LPMP Penjamin Mutu Pendidikan
16 November 2006 | Ditulis oleh:Terus terang, dan mudahan terang terus, LPMP belum begitu ‘terang’ dalam pemahaman saya. Seperti banyak pertanyaan teman-teman, apa sih LPMP itu? Malahan ada yang kritis, hebat benar tu LPMP, berani-beraninya memasang label sebagai ‘penjamin mutu pendidikan’. Sesuatu yang tidak pernah terjamin sejak republik Indonesia diproklamirkan. Entahlah.
Jangankan hal-hal yang mendasar dan filosofis, hal-hal sepele saja tidak paham. LPMP, resminya Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan, dulunya BPG, itu lho tempat guru-guru menambah ilmu. Yang pasti lembaga resmi pemerintah ini dibawah jajaran Dirjen Mutu Pendidikan. Artinya, perpanjangan tangan Depdiknas.
Alkisah, pertama kali ke LPMP sekitar 10 tahun lalu. Zairullah Azhar membawa ‘menginap’ di BPG untuk keperluan sebuah organisasi. Sungguh, terkesan dengan kawasan pendidikan tersebut. Lalu, Bambang Subiyakto mengundang sebagai pemakalah seminar dan BPG sudah bernama LPMP.
Setelah itu, Said Abubakar (Kepala LPMP) dan Zainal Fanani (Koord. Widyaswara) mengajak ngomong-ngomong. Seperti biasa, saya utarakan saja pandangan, LPMP itu membingungkan, masyak sih lembaga Sampeyan mampu menjamin mutu pendidikan? Hebat benar, tu.
Surprised. Kedua orang hebat ini bukannya marah, tapi sangat intelektual. Saya dipersilakan ke kantornya, diberi Tupoksi, aneka kegiatan, dipersilakan melihat apa saja. Wow, luar biasa. Saya punya keyakinan, keterbukaan adalah kunci keberhasilan. Apalagi kalau terbuka untuk kritik. Ini yang mengesankan.
Pendek cerita, kami menjalin komunikasi. Pandangan saya kemukakan apa adanya, termasuk, tidak respek dengan penataran tanpa monitoring dan evaluasi, menghambur-hamburkan uang negara saja. Diskusi makin intens.
Dalam pada itu, 7 September 2005, Rudy Resnawan, Walikota Banjarbaru, mendiskusikan tentang ‘persiapan’ gerakan peningkatan kualitas pendidikan Banjarbaru tahun 2007. Saya membawa beberapa teman, diantaranya Zainal Fanani setelah minta izin Said. Kami diskusikan di kediaman Rudy, rumah saya, dan di LPMP. Saya minta, tolong serius LPMP membantu upaya peningkatan mutu pendidikan Banjarbaru.
Lalu dirancang beberapa hal, dan Rudy dengan jajaran Disdik Banjarbaru bertandang ke LPMP dan orang-orang LPMP ke Pemko Banjarbaru. Terjalin kerjasama apik. Dimulai dari pemberesan data, uji kompetensi, kini berbagai program mulai dilaksanakan. Lalu, saya jadi penonton. Impian saya sederhana saja, Banjarbaru ke depan adalah kiblat pendidikan Kalsel.
Rupanya, tidak berhenti sampai disitu. Penjalinan kerjasama lebih intens dilakukan dengan berbagai Pemkab, misalnya Pemkab Banjar dan Batola. Saya meyakinkan Khairul Saleh dan Eddy Sukarma, berdasarkan kerjasama, banyak program bisa diwujudkan. LPMP mengembangkan dengan daerah lain.
Sengaja ini saya tandaskan, terlepas dari Visi-Misi LPMP yang begitu hebat, saling mendukung antara lembaga berkompeten adalah kunci peningkatan kualitas pendidikan, bukan pada proyek bermuatan finansial. Kalau yang terakhir, biarlah jadi urusan mereka yang telah terlatih untuk itu.
Dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan, inovasi adalah jawabannya. Bukti telah menyata, selama ini mutu pendidikan, kan rendah. Jadi, kurangi berbusung dada dan bersikaplah, bersedia menerima pemikiran dan gagasan baru serta fokuskan upaya pada kinerja bukan berorientasi proyek.
Saya menikmati pola kerjasama gagasan dengan orang-orang LPMP. Yang lucu, ada yang ‘menuding’ sembari mengingatkan, hati-hati Ersis dan teman-temannya nanti ‘menunggangi’ LPMP dan kecurigaan ‘sadis’ lainnya.
Lucu juga. Keikutan kami dalam gagasan, ide, gerakan, diskusi, belasan rapat, berkunjung kesana-kemari, tidak dibiayai LPMP, apalagi meminta proyek. Memangnya tidak menghabiskan waktu, energi dan bensin? Memang, kadang susah berkontribusi untuk pendidikan, masih ada yang berpikir curigation, he … he …
Tapi, seperti kada seorang teman, sudahlah. Orang pasti berpikir dengan pikiran dan kebiasaan yang dilakukannya. Lazim dimana saja. Kami bertekad, tidak menganggu proyek orang, kalau mendukung program, yes.
Kembali ke LPMP sebagai lembaga, kalau disimak Tupoksinya, ke depan lembaga ini adalah harapan bagi penunjangan peningkatan kualitas pendidikan. Dan, adalah sangat cerdas dan bijak lembaga-lembaga pendidikan dan mereka yang peduli memanfaatkan dalam kemitraan dengan LPMP. Bersama LPMP, mari kita jalin kerjasama dan rapatkan barisan memajukan kualitas pendidikan. Bagaimana kalau LPMP tidak sebagaimana diharapkan?
Ya, kritik saja, kenapa takut. Wong presiden saja boleh dikritik kog asal dimaksudkan untuk perbaikan. Beberapa artikel saya di media cetak adalah buktinya. Tidak takut tidak difasilitasi LPMP? Memangnya sebelum kenal LPMP tidak bisa berbuat apa-apa?
Yang penting, kritik disertai ajuan solutif hingga konstruktif. Tapi, kalau menjelekkan, tidak usahlah. Biarlah jadi profesi orang-orang tertentu. Menurut saya, LPMP sedang menatap arah on the track. Mari kita dukung.
Oh ya, ketika membawa DEMA Unlam melakukan PPKM di LPMP, tokoh-tokoh mahasiwa dan rektor (Rasmadi) sangat terkesan karena kampus LPMP sangat kondusif untuk pelatihan. Ke depan, telah dirancang berbagai kegiatan. Tapi, kami tidak minta gratis lho.
Maksud saya, disamping diperuntukkan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah, kalau lagi tidak dipakai, LPMP bisa dipakai untuk kegiatan publik. Manfaatkan saja. Milik negara kog.
Akhirnya, selamat buat LPMP dengan ‘gaya baru’. Sejauh bisa didukung, kenapa tidak. Maaf kalau ada hal-hal kurang berkenan.
Bagaimana menurut Sampeyan?








