Dekan FKIP Unggul?

13 November 2006 | Ditulis oleh: |

Terus terang membaca tulisan M. Suriansyah, “Mencari Kepala Sekolah “Unggul” (Radar Banjarmasin, 1 November 2006), ibarat lagu kita memutar kaset lama. Tulisannya merujuk beragam pendapat pakar menukik hal-hal ideal yang selayaknya disandang Kepala Sekolah. Persoalan akan muncul, ketika kita menyigi siapa yang mempunyai hal-hal ideal tersebut. Ibarat langit, nun tinggi tanpa batas, sementara kita menjejak kaki di sudut bumi. Namun, begitulah seharusnya. Kalau sedemikian, wui sekolah-sekolah kita akan hebat-hebat.Harap diingat, unggul secara kamusis berarti: lebih tinggi (pandai, baik, cakap, kuat, awet, dan sebagainya) daripada yang lain (KBBI, 1988: 991). Secara konsepsional kira-kira seperti kandungan primus interpares. Dus, apapun jadinya, Kepala Sekolah pastilah orang-orang unggul di lingkungan masing-masing. Wajar, banyak Kepala Sekolah yang tersinggung. Namanya saja pimpinan, pastilah mereka “unggul”.

Kalau kajian ditajamkan, apakah menjadi kepala sekolah karena kelihaian atau kebijakan pejabat pengangkat, itu soal lain. Bahkan, dalam kasus sepadan lainnya, dulu ada sinyaliran, ada yang bermoral buruk dengan prilaku ‘baik’ memberi kenang-kenangan kepada pemilih, unggul juga namanya he … he … Kisah sedemikian, berembus ketika pemilihan Kepala Daerah. Entah iya atawa tidak, tidak usah dipikirkan, menghabiskan energi saja. Sejarah bermuatan pelajaran bukan untuk disesali. Lanjutan logisnya, kalau untuk meraih jabatan berprilaku menyimpang, bagaimana ketika menjabat?

Dalam kontkets ini tidak relevan. Sebab, kita bicara institusi pendidikan, rumah intelektual. Apalagi, FKIP Unlam diidamkan menjadi contoh pemilihan pemimpin yang baik. Pemilihan harus terjaga agar sesuai dengan sikap manusia cerdas dan beradab. Jabatan adalah amanah, bukan ambisi berkuasa. Amin.

Mencari Dekan Unggul
Tulisan Suriansyah menjadi lebih berarti ketika Bambang Subiyakto merespon, “Mencari Dekan Keguruan yang Unggul” (Radar Banjarmasin, 9 November 2006). Respon cerdas. Saya teringat cemoohan seseorang: “Orang-orang Unlam tidak usah mengritisi APBN Kalsel segala macam. Urusi APBN Unlam; berapa pendapatan, pengeluaran Unlam, dan digunakan untuk apa … Kalau Unlam transparan dan akuntabel, baik bagi insan Unlam, apalagi publik, mari berguru pada Unlam sebagai praktek para intelektual, untuk dicontoh”.

Cemoohan tersebutlah yang membuat saya mencoba mengkritisi Unlam dan FKIP Unlam ketimbang hal-hal berkenaan dengan Kalsel. Sekalipun menurut saya membela FKIP Unlam dengan kritikan konstruktif, pada suatu ketika dipanggil panitia adhock Senat Fakultas yang dibuat khusus untuk mengklarifikasi pemikiran saya. Luar biasa.

Belajar dari pengalaman, kalau tulisan ini akan menyakitkan beberapa pihak, saya mohon maaf. Saya tahu, dunia ini memiliki milyaran paradox. Tapi, kalau berpikir dan mengeluarkan pikiran saja was-was, dunia macam apa yang kita geluti? Sampai hari ini yakin, berpikir adalah ‘tugas’ Allah kepada manusia. Di ujung-ujung firman-Nya, kalau tidak salah, ada 40 kalimat, kenapa kamu tidak berpikir? Dan 40, kenapa kamu tidak tafakur?

Lagi pula, libido sedang tersedot ‘meraih’ kesempatan S3 ke Malaysia. Saya tidak mau hilang begitu saja sembari berkontribusi mengembangan UnlamView menyembatani Unlam dengan pihak luar. Kalau tulisan saya dianggap ‘keras’, mohon maaf badahululah, nanti tidak akan menulis lagi tentang FKIP Unlam.
Sekali lagi, pada posisi inilah nilai lebih artikel Bambang, berarti dengan tepat momen. Kalaulah dekan punya wakil, mengusulkan Suriansyah menjadi dekan dan Bambang menjadi wakilnya. Ke depan, pucuk pimpinan organisasi haruslah orang yang saling melengkapi. Mengutip Bambang: Di depan dia akan menjadi suri tauladan dalam perkataan maupun perbuatan. Di tengah-tengah dia mampu selalu memberi motivasi. Sedangkan dari belakang (ini paling penting, EWA) secara ikhlas memberi kesempatan kepada yang dipimpin untuk berkembang. Tidak sebaliknya malah menghalang-halangi …

Selanjutnya, mari langsung ‘bagaimana’ mencari sosok dekan FKIP Unlam. Saatnya bicara, pemimpin (dekan) FKIP yang diharapkan itu seperti apa. Mari munculkan figur-figur yang ‘dianggap’ unggul kalau susah mencari figur ‘unggul’ seperti dikemukakan Suriansyah.

