaskan wawasan sampai ke Singapura misalnya untuk menjadikan Banjarbaru ’wilayah’ publik. Cukup lakukan saja.

Sorga Kehidupan
Dalam perbincangan dengan warga Singapura, terutama sopir taksi, ada hal mengangetkan, ternyata masyarakat Singapura tidak terlalu happy dengan keketatan yang diberlakukan pemerintah mereka. Kata mereka, ketika berlibur ke Indonesia, itulah masa paling indah, sebab bisa menikmati kebebasan individu yang tidak terlalu dibelenggu hukum.

Oh ya, meniru Singapura secara keseluruhan tentu konyol. Tetapi, kalau budaya kerja keras, efisien, tidak memanfaatkan fasilitas pemerintah untuk keperluan keluarga, bekerja profesional tentu tidak ada salahnya ditiru. Apalagi, kalau setiap orang orientasi pada hasil.
 
Bagi saya, mudah-mudahan akan lebih dapat menatap diri. Orientasi pada karya nyata nampaknya sebaiknya dijadikan acuan. Kalau sampeyan pegawai negeri, coba dalam seminggu berapa surat yang diselesaikan. Kalau satu kantor ada 40-an karyawan, lalu warga yang meminta satu surat memerlukan waktu sebulan, rasa-rasanyaa sangat jauh dari apa yang dipraktekkan di Singapura.
 
Akhirnya, dalam banyak hal, hidup di Indonesia jauh lebih nyaman. Apalagi kalau kerja keras, tertib, bersih, berorientasi hasil dipraktekkan. Singapura itu tidak ada apa-apanya dibanding kita. Tapi, Singapura  yang sebesar Banjarbaru, mendunia.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?

  1. One Response to “Singapura-Malaysia”

  2. By singapore tour on Dec 6, 2007 | Reply

    i am looking for information on singapore , i heard that they planning singapore to be the monte carlo of the east - anyway i wish you all the best on your post

Post a Comment