Puasa Sehat dan Menyehatkan
16 November 2006 | Ditulis oleh:Alhamdulillah. Kita sukses menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini, berpuasa sebulan penuh. Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT berjumpa Ramadhan tahun depan dan tahun-tahun berikutnya. Amin.Pada 1 Syawal 1427 H. kita merayakan kemenangan setelah sukses melaksanakan kewajiban, ‘menempa’ diri, menahan segala nafsu agar melempangkan jalan bagi tindak dan pengabdian hidup di jalan Allah yang seperti diisyaratkan-Nya, mudah-mudahan menjadi insan taqwa.
Dalam persefektif lebih mempribadi, setelah lulus ‘ujian’ yang digambarkan Rasulllah, kalau berperang itu hanyalah ‘perang kecil’ tetapi berpuasa adalah ‘perang besar’, kemenangan perang besar (berpuasa) semoga menuntut jalan tindak perilaku, menunaikan kewajiban dan pengabdian pada helai hari-hari hari selepas Ramadhan. Ramadhan dengan shaum, bukan sekedar menahan haus, lapar, menahan nafsu, dan sejenisnya, tetapi terlebih dalam melatih pribadi manusia beriman sejati.
Saya punya cerita introspektif, raupan dari kesimpulan kehidupan yang sangat positif untuk direnung. Sangat pantas disimak pembaca sekalian. Alkisah, seorang teman kena musibah ‘bisul’ pada awal Ramadhan yang mengaharuskan dia tidak bisa berpuasa karena menjalani operasi. Cobaan tersebut dijalani dengan tabah. Yang membuat terharu dia menyesalkan cobaan tersebut terkarena harus merelakan puasa pada awal Ramadhan dan tidak bisa penuh melaksanakan sholat tarawih. Ada sesuatu yang hilang.
Tetapi, kehidupan manusia memang sudah dirancang dalam belangga keseimbangan. Bisa saja kurang atau bersedih di satu ranah tapi di bagian lain bukan tidak mungkin ada hikmah. Bagaimama logikatnya?
Cobaan tersebut justeru membuat rindunya pada puasa menjadi-jadi. Pada hari ketiga selepas Idul Fitri langsung berpuasa. Dalam mobil, dia membawa saya melaksanakan puasa Senin-Kamis. Wow luar biasa kawan yang satu ini. Kalau soal sholat dia memang jauh lebih sadar selama ini.
Ada dua hal yang dia tangkap dengan baik. Pertama, berpuasa menyembuhkan penyakit maag. Saya lebih dahulu mendapat berkah. Tahun 2002, ketika ke Padang, seorang kawan saya tanya: You mau pesan oleh-oleh apa? Dia jawab enteng saja: Sampeyan kan maag, usahakan puasa.
Saya memenuhinya. Kalau yang lain minta macam-macam, enteng saja dipenuhi. Tapi ini puasa penuh, mana naik mobil dari Banjarbaru ke Padang. Tapi sudahlah. Namanya permintaan kawan. Permintaan yang awalnya dianggap rada aneh.
Allah Mahabesar. Pergi pulang dalam perjalanan lebih kurang 4.000 km berpuasa penuh. Ajaib, penyakit maag yang selama menjadi kambing hitam untuk terkadang melepas puasa, tidak muncul-muncul. Saya sembuh dari penyakit maag. Sampai sekarang. Maha Besar Allah.
Kedua, cobaan tersebut menimbulkan pemahaman baru, kawan ini menjadi ‘manusia baru’. Satunya ya itu tadi, mambawai puasa Senin-Kamis. Pembicaraan di mobil kini lebih berbau praktek-praktek keagamaan, bukan lagi diskusi tentang agama.
Oh ya, seorang teman yang lain, ketika kami berkumpul di rumah seorang teman, terlihat sangat gembira. Wajahnya berseri penuh rona. Penampilan sehat walafiat. Apa pasal?
Menjelang bulan puasa dia agak shock. Gara-gara general chek up dimana ditemui beberapa hal mengenai ancaman penyakit, terutama kalestrol cukup menghantui. E … selama berpuasa sangat segar bugar. Ajaib, sungguh ajaib.
Intinya, berpuasa menyehatkan. Barangkali, bukan saja mekanisme tubuh kembali ke fitrah lantaran pengikisan hal-hal yang tidak perlu atau berlebihan, tetapi secara psikologis kita ke fitrah hakiki, semua ini milik Allah. Apabila kita menjalankan perintah, berserah diri, maka Allah sendiri yang akan memelihara ‘milikNya”.
Dengan kata lain, ini sudah memasuki wilayah hakekat. Syukur kalau memang pemahaman kita sudah sampai ke sana. Memang Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dengan kesia-siaan. Allahlah Mahatahu segala hal. Mari berserah diri.
Bagaimana menurut Sampeyan?