Meja dan Kursi Dosen
Suatu kali ditanya: Dekan seperti apa yang Sampeyan harapkan ke depan?”. Jawab saya sederhana saja: “Mampu menyediakan satu dosen satu meja dan satu kursi”. Saya 22 tahun mendosen di FKIP Unlam. Ingin punya meja dan kursi untuk bekerja agar pekerjaan kampus tidak dibawa pulang. Saya ceritakan pula, sebagai pengurus Komite Sekolah, guru SD saja kalau meja dan kursinya oleng minta dibelikan baru. Ketika mengadakan penelitian ke SMP dan SMA setiap guru mempunyai meja dan kursi. Di FKIP kami hanya punya meja dan kursi bersama. Begitu pentingnyakah?

Bagi pekerja, tempat bekerja yang nyaman dan menyamankan adalah hal mendasar. Suatu kali, ketika Mulyani Yusuf menjadi PR 3 Unlam, saya dibawanya ke ‘ruang’ pribadinya di Fakultas Pertanian. Sampai hari ini masih terpahat di ingatan sembari andai-andaian bermain di benak. Kalaulah punya ruang kerja sedemikian, bisa menulis ratusan artikel, ribuan puisi, cerpen, menyelesaikan buku-buku yang terbengkalai, atau buku teks yang sedang ditulis. Tahun 2006 target menerbitkan 12 buku selesai, tahun 2007 mudahan lebih banyak.

Saya tidak mimpi mempunyai ruangan seperti Pak Mul apalagi fasilitas diskusi seperti ketika diundang Udiansyah di Fakultas Kehutanan. Cukup ruangan besar dengan meja dan kursi dengan kunci sendiri plus ber-AC. Tempat bekerja —bukan ngerumpi— nyaman pastilah meningkatkan kreativitas. Kantor UnlamView di Rektorat Unlam dirancang nyaman dengan faslitas bagus. Paling 2 hari dalam seminggu kami mampir mengerjakan UnlamView; mencari berita, mendisain, mencari dana, distribusi dan seterusnya. Nyaman dan menyamankan hingga hal-hal pengendala terabaikan begitu saja.

Maaf, bukan sombong. Saya pernah ditanya: Bagaimana Sampeyan menulis, menerbitkan Bandjarbaroe Post, UnlamView, buku-buku, penelitian, dan sebagainya. Saya jawab: kami efisien dengan tempat kerja nyaman. Di ruang kerja pribadi, tempat saya banyak menulis, yah nyaman. Kalau menulis artikel, 30 menit atau 60 menit kelar. Rumah belajar adalah rumah membaca dan menulis dimana kita betah berlama-lama sampai lupa hari. 

Pada kasus lebih spesifik, saya tidak ‘memaksa’ anak untuk belajar apalagi sekedar membaca. Belikan dia buku, sediakan komputer. Tidak usah diperintah-perintah. Saya sering rebutan membaca dengannya. Ketika seminggu lalu ke Padang dia SMS: Pak ulun kada kawak nah memasukkan gambar ke website (dia punya website: www.antra.blogersis.com.)

Logikanya, kalau di kampus ada faslitas IT gampang mengembangkan e-learning. Saya tahu banyak dosen FKIP berkemampuan bagus pemanfaatan IT. Tinggal fasilitas. Biayanya murah. Kami sedang mengembangkan www.unlamview.com, www.urangbanjar.com., dan website pribadi lainnya. Biayanya? Waduh, murah benar.

Kalau pelit mengeluarkan uang ambil yang gratis, bahamburan. Kalau mau yang bayar com. (comercial), bila Sampeyan pejabat atau dapat honor apakah gitu, urungkan mentraktir makan teman-teman sekali saja, uangnya cukup untuk biaya website setahun. Sangat sangat murah. Mau yang Rp.15 per bulan atau Rp.150 ribu ada. Mengerjakan? Gampang, asal mau belajar, bukan berdebat, lho. Tidak mampu berbahasa Inggris yang bahasa Indonesia juga ada. Mitos dunia maya itu mahal hanya untuk orang-orang tidak paham.

Jangan mau ditipu. Filosofi pengembang IT adalah memberi kemudahan dengan biaya semurah mungkin bagi kemajuan umat manusia. Mereka bekerja dengan niat sangat mulia, kita tinggal memanfaatkan. Masyak begitu saja sih dibuat ribet. Orang mengampangkan kita menyulitkan. Kalau begitu bagaimana kita bicara kemajuan dan memajukan.  

Dekan Doktor
Ide Bambang saya pikir cerdas. Ke depan persyaratan calon dekan dilihat juga bukunya, berapa kali tampil dan menampilkan makalah, menulis, kemampuan IT, bahkan hal sederhana penggunaan komputer. Apalagi, kalau diuji langsung. Kalau tidak berkemampuan gugurkan. Benar juga, tidak usah visi-visian atau hal-hal normatif, itu sudah usang dan sangat tidak bisa diukur.
Bay the way, saya ingatkan Bambang, Sampeyan jangan keterlaluan. Tidak mungkinlah dosen memarahi mahasiswa kalau diminta contoh makalah untuk dilihat mahasiswa. Ini tahun 2007 Maz, tidak masuk akal masih ada sisa-sia ‘laskar’ sedemikian. Jangan mengada-adalah.

