Pendidikan Takut

29 October 2006 | Ditulis oleh: |

Ketika seorang anak berusia empat tahun mau ikut temannya bermain-main di pinggir jalan, ibunya melarang: “Jangan. Ada polisi”. Pada lain kesempatan ibunya melarang dengan mengatakan: “Lihat tu ada tentara”. Sebagai anak yang ‘baik’ tentu saja dia tidak membantah larangan ibunya sekalipun tidak senang dengan larangan tersebut. Sayang dia belum bisa protes apalagi berargumen. Paling memakai bahasa universal bocah, menangis.Sampeyan bayangkan, sedari bocah anak-anak telah ‘dididik’ takut kepada polisi atau tentara. Banyak orang tua lupa, polisi dan tentara hakekatnya bukan untuk ditakuti tetapi sebaliknya sebagai pemberi rasa aman, sebagai pelindung. Betul-betul tindakan konyol yang secara tidak sadar menanamkan imej negatif. Aparat negara yang seharusnya menjadi sahabat dan pelindung diemejkan sebagai yang menakutkan dan … alat untuk menakut-nakuti.

Pada perjalanan kehidupan, si anak dipasok pula dengan cerita-cerita seram tentang polisi. Misalnya, di masyarakat bergulir guyonan tak sedap, kalau di kampung ada pencuri ayam tertangkap, tidak usah melapor ke polisi. Apa pasal? Kalau melapor dan ditangani polisi, bisa-bisa kehilangan polisi eh … maksudnya kambing. Artinya, kalau dilaporkan bisa jadi kerugian lebih besar akan didapat.

Akibatnya, kalau ada permalingan atau pelanggaran aturan, masyarakat cenderung main hakim sendiri. Setelah puas melampiaskan kekesalan baru melaporkannya. Tidak jarang ‘maling kecil’ menemui ajalnya dihajar masa. Kalau sudah begini bagaimana kita mau menegakkan supremasi hukum. Main hakim sendiri dijadikan jalan pintas memuaskan ‘penegakkan hukum’.

Para orang tua dan juga masyarakat pada umumnya lupa, seharusnya sejak kecil anak-anak dididik menghormati aparat penegak hukum, bukan dijadikan alat untuk menakut-nakuti. Bukan tidak mungkin, rusaknya citra aparat tersebab keteledoran dalam mendidik. Bahwa ada polisi nakal, benar saja adanya. Tetapi, bukan sedikit aparat yang baik. Saya banyak berteman dengan aparat yang baik.

Gelap dan Hantu
Pada contoh setara lainnya kita sering lupa, mana yang mendidik mana yang anti pendidikan. Dalam kehidupan sehari-hari jarang yang memikirkannya secara mendalam. Tindakan pendidikan sebagaimana dipahami dan dilakukan selama ini dianggap paling benar tanpa mau melakukan introspeksi, dilakukan sebagai taken for granted.

Pada contoh kasus di atas seharusnya sedari dini anak-anak dipasok pemahaman, bermain-main di pinggir jalan bisa menganggu kelancaran lalu lintas atau malahan tertabrak. Bisa mencelakan diri sendiri atau orang lain. Nah, apa kaitan edukatifnya dengan takut kepada polisi?

Pada contoh praktek lain sama dengan ketika kepala anak terantuk pintu. Agar berhenti menangisnya karena kesakitan, orang tua memukul pintu yang ‘nakal’, bukan memberi penyadaran kalau ke luar masuk harus hati-hati. Kalau tidak, ya itu tadi, jidat bisa bengkak dan berdarah karena salah sendiri. Lucu, kog pintu yang nakal dan dipukul. Akibatnya anak-anak tidak dididik menyadari kesalahannya. Kalau Sampeyan sedemikian sadarilah, tindakan tersebut konyol dan sangat tidak edukatif.

Begitu juga ketika anak-anak mau bermain malam hari. Katakan dan beri pengertian agar dia paham, malam bukanlah waktu yang baik untuk bermain. Tidak usah menakut-nakuti kalau gelap ada hantu. Apa sih hantu itu? Bukankah Allah SWT berfirman, makhluk itu dibagi dua kategori, bisa dilihat dan tidak bisa dilihat, kasat mata dan tidak kasat mata. Nah, kalau hantu tidak bisa dilihat, kenapa anak-anak ditakuti dengan hantu. Yang bisa melihat makhluk gaib kan orang tertentu saja.

