Pendidikan Bohong

31 October 2006 | Ditulis oleh: |

Hasniate, sebut saja begitu nama bocah rekaan kita, memakai jurus menangis agar diikutkan ibunya ke pasar. Ketika Si Ibu mengatakan tidak boleh karena hari panas dan berbagai alasan lainnya, Hasiate bukannya mengurangi tangisnya, tetapi semakin menjadi-jadi. Kalang kabutlah seisi rumah membujuk, namun dia tetap pada pendirian, menangis dan terus menangis. Bahkan, lebih keras lagi pertanda dia tetap ingin ikut ke pasar.Apa boleh buat, Si Ibu terpaksa membatalkan rencana ke pasar. Dengan penuh kasih sayang mengendong Hasniate, mengajaknya bermain dengan anggota keluarga lain. Hasniate sangat gembira karena tidak jadi ditingalkan ibunya. Tetapi, Saudara, ternyata itu hanya akal-akalan Si Ibu. Begitu Hasniate asyik bermain, diam-diam ke belakang rumah dan … cur … meluncur ke pasar.
 
Begitu Hasniate teringat ibunya, mencari ke segala penjuru rumah, dan ketika tidak menemui ibunya, menangislah dia sejadi-jadinya. Kakek, nenek, kakak, dan bapaknya tidak mampu meredakan tangis anak manis yang luar biasa kerasnya itu. Jangankan membujuk, siapa saja yang mendekati ditimbuk dengan benda-benda di dekatnya. Hasniate kecewa berat.
 
Mungkin, bagi Si Ibu perilaku sedemikian dianggap hal biasa-biasa saja. Dalam telaah pendidikan tentu lain halnya. Betapa tidak, Si Ibu, sadar atau tidak, bermaksud jelek atau bukan, pasti sudah telah melakukan praktek bohong, membohongi anak kesayangan. Pura-pura tidak jadi ke pasar, tetapi begitu anaknya asyik bermain, pergi diam-diam.
 
Kalau dari kecil hal-hal sedemikian sering dialami anak-anak bukan tidak mungkin secara pelan-pelan tapi pasti, Si Ibu telah menanamkan sikap bohong dengan sukses. Bohong dan membohongi sejatinya ‘tabu’ dalam pendidikan. Lebih parah lagi, dapat menanamkan sikap tidak percaya terhadap ibu. Tidak jarang akhirnya ditemui anak-anak yang berangkat remaja, remaja, menjadi dewasa, dengan entengnya menjadi pembohong. Siapa dulu gurunya? Siapa dulu yang menanamkan sifat dan sikap bohong sejak kecil?

Lewat Jendela
Pada contoh yang lain, apalagi kalau laki-laki, ada saja remaja yang ‘kreatif’. Boleh saja orang tua melarang ke luar malam, silahkan saja. Tetapi, apa yang terjadi? Begitu seisi rumah asyik menonton TV atau berdiskusi, diam-diam dia ke luar rumah. Tengah malam, ketika seisi rumah sudah tidur, baru pulang. Kalau semua jalan masuk terkunci, lompat pagar, membuka jendela kamar yang memang sejak berangkat sengaja tidak dikunci, lalu masuk kamar. Tidur dur dur pulas. Dalam film-film sering kita dipertotonkan dengan bantal yang diselemuti sehingga ketika di cek terlihat seolah-olah anak tertidur lelap.
 
Ada orang tua yang tidak sadar ‘ditipu’ bertahun-tahun oleh anaknya. Dia menganggap anaknya biazza-biazza sazzza, padahal … telah mempraktekkan dengan sangat baik modus bohong sebagaimana ‘diajarkan’ kepadanya sejak kecil. Dari bacaan, remaja yang terjerat minuman keras sampai narkoba, terketahui setelah berurusan dengan polisi. Mudah-mudahan saya dan pembaca tulisan saya tidak mendapat dera sedemikian. Amin.
 