Kembali ke pokok soal, yang diperlukan FKIP ke depan adalah dekan yang bermampuan, misalnya, membuat tabel target. Pada tahun 2007, 2008, 2009, dan seterusnya dosen berpendidikan S2 sekian, S3 sekian, profesor sekian. Untuk itu sediakan dana penunjang sekian. Pampangkan target tersebut di kampus, kalau perlu buat baliho agar selalu diingat dan diingatkan apa yang akan dicapai. Entengnya pula, untuk semua itu berdayakan saja dosen-dosen yang berkemampuan beragam. Ahli apa sih yang tidak ada di FKIP?

Oh ya, berbeda dengan Bambang, dekan selayaknya penyandang gelar doktor. Kenapa? Saya lebih bangga, merasa gagah, bergensi kalau punya dekan berpendidikan S3 (doktor) ketimbang S2 atau S1. Jujur saja, Sampeyan mana lebih bangga, ijazah ditandatangi pejabat kampus berijazah S1 atau S3? Lagi pula di FKIP Unlam banyak sudah yang doktor. Harga mati?

Tentu tidak. Misalnya, kalau para doktor dianggap ‘tidak unggul’ ya mau apa? Tapi coba layangkan pandangan ke fakultas atau universitas besar, mereka dipimpin doktor kog maju-maju ya. Sekalipun demikian, saya maklum, usul ini ‘aneh’ dan felling mengingatkan, akan susah dipimpin doktor, konon katanya belum waktunya. Mungkin setelah saya pensiun, kali ya.

Nah, bagi para doktor, ini tantangan. Kalau Sampeyan merasa ‘unggul’ dan memang unggul kog, buktinya bisa mnyelesaikan S3 yang orang lain mendaftar saja susah atau gagal, itu kan unggul namannya. Manfaatkan keunggulan itu untuk meraih jabatan agar mampu menjadikan yang lain unggul. Tapi, kalau tidak mampu, ya apa boleh buat.

Harap dicatat, doktor adalah satu titik penanda unggul, ada lagi unggul lainnya, relasi sosial, jaringan, diakui orang, terbukti ‘keunggulan’ sebagai doktor dengan penampakkan karya nyata, sampai mampu membimbing dan memberi pekerjaan pada yang bukan doktor, dan seterusnya. Seorang teman malahan berkelakar, harus pula terbukti unggul secara ekonomis. Ada-ada saja.

Dipilih Senat
Baiklah, Bambang meminta yang lain mengusulkan Suriansyah. Saya dengar-dengar ada yang mengusulkan Wahyu (Dr. dan Ketua Program Studi Sosiologi dan Antropologi FKIP Unlam). Suatu kali diminta komentar, bagaimana kalau Ahmad Sofyan (PR 3 Unlam), OK saja. Berarti sudah ada tiga calon dalam ‘bisik-bisik’. Hayo yang lain siapa lagi? Makin banyak calon makin bagus. Kita bisa memilih yang terbaik dari yang baik-baik.

Yang harus diingat, ini urusan ‘luar’. Pemilih tetap saja anggota Senat Fakultas. Sampai sejauh ini, anggota Senat Fakultas belum pernah berdiskusi secara formal dengan dosen (mungkin saya saja yang tidak tahu) ketika ada pemilihan Dekan atau Pembantu Dekan. Termasuk utusan dosen. Saatnya anggota senat mendengarkan usulan para dosen. Yang lalu biarlah berlalu.

Mari kita memprakltekkan benih-benih demokratisasi kampus. Apalagi, kalau Senat Fakultas membentuk tim khusus memantau kinerja calon bukan berdasarkan apa yang diomongkan dan dituliskan (visi-misi) tapi ‘uji petik’. Apakah ketika mengajar mampu menggunakan IT, kemampuan komputer, kalau menjadi pejabat kampus transparan dalam keuangan, kemampuan menulis di jurnal ilmiah, berapa bukunya, berapa kali tampil di seminar nasional dan internasional, tingkat lobi, dan seterusnya. Yang nyata-nyata saja. Dekan bukan jabatan politik seperti di pemerintahan tetapi lebih kepada pemimpin insan kampus, dunia intelektual. Wajar, kriterianya pada karya ilmiah.

Apapun jadinya, pada pemilihan Dekan FKIP kali ini mudah-mudahan, kebiasaan lama begini-begitu, ditinggalkan. Ambil proses yang bagus, buat hal inovatif dengan ukuran jelas. Selamat bermimpi mencari Dekan FKIP Unggul. 

Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Ersis Warmansyah Abbas dosen FKIP Unlam, website: www.blogersis.com, www.unlamview.com, www.urangbanjar.com

 

  1. 22 Responses to “Dekan FKIP Unggul?”

  2. By jaliannoor on Nov 15, 2006 | Reply

    menanggapi tulisan bapak di atas,saya sangat setuju sekali jika dekan fkip unlam harus doktor dan mampu memimpin fakultas ini dengan baik,atau paling tidak s2 lah.jika hanya s1 ya ga bergengsi dong apa kata orang nanti jika lulusan dengan dekannya sama-sama s1 kayak jeruk makan jeruk dong.saya juga setuju jika para dosen punya kursi dan meja sendiri,jangan kayak sekarang ruangan dosen seperti warung tempat menggelar dagangan diatas mejanya(maaf),atau malahan kayak meje-meja ditaman kanak-kanak.saya malah menyarankan seharusnya setiap dosen punya ruangan masing-masing dengan nama dosen tepampang di depannya kan keren,bukan hanya keren yang penting para mahasiswa lebih mudah berkomunikasi dengan dosen,ga myari kesana-kemari lagi kalau ada perlu.selain itu para mahasiswa ga sungkan-sungkan lagi untuk datang langsung menemui dosen jika ingin berdiskusi.saya juga ingin mengungkapkan kekesalan saya terhadap budaya yang kurang baik di kampus seperti jika ada seorang mahasiswa yang mengutarakan pendapat di kelas jika salah langsung dicemooh, itu yang menurut saya menjatuhkan mental sehingga kami segan untuk mengutarakan pendapat,entahlah apakah ini memang sudah ada sejak dulu,karena saya hanya seorang pendatang.mengenai dosennya mereka kadang-kadang bersikap superior menganggap mahasiswa selalu salah,dan sulit menerima kritik.mungkin ini dulu sebagian opini saya di lain waktu akan saya sambung lagi,mohon maaf jika ada salah-salah kata,saya mohon bimbingannya,terima kasih

