Negeri Asap
16 November 2006 | Ditulis oleh:SEORANG kawan berkirim khabar, dia terdampar di Balikpapan. Kawan yang lain harus memperlama perjalanan di Jakarta. Padahal berbagai agenda telah menunggunya. Tentu lebih banyak lagi yang mobilitasnya mandeg tersebab tidak bisa ‘bergerak’ karena bandara Syamsudin Noor diselimuti asap. Tutup.Sebenarnya, derita akibat makin ‘berkuasanya’ asap atas kehidupan sudah tidak pantas lagi ditulis. Sudah sangat tidak menayamankan, mengancam kelangsungan hidup kita semua. Betapa tidak. Asap seolah-olah lebih berkuasa dari udara. Udara yang diberikan Allah SWT secara gratis sebagai syarat utama penunjang pokok kehidupan manusia, dicemari asap akibat perbuatan manusia.
Pada kondisi demikian, kalau manusia diperintahkan memelihara alam demi kelangsungan kehidupan, justeru akibat perbuatan manusia —barangkali lebih tepat akibat kebijakan para pemimpin— berbuah derita berkepanjangan.
Sudah menjadi agenda rutin, kalau musim kering ‘disempurnakan’ kebakaran kemudian ‘diparipurnakan’ selimut asap, plus … kekurangan air. Nah, kalau udara dan air sudah tercemar, tanda-tanda ‘kebodohan’ suatu negeri sudah jelas dengan sendirinya.
Sampeyan bayangkan generasi macam apa yang akan hidup di negeri, dari bayi diberi asupan asap untuk merusak organ-organ vital tubuhnya. Penyakit ISPA barangkali hanya pertanda jangka pendek saja. Kerusakan tenggorokan, paru-paruh seolah ‘dipersiapkan’ sejak kecil.
Itu belum seberapa. Karena kekeringan terpaksa meminum air yang tidak keru-keruan, tidak sehat. Jangankan yang mengambil air tanah langsung, yang dikelola perusahan semisal PDAM saja dilengkapi partikel-partikel lumpur yang bukan tidak mungkin menyempurnakan sebagai perusak organ-organ tubuh secara sistematis sepanjang kehidupan.
Rasanya belum cukup derita anak bangsa, anak banua, bilama musim kemarau tidak dilengkapi dengan musim penghujan. Kalau yang ini selalu bersama saudaranya, banjir. Banjir dimana-mana. Dimana-mana banjir … jir … jir.
Pendek kisah, kemarau susah, penghujan susah. Padahal kita hidup di daerah yang hanya punya dua musim. Lalu, kapan menikmati bumi Allah ini tanpa petaka?
Wahai para pemimpin, para pemegang amanah. Belum jugakah sadar, tidak juakah dapat memetik pelajaran, pembabatan hutan sudah mengirim derita berkepanjangan. Belum tiba juakah saatnya mengkaji ulang ‘pembabatan’ batu bara dan biji besi yang nantinya akan menyempurnakan dampak gundulnya hutan? Ataukah memang akan menyempurnakan derita terbabatnya hutan disandingkan dengan derita akibat penambangan? Agar, derita kita dan anak cucu kita semangkin sempurna?
Betulkah ekploitasi sumberdaya alam penting bagi pembangunan? Kita ambil contoh, sekalipun hutan kita ‘diurus’ oleh satu departemen khusus dengan jajaran ke bawah, triluan anggaran untuk menegakkan kiprahnya disediakan. Kita punya institusi pendidikan, lembaga kajian dengan intelektual handal keluaran dalam dan luar negeri, hasilnya apa? Kegundulan.
Kini, saatnya kita menyadarkan diri, sadar secara kebangsaan, pemeliharaan milik bersama apalagi titipan Allah, agar betul-betul dijadikan prioritas tugas bersama. Haram hukumnya menangguk kekayaan dari hal tersebut kalau tidak dipelihara.
Mungkin ada sedikit orang yang bisa ternikmat tetapi lebih banyak merasakan dampaknya. Ketimpangan sedemikian harus diputus. Siapa sih yang kaya karenanya? Raja-raja pembabat hutan justeru menjadi pengutang terbesar negeri ini. Lalu siapa? Negara tetangga mungkin ya.
Bagaimana menurut Sampeyan?