Bibit bohong, bukan tidak mungkin semakin disempurnakan di sekolah dan dalam pergaulan sosial. Misalnya, seorang anak yang mencret karena memakan es buah, karena itu dia terlambat, tidak dipercayai gurunya. “Ah, bohong. Akal-akalan kamu saja”, kata gurunya dengan ketus. Padahal, si anak betul-betul mencret karena memakan es buah basi.
 
Coba, ketika berkata jujur justeru dikatakan berbohong. Mendingan berbohong sekalian, he … he … Kalu jujur kena hukum, mana tahu bohong malahan selamat. Banyak praktek-praktek serupa yang berlaku di masyarakat dimana kalau jujur malahan menjadi masalah. Silahkan dicermati.

Biar Saja Menangis
Pada kasus contoh Hasniate sebaiknya biarkan saja dia menangis. Si Ibu tetap tegar ke pasar tanpa membolehkan dia ikut. Pada kali pertama mungkin akan menangis satu jam, sampai energinya habis dan tertidur. Kali kedua akan berkurang 10 menit dengan memberi pemahaman ibu harus ke pasar untuk membeli keperluan keluarga, untuk makan seisi rumah. Akhirnya dia akan paham, Ibu harus ke pasar untuk berbelanja keprluan keluarga sehari-hari.
 
Itulah mendidik. Memberikan pemahaman bagaimanapun pahitnya. Kalau sudah demikian, jangankan untuk dia sendiri, ketika berkeluarga dan mempunyai anak, hal sedemkian akan dilakukan. Memberi pemahaman ibu harus ke pasar, bapak harus bekerja agar mendapatkan rezeki untuk menghidupi keluarga sangatlah edukatif ditanamkan sejak dini.
 
Yang perlu ditandaskan, sedari masa kanak-kanak adalah masa peniruan tersebab kemampuan berpikir anak belum terlalu berkembang. Kemampuan dasarnya lebih banyak menyerap apa yang didapat dari lingkungan keluarga. Karena itu, dalam pendidikan anak-anak harus sangat cermat apalagi di masa pembentukkan wataknya.
 
Kitapun jangan alpa memahami kebutuhan anak-anak. Sepanjang hari dia dituntut belajar keras. Masyak sih sekali seminggu, malam Minggu tidak diizinkan bermain-main, bersenda gurau, atau sekedar mejeng? Yang penting waktunya di atur hingga tidak menganggu tugas pokoknya sebagai pelajar. Siapapun orangnya, sangat memerlukan bersitirahat, bersenang-senang, dan atau bersosialisasi. Tidak percaya? Baca buku-buku teks pendidikan. Orang tua bertugas mengarahkan bukan melarang atau membohongi.
 
Ingat, apabila kita ‘mengajari’ bohong dan berbohong, hal tersebut akan tersimpan di memorinya. Memori anak-anak begitu ‘bersih’ dan sangat terbuka menerima masukan dari luar. Nah, kita harus hati-hati ‘mengisinya’. Hindarilah pendidikan bohong.
 
SIM SMP
Suatu kali seorang teman mendiskusikan perihal bagaimana menyikapi kasus siswa SMP yang memakai kendaraan ke sekolah (kalau ini pengalaman pribadi). Sang teman sangat prihatin. Apa masalahnya?
 
Anaknya sekolah di sekolah favorit di kota kami (anak saya satu sekolah dengan anaknya). Banyak siswa yang bersepeda motor. Berbagai alasan tentu dapat dijadikan ‘pembenar’. Misalnya, anak menolak diantar bapaknya memakai mobil dinas, malu kepada teman-teman (siswa hebat, mampu membedakan mana fasilitas negara mana fasilitas keluarga, orang tua malahan ada yang tidak paham lho), tidak ada jalur kendaraan umum, dan seterusnya. Kalau banyak siswa-siswa bersepeda motor, anak kita tidak diobolehkan, wah bisa berakibat MC, rendah diri dan seterusnya.
 
Sungguh, ini masalah pelit. Membiarkan (bukan mengizinkan) anak SMP (SMA) bersepeda motor, jelas tidak dapat dibenarkan secara hukum, apalagi dalam konteks pendidikan kesadaran hukum. Apapun alasannya. Lalu bagaimana dong? Terserah polisi saja, itu tugas mereka memang. Kalau SMP-SMA di razia, pasti deh pelanggaran SIM luar biasa banyaknya.
 