  3. By dinie on Nov 16, 2006 | Reply

    thanks untuk tulisannya.setidaknya dapat menjadi inspirasi dan pengingat bagi mereka yang mau jadi pemimpin kelak dan mereka yang sedang memimpin.dan saya pun merasa terinspirasi oleh tulisan sampeyan,karena saya jg pemimpin bagi diri saya sendiri.tapi, apakah sampeyan sudah jadi seorang dosen yg unggul?memang secara karya dan dedikasi sampeyan sudah lulus dari arti unggul tersebut,tp terkadang jarangnya kehadiran sampeyan di ruang kelas berakibat bagi para mahasiswa,mereka seperti kehilangan induk.saya merasa kasihan dengan mahasiswa bimbingan skripsi yang mendapat dosen pembimbing sekelas sampeyan.knp?mereka agak kesulitan berkonsultasi dengan sampeyan krn sampeyan ‘jam terbang’nya yg agak sulit kami2 ini mencari sampeyan keberadaannya.mungkin hal itu dikarenakan sampeyan merasa ‘kecewa berat’ dengan tidak sempurnanya FKIP UNLAM untuk menyediakan tempat sampeyan sering menulis yg membuat org2 ber-oh,eh,uh ria.sekali lg,thanks utk smua pmikiran,ilum yg sampeyan beri secara ‘cuma2′ kpd saya yg …..

  4. By ipeh on Nov 16, 2006 | Reply

    dekan sbg pemimpin suatu fakultas bagi saya harus mengerti keadaan fakultasnya, selain itu dekan bagi saya memang perlu menyandang titel S3/doktor tapi yang benar-benar doktor, sehingga benar-benar mengerti ,misalnya di FKIP berati beliau punya wawasan yang luas mengenai pendidikan dan mengertyi pendidikan sehingga prioritas utama dari proigram kerja adalah memajukan pendidikan dengan mengerti bagaimana agar pendidikan itu maju,misalnya dengan memperhatikan kesejahteraan mahasiswanya, dosen, lingkungan serta kinerja dari berbagai pihak terkait dalam fakultas itu.

  5. By novie on Nov 16, 2006 | Reply

    dekan memang haruis punya pendidikan dan skill yang lebih dibanding dosen-dosen yang lain minimal S3. tapi S3 nya bukan yang S3-S3an (ijazah beli doang).disamping itu dekan juga harus memperhatikan mahasiswanya dan dapat bersosialisasi dengan baik antara pimpinan fakultas dengan orang-orang yang berada di fakultas itu sendiri. dalam pemilihan dekan, diharapkan tidak hanya mengumbar janji-janji semata tapi benar-benar melaksanakan apa yang telah dijanjikannya. seorang dekan harus bisa memegang amanahnya yang telah dipercayakan kepadanya, jadi harus klop antara gelar yang disandangnya dengan kinerjanya.(jadi yang ingin jadi seorang dekan harus mempunyai persyaratan minimal S3, jadi jangan kalah dong dengan dosen-dosen lain yang sudah bergelar S3)

  6. By satria on Nov 16, 2006 | Reply

    lucu juga kalau dosen tidak punya meja dan kursi pribadi sedangkan para guru-guru saja kebanyakan memiliki meja dan kursi pribadi. Di FKIP dosen hanya punya meja dan kursi bersama. apa masalahnya? apakah masalah dana, apakah dengan adanya meja dan kursi bersama dapat menambah erat tali silaturahmi para dosen FKIP, sehingga dalam bekerja antar sesama dosen mempunyai suasana yang akrab dan hangat? atau hanya karena para petinggi FKIP “koler”.
    saya setuju dengan “mimpi” sampeyan yang ingin mempunyai ruangan besar dengan meja dan kursi dengan kunci sendiri plus ber-AC.ya minimal mempunyai meja dan kursi pribadi. sesuai dengan pendapat sampeyan bahwa Tempat bekerja bukan tempat untuk ngerumpi, kalau tempat bekerja nyaman pastilah meningkatkan kreativitas dan kredibilitas dalam bekerja. kalau sudah tidak nyaman maka dosen akan malas ke kampus yang kemudian dampaknya ke mahasiswa, mereka sulit berkonsultasi, mereka juga jarang diberi kuliah. siapa yang bertanggung jawab jika dosen jarang hadir?
    trim’s atas inspirasinya, mohon bimbingannya. mohon maaf jika ada salah-salah kata

  7. By zubet on Nov 17, 2006 | Reply

    menurut saya pribadi siapapun yang jadi dekan nanti tidak mesti S1, S2 atau S3 yang penting jujur dan amanah serta punya perhatian terhadap dunia pendidikan kita. dan yang seperti inilah yang sulit dicari di zaman seperti ini. di FKIP sendiri banyak dosen yang sudah S3 tapi adakah diantara mereka yang memenuhi kreteria diatas??ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami ya…..mahasiswanya sendiri kalau ujian ada yang suka nyontek!!!dosen-dosennya suka bolos ngajar, dikantor apalagi pejabat diatsnya. jangan ditanya deh mungkin sudah begitu ya cermin dunia penddikan kita tapi kita tidak mesti patah semangat sambil berusaha dan berdoa memilih dekan yang memang ma’nyoooss dan di ridhoi Allah SWT. smoga FKIP terus berjaya Amiennn

  8. By abdani solihin on Nov 17, 2006 | Reply

    assalamualaikum
    bener juga yang dikatakan anda, bahwa sebaiknya seorabg pemimpin lembaga pendidikan haruslah orang2 yang secara akademik harus lebih unggul. Akan tetapi, kita mengetahui tidak semua orang yang mempunyai intelektual mampu memiliki jiwa kepemimpinan yang baik. Yang FKIP perluka hemat saya yakni dekan yang unggul tidak hanya dari segi kualitas tapi juga segi manajemen dan juga leadership. FKIP perlu pemimpin yang mampu membawa FKIP pada kemajuan terserah dia dari s1,s2,s3,ataupun es teh. Yang penting dia punya kapabilitas yang kompeten untuk merubah FKIP menjadi lebih baik dan maju kualitasnya. Mau pintar aja kok mahal gitu loh,mau jadi pemimpin aja kok repot amir. Sampeyan kok cerewet amat tentang pemimpin di FKIP, ente mau ga maju memimpin FKIP, jangan asal ngomong doank, biar FKIP tambah maju. Biar dosen punya ruangan dan meja sendiri.

  9. By bertha nirmahda on Nov 18, 2006 | Reply

    “kenapa fkip unlam tidak pernah maju-maju?’
    sampai saat ini setelah sekian tahun fkip berdiri,pertanyaan klasik itu masih belum ada yang bisa menjawabnya.bapak sebagai tokoh yang rajin banget mengetengahkan topik KETERpuRukAn dan KEBOBROKAN fkip unlam juga (maaf) belum bisa memperlihatkan pengaruh yang berarti. harus ada solusi untuk memecahkan masalah dan harus ada juga yang mau bekerja, berusaha, engga cuma ngomong doang biar ada BUKTI.(memecahkan masalahnya bisa pakai batu, pakai palu….terserah….asal pecah lalu fkip bangkit mengejar ketinggalan)
    the next dekan fkip harus s3? …….menurut saya pribadi, engga mesti, karena kalau kecerdasannya itu hanya untuk dirinya sendiri, engga bisa membagi ilmu dengan orang lain, keahliannya mo diapain? nagapain makan gengsi kalo mahasiswanya bisanya cuma bengong,nongkrong di kampus kayak ga ada kerjaan.bagusnya sih pak dekan ini nanti sanggup mengemban tugas berat memimpin suatu lembaga pendidikan yang bertujuan mencetak tenaga pendidik unggul, tidak cuma mengandalkan kharisma atau jaringan relasi luas seperti yang banyak diandalkan calon-calon pemimpin yang modal tampang doang.
    sebagai mahasiswa fkip, saya merasa yang namanya gairah belajar itu susah banget dihidupin (saya bukannya curhat ya)….kalo bapak mengeluh dosen fkip seperti bapak yang udah bisa nulis gini, bisa itu, bisa macem-macem punya meja kursi pribadi aja kaga….nah…apalagi saya.mo belajar, kelas sempit bersekat-sekat, kampusnya berisik, mo baca buku aau nyari buku perpustakaannya tidak menyediakan buku-buku penunjang belajar mahasiswa.beli buku? kalau bukunya murah mungkin masih mending, kalo bukunya mahal? itu baru masalah buku,satu hal kecil wajib yang dimiliki fakultas lain tetapi tidak fakultas dengan jumlah mahasiswa terbesar di unlam ini.ketidaktertiban juga sudah menjadi budaya wajib di fkip,sudah bukan pemandangan aneh kalo setiap ada kegiatan selalu dsaja diundur, merugikan bagi orang-orang yang sudah berusaha tepat waktu. banyak lagi kebiasaan-kebiasaan aneh di fkip yang merugikan, saya bisa menuliskannya berlembar-lembar nanti, dalam ruang yang lebih besar. sekarang kembali ke permasalahan, saya, sebagai mahasiswa,di fkip cuma sekedar rakyat jelata. harapan rakyat jelata itu bos,sederhana saja: pengennya sih fkip punya pemimpin yang baik, tidak sombong,MAU dan BiSA bekerja memberikan contoh, bimbingan dan menetapkan serta menertibkan fkip secara bijaksana. gengsi nomor kesekian, yang penting dibawah pimpinannya fkip maju. terakhir nih, the next dekan fkip impian saya adalah sosok yang bisa meluruskan benang kusut karena fkip ini ibarat benang sudah kusut, carut marut engga karuan lagi bentuknya. eh satu lagi, mo ngasih buku en memberikan bimbingan keterampilan yang bisa dijadikan andalan para pendidik di masa depan.sederhana tapi saya tahu sulit nyari pemimpin seperti itu. kesempurnaan bukan milik manusia. pempimpin yang paling top di dunia dari kalangan manusia cuma RAsulnya. itu aja dulu buat kali ini. mohon maaf dan mohon bimbingan kalau ada kata-kata kasar dan tidak sesuai dengan tatanan bahasa, maklum saya cuma mahasiswa fkip unlam.kalau mau mahasiswa fkip unlam jadi keren,terlebih dulu tolong bikin keren fkip unalam beserta staf pengajarnya.