Satu hal yang tidak bisa ditawar, jangan bohong. Kepada anak-anak harus diberi pemahaman: “Kamu menyalahi aturan, belum cukup umur dan bla-bla-bla. Kalau tetap bersepeda motor harus siap menerima sanksi. Kalau ditangkap polisi, jangan coba-coba lari”. Persoalan tentu tidak berhenti sampai disitu.
 
Dalam kaca pandang pendidikan, bagaimanapun membiarkan yang belum cukup umur bersepeda motor, pasti salah, melanggar aturan. Tetapi, selalu saja ada argumen. Kalau dilarang bisa berdampak pada perkembangan pergaulannya. Sebagai hiburan orang yang bersalah, yah menasehati selengkapnya, tidak boleh ngebut, tidak … dan tidak lainnya. Satu-satunya cara, polisi harus merazia tanpa pandang bulu. Kenapa sampai pada kesimpulan demikian?
 
Kalau mau jujur, orang tua dan sekolah sudah tidak mampu menegakkan hukum, dalam hal ini UU lalu lintas. Kalau polisi membiarkan, sangat tidak konstruktif. Kalau sudah sejak remaja dibiarkan melanggar aturan, bagaimana kalau dewasa, bagaimana kalau menjadi pemegang kebijakan? Kalau melanggar aturan sudah ‘dibiarkan’ sejak kecil, apakah tidak akan menjadi budaya benaran?
 
Dari situ muncul ide, kiranya perlu aturan memperoleh SIM diberikan lebih ‘bersahabat’, misalnya dengan umur minimal 12 tahun. Anak-anak sekarang umur segitu sudah sangat lihai berkendara, bahkan ada yang sudah bisa menyetir mobil. Siapapun yang membolehkan anaknya mengendara sepeda motor tanpa SIM pastilah bersalah.
 
Sebagai hiburan, satu-satunya pegangan, jangan berbohong pada anak. Ini pekerjaan salah dan harus siap dengan resiko. Yah, sekedar menghibur diri bagi orang yang bersalah. Yang ingin saya tegaskan, bagaimanapun peliknya kondisi yang dihadapi, berusahalah jangan bohong. Sekalipun bersalah, tidak berbohong hukumnya tentu lebih ringan, he … he …
 
Akhirnya, mari bersama-sama mempraktekan lebih keras mendidik anak-anak kita agar tidak suka bohong. Insya Allah, ketika mereka dewasa nantinya, apalagi menjadi pejabat atau tokoh penting, tidak terbiasa bohong. Berbohong itu gampang. Hanya saja untuk menutupi kebohongan diperlukan bohong lebih besar. Kalau begitu adanya, waktu, energi, dan kesempatan bisa-bisa habis untuk mengatasinya. Ibarat mengatasi derita asap, kalau sudah rumit begini, susah. Akhirnya hujanlah yang dapat menyelesaikannya.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
 Ersis Warmansyah Abbas dosen FKIP Unlam, website: www.blogersis.com, www.unlamview.com, www.urangbanjar.com.

 

  1. 2 Responses to “Pendidikan Bohong”

  2. By R.A on Dec 6, 2006 | Reply

    Sebaiknya pendidikan bohong jangan diterapkan pada anak sejak usia dini.

  3. By A.N on Dec 6, 2006 | Reply

    Bohong merupakan makanan seharihari bagi orang pada umumnya, sehingga kita sulit untuk mengatasi hal tersebut, kebanyakan orang berfikir bahwa bohong untuk kebaikan tidak apa-apa, tapi lama kelamaan bohong tersebut membesar dan tak dapat luntur dari kebudayaan kita sendiri,
    dalam pendidikan, bohong dapat menjadi akar masalah yang menjadi pernghambat pendidikan dan akan berkenmbang luas menjadi kendala yang serius yang menjadi sebuah tantangan bagi lingkungan yang majemuk dan banyak mengalami perubahan ke arah negatif.

Post a Comment