  10. By dwi on Nov 18, 2006 | Reply

    Mencari pemimpin ideal…dambaan, pertanyaannya sekarang gimana caranya “meng-idealkan” pemimpin yg ada???
    Kasian kalo dihujat terus..tanpa dikasih solusi. Manusia emang gak ada yg ideal, keidealan ato kesempurnaan mutlak milik Allah, nah kalo mau mendekati sempurna … ya’ tinggal ngikutin aturan Allah, gampang kan? meski gak akan pernah sempurna 100%.
    Kalo boleh kasih masukan sedikit, krn cuma aturan Allah yg paling komplit, gimana kalo sistem pendidikan kita juga pake aturan yg datang dari Allah (baca:islam), berarti mulai sekarang kita tanggalkan aturan yg datangnya dari manusia, soalnya manusia itukan serba lemah dan terbatas, ya tho’
    Tapi sistem pendidikan yg basicnya Islam gak akan terwujud kalo sistem pemerintahan kita belum Islam, gak matching dong jadinya, ya…kan?
    Nah kalo sudah beres semuanya, ya sistem pemerintahan, ya sistem pendidikan, insya4JJ gak ada terdengar lagi permasalahan antara meja, kursi dan dosen, trus gak ada juga ribut-ribut ttg gelar yg harus disandang seorang pemimpin, apakah dia S1, S2 ato S3.
    Semoga mampu menjadi wahana pemikiran dan pencerahan, amin…

  11. By kesy on Nov 18, 2006 | Reply

    yapp!bagus!! Dekan FKIP harus unggul
    Dekan FKIP S3 boleh juga tuh…tapi jangan gara-gara S3 dekannya aja yg bersinar… kelihatan wah… wuih… waw…! sedangkan FKIP nya sendiri suram. Kalo bisa sih dekannya s3 yg bener-benr berkepribadian S3, trus care banget sama FKIP dan segala isi-isinya…pokoknya pemimpin yg bisa diandalkan!
    Dekannya berkualitas juga harus bisa bikin FKIPnya berkualitas dong!! supaya FKIP menjadi fakultas yg paling bersinar…menakjubkan!! khan bangga juga kita sebagai kaum intelektual di FKIP. Kapan???
    Hidup itu sebenarnya anugerah, belajar dan ibadah. Pak Ersis, kalo pengen rajin nulis dan baca apa yg harus diperbaiki?

  12. By risydi on Nov 20, 2006 | Reply

    saya setuju dengan pendapat bapak, bahwa seorang dekan harus lebih unggul daripada bawahannya. yang saya ketahui bahwa rata-rata pendidikan dosen di Unlam khususnya FKIP adalah S2. jadi alangkah loecunya jika pendidikan Dekan sama denagn para “anak buahnya atau bahkan ada yang lebih tinggi anak buahnya di banding sang Dekan.tapi jangan juga hanya mementingkan pendidikannya saja, tapi juga harus memiliki kepribadian yang baik serta bisa menjadi pemimipin yang berkualiats. (iya kalo pak?). saya juga setuju bahwa dekan harus menguasai IPTEK yang tinggi (seperti sampeyan, soalnya sekarang ini IPTEK sangat diperlukan dalam menunjang pendidikan. alangkah sayangnya jika seorang dekan “gagap teknologi”. mengenai fasilitas untuk dosen, saya setuju jika setiap dosen mempunyai ruang kerja sendiri, sehingga sang dosen bisa mengerjakan segala kegiatannya di ruang pribadinya. tapi mungkin untuk FKIP, hal ini belum bisa terlaksana (mungkin masih kekurangan dana). jadi diharapkan nantinya hal ini bisa terwujud. amiien!

  13. By purnamawati on Nov 20, 2006 | Reply

    mencari dekan FKIP unggul? I’t ok. Unggul dalam artian unggul dalam segala hal, berkemampuan mengembangkan FKIP ke arah yang lebih baik. FKIP banyak memiliki dosen - dosen yang memiliki beragam keahlian. So what ghitu loch…! Ahli apa yang tidak ada di FKIP? sdr. Ersis juga ahli….. apakah bisa?…….why not ! he…….he……

  14. By purnama ningsih on Nov 20, 2006 | Reply

    Dekan FKIP harus unggul? ya iyalah..!!! masa FKIP UNLAM yang gaungnya kemana - mana bahkan cukup banyak peminatnya, ternyata dekannya cuma bergelar S1 aza. Apa beda dengan lulusannya. Tapi pertanyaannya sekarang apakah ada di antara dosen - dosen FKIP yang memenuhi kriteria “unggul” tersebut? lalu “unggul” yang dimaksud sdr. Ersis itu seperti apa? Apa hanya dari gelarnya saja?ngga kan? Yang jelas bagaimanapun sistematika pemilihan dekan FKIP, saya selaku mahasiswa menghendaki FKIP yang benar - benar menjadi wadah calon - calon guru yang handal. Sdr. Ersis merasa mampu jadi dekan? kenapa tidak mencalonkan diri? Akan kita lihat FKIP di bawah naungan Ersis bila bersedia jadi dekan. Hidup FKIP !!

  15. By yuliyana on Nov 20, 2006 | Reply

    menurut saya memang sudah sepantasnya saat ini kita mempunyai pemimpin yang benar-benar ungggul dan intelektual.begitu banyak S2 dan bahkan sudah ada yang sampai S3 bertaburan difkip,mengapa sampai sekarang kita tidak mempunyai dekan yang unggul seperti yang ersis bilang.tetapi memang kenyataan tidak semudah seperti yang diharapkan.kalau kita heboh-heboh berkomentar tanpa ada realisasi,sama artinya omong kosong belaka.sebagai mahasiswa saya berharap yang terbaik saja buat fkip kita ini,sehingga dapat mencetak sdm yang unggul sama separti dekan yang dikehendaki.yang terpenting juga dari semuanya adalah sebuah kejujuran.apapun nantinya yang akan diharapkan kalau berlandaskan kejujuran pasti akan membuahkan hasil yang memuaskan.

  16. By Aulia on Nov 20, 2006 | Reply

    Mencari dekan yang “unggul” memang itu yg kita harapkan..! mempunyai beberapa kriteria yang telah ditentukan (saya setuju seperti yang telah sampean sebutkan diatas) tapi apa ada itu yg menjadi masalah untukl saat itu. kita perlu seorang dekan yang berpendidikan tinggi, mempunyai banyak karya, dll. Tapi tidak kalah pentingganya pentinganya mempunyai kepribadian yang baik agar menjadi seorang Imam (pemimpin) yang berkualitas, bagi para ma’mumnya.
    Berbicara mengenai bangku dan kursi para dosen, bagaimana dosen dapat bekerja dengan baik apabila pasilitas nya tidak memungkinkan. Khususnya bagi dosen sejarah yang susah untuk dicari diruangan dosen, dosennya pada kemana dan duduk dimana…?.

  17. By Prisila ss on Nov 20, 2006 | Reply

    Setelah membaca tentang tulisan anda,saya cukup setuju dengan apa yang anda sebutkan bahwa yang menjadi dekan adalah seseorang yang unggul baik dalam hal pendidikan, pengetahuannya maupun dalam hal apa saja. Tapi apakah kita dapat menemukan seseorang yang punya kriteria seperti itu?saya rasa itu merupakan hal yang cukup sulit!mengenai seorang dekan yang seharusnya ato paling tidak punya pendidikan minimal S2,kayanya memang harus dan penting!tapi S2 nya yang benar-benar S2 bukan yang didapat dengan membeli!Seorang dekan tentu saja harus mampu menjadi pemimpin bagi bawahannya otomatis ia harus mempunyai kecakapan yang lebih dibandingkan dengan bawahannya.Memang harus kan?. Trus tentang meja dan kursi untuk dosen yang sampai saat ini masih banyak yang belum terpenuhi kita lihat realitanya.

  18. By Nila Aprianie on Nov 20, 2006 | Reply

    mengumentari tulisan yang anda buat “mencari dekan unggul” (13November 2006) menurut saya seorang dekan memang harus unggul, karna dia seorang yang terpilih. tetapi dekan jugakan mendapatkan jabatanya bukan dengan sendirinya. tetapi dengan cara dipilih. kalaupun dekan yang terpilih itu, dirasakan bukan yang unggul dan ternyata benar2 tidak unggul, bukan salahnya 100% dong!!??.toh dia jugakan dipilih, berarti oarang-orang memilih dia juga salah kan
    saya kurang tau tentang pencalonan dan pemilihan dekan, tapi kalau seseorang dianggap mampu dan unggul ketimbang dosen-dosen yang lain untuk menjadi dekan, ya…..kenapa gak dicalonkan dan dipilih ia menjadi dekan oleh dosen-dosen yang ada. merekakan punya hak.
    soal dekan harus doktor? gak mesti juga menurut saya, unggul bukan berarti hanya dari gelarkan????? masih banyak kreteria yang lain yang membuat orang dapat dikatakan unggu. kita bisa liat dari pengalamannya (bukan berarti harus tua lho), karyanya, pokoknya hal-hal yang dapat dikatakan unggul (jelasnya yang positif dong)yang mampu membawa FKIP UNLAM. tentang visi dan misi itu hanya sebagai pelengkap, yang dilihat tetap harus kemampuanya.
    yap!!!soal dosen gak punya kursi ma meja sendiri, tragis juga sih, saya saja heran waktu pertama kali masuk keruang dosen di FKIP UNLAM, dalam benak saya berkata “beginikah ruang dosen? kenapa gak seperti yang saya bayangkan waktu SMA dulu ya? apa karena saking hebatnya hingga gak perlu lagi meja ma kursi sendiri! yang ada cuma meja bersama yang dikelilingi kursi-kursi, apa karena dosen2 sering diskusi ya jadi disusun kaya gini!” itulah kesan saya waktu pertama kali masuk keruang dosen.

  19. By Prida on Nov 21, 2006 | Reply

    Dekan fkip “unggul”
    Bagoe…..bagoes …….!!!
    kalau memang dekan unggul atau berkualitas bisalebih memajukan fkip
    kalau ada mengapa tidak…..???
    Toh…itu demi kemajuan fkip kita.
    Iya kan…….iya dong…..benar kan…….benar dong….
    Kasian dech loe… tidak punya meja dan kursi sendiri. Seharusnya fkip sebagai sebuah universitas yang lebih tinggi akademiknya mempunyai fasilitas yang lebih menunjang dibandingkan SD, SMP dan SMA khususnya untuk ruangan dosen. agar dosennya merasa nyaman dan betah dikampus, supaya kerjaannya tidak dibawa pulang ke rumah. memang seharusnya setiap dosen mempunyai meja dan kursi sendiri-sendiri..
    Apakah ini bisa terwujud…???
    Agar ruangan dosen tidak terlihat seperti “ruangan mati” iiih seram…

  20. By Riedha on Dec 6, 2006 | Reply

    Dekan tuh memang seharusnya unggul, soalnya dia kan pemimipin suatu fakultas!!!

  21. By M. Rizky on Dec 7, 2006 | Reply

    Assalamualaikaum…
    Kalo kita berbicara tentang seorang pemimpin, pastinya yang ada dibenak kita adalah seseorang yang diberi amanah untuk menjalankan suatu tanggung jawab. Begitu juga dengan dekan, hendaknya kita dapat memlilih dan memilah kriteria yang bagaiman sehh… yang seharusnya kita pilih??? Menurut hemat saya, seorang dekan itu harus memliki jiwa kepemimpinan yang baik dan dapat mendengarkan aspirasi-aspirasi dari masyarakat kampus(baik mahasiswa, dosen, karyawan2, de..el..el). Agar tidak salah pilih kita harus benar2 mencari seorang figur yang memiliki kharisma kepemimpinan, dapat memanajemen sturktur fungsional kampusnya, dan tidak hanya mengandalkan janji2 palsu belaka maupun omongan2 dalam mulutnya itu. Jadi kesimpulannya kita hendaknya memilih orang yang benar2 peduli dan tanggap terhadap lingkungan kampusnya(fakultas)serta orang tersebut memiliki kecakapan ataupun spesialisasi terhadap bidang yang digelutinya…..!!!!
    Nahh…,sekarang bagaimana dengan FKIP sendiri….???
    Saya berharap kedepannya FKIP lebih meningkatkan dan memajukan lingkungan civitas akademika yang lebih baik lagi. Lebih2 saya sebagai mahasiswa mengharapkan tindak lanjut yang nyata dari fakultas untuk dapat membangun sumber daya mahasiswa yang lebih mantap lagi…, serta pembangunan2 infrastruktur penunjang pendidikan bagi mahasiswa dan dosen lebih…lebih….lebih….diperhatikan lagi kedepannya…..
    SAYA TUNGGU….!!!!
    Wassalamualaikum…..

  22. By Nanny on Dec 20, 2006 | Reply

    Membaca tulisan bapak tentang “Dekan FKIP Unggul” sekilas mencerminkan betapa begitu mengidam-idamkan sesosok Dekan yang unggul untuk menjadi panutan (suritauladan) atau pemimpin yang baik bagi insan kampus, dunia intelektual. Idealnya, seorang Dekan harus Doktor, menampakkan karya nyata dan mempunyai tingkat lobi yang cukup luas. jika seperti itu, Insya Allah… FKIP UNLAM, ya, akan maju!!! tapi juga perlu di perhatikan, selain keunggulan Dekan dan para dosen yang ingin di majukan para sisiwa(mahasiswanya)juga perlu di soroti apakah mereka mau di ajak kerja sama dlam artian di ajak untuk maju. Maju di sini sebut saja yang simpelnya adalah dengan cara belajar. Contoh konkritnya saja, dari hal yang kecil yaitu “membaca”. Sementara kegiatan membaca di kalangan mahasiswa kurang di gemari di karenakan budaya malas (koler) istilah urang Banjar menyebutnya. Hal demikian di sebabkan kemungkinan besar karena faktor kurang terbiasa. Jika sudah terbiasa lama kelamaan akan menjadi kebiasaan. Kalo boleh jujur, ini jujur lho!!! saya juga termasuk orang yang malas mmbaca. Tetapi setidaknya saya dalam sehari menyempatkan diri untuk membaca, yach… ada usaha membudayakan budaya membaca he..he.
    Bagaimana mau memajukan FKIP UNLAM denga budaya diskusi sementara minat membaca masih kurang. Boro-boro membaca apalagi menulis (karya tulis ilmiah) sedikit sekali mahasiswa yang berminat atau berkecimpung dalam karya tulis ilmiah. Memang benar, Fakultas atau Universitas besar seperti UI dan UGM mereka di pimpin Doktor-doktor dan terbukti maju. Karena memang selain itu mahasiswanya juga pinter-pinter (cerdas) punya minat membaca yang bagus, sehingga mudah di ajak kerja sama dalam usaha memajukan Fakultas. Tanpa di suruhpun mereka sudah belajar di rumah. Tentunya sudah banyak buku yang di beli sebagai penunjang ilmu bacaan. Yaaah…mudah-muahan saja pemilihan Dekan FKIP nantinya seperti yang di idam-idamkan atau di impi-impi kan, smoga saja. Amiiiiiiiiiin!!!!!!

  23. By helgeduelbek on Jan 23, 2007 | Reply

    Wah selama ini emangnya gimana bang dekan FKIP Unlam apakah kriteria2 unggul belum terpenuhi? Maklum saya sendiri bukan lulusan Unlam dan tidak tahu perkembangannya.

    BTW yang kasih komentar di blog ini mahasiswa unlam yah? Kok pada gak nyantumin url weblog sih? pada belum punya blog yah, bikin dong… Kalau di wordpress.com saya ada panduannya berbahasa Indonesia tuh. Nih Linknya .
    Sori bang numpang promosi.

Post a Comment