Renungkan, kalau hal sedemikian dilakukan, secara tidak sadar menanamkan kesalahan aqidah. Akibatnya anak-anak takut gelap dan takut hantu. Kalau malam, kalau gelap ya pakai senter atau penerangan lain. Esensinya, bermain malam tidak baik, ya sadarkan saja. Tidak usah menakuti pakai hantu segala macam. Emang anak-anak mengerti konsep hantu? Wong Sampeyan saja bisa tidak paham, he … he …
Terbakar Api

Menurut saya, tidak usahlah teralu melarang-larang, suka melarang-larang, apalagi menakuti-menakuti. Ketika si kecil bermain lilin setelah dia ulang tahun, ya biarkan saja. Tetapi harus diingatkan jangan sampai tersentuh apinya. Hidupkan korek dengan benar kemudian nyalakan lilin.

Kalau dilarang. Anak-anak akan pensaran, kenapa kog dilarang. Bisa jadi ketika tidak ada Sampeyan, batang lilin dipegangnya, lalu apinya. Kalaupun itu terjadi, jangan marahi. Kalau ulah sendiri, seketika dia akan kaget kesakitan, dan akan … menagis. Biar saja asal tidak fatal. Kalau disuruh ulang pasti dia kapok.

Maksud saya, disamping diberi pemahaman, anak-anak perlu pengalaman nyata agar lebih paham, mana tindakan yang benar mana yang salah, yang merugikan diri sendiri. Kalau sudah mengerti, tanpa dilarang dia akan paham, dan tidak akan mau mencoba-coba lagi. Artinya, sebagai orang tua kita jangan terlalu royal melarang, apalagi menakuti. Harus pandai-pandai memilah mana cara edukatif mana yang mematikan keingintahuannya.

Ringkasnya, berhati-hatilah menakut-nakuti anak-anak. Usahakan hal tersebut jangan dilakukan, minimal hindari. Ingat, kalau sering menakut-nakuti anak jadi takut melakukan banyak hal, akan jadi manusia penakut. Akibat lanjutannya, dia akan memotong keingintahuan dan keeatvitasnya. Terus, kita akan ‘melahirkan’ generasi yang tidak berani berinisiatif, miskin kreatifitas, selalu meminta petunjuk dan maunya memakai jalan pintas.

Percaya atau tidak, itu urusan Sampeyan. Menakut-nakuti anak-anak sungguh perbuatan keji. Yang benar memberi pemahaman dan penyadaran. Jangan sampai generasi ke depan adalah generasi penakut akibat pendidikan takut dan menakut-nakuti.

Bagaimana menurut Sampeyan?

Ersis Warmansyah Abbas dosen FKIP Unlam, website: www.blogersis.com, www.unlamview.com, www.urangbanjar.com.

  1. 2 Responses to “Pendidikan Takut”

  2. By Noor Izzatil. M on Dec 5, 2006 | Reply

    PENDIDIKAN TAKUT
    Menurut pendapat saya pendidikan takut tersebut merupakan suatu budaya masyarakat. Anak-anak memang diajarkan untuk trakut pada sesuatu. Hal tersebut dikarenakan orang tua tidak mengerti apa yang akan terjadi apabila anak ditakut-takuti dengan hal semacam itu. orang tua hanya berpikir bagaimana caranya agar si anak tidak melakukan hal yang akan membahayakan dirinya. Intinya orang tua tersebut sayang pada sang anak, tetapi mereka tidak memahami arti pendidikan yang baik buat anak, karena mereka juga diajarkan oleh orang tua mereka yang terdahulu seperti itu. Jadi hal tersebut merupakan suatu kebudayaan yang turun temurun yang diajarkan kepada sang anak.
    Sebelum membaca artikel ini saya juga sering melakukan hal yang demikian terhadap keponakan saya. karne saya sejak kecil jaga diajarkan hal yang demikian. Dengan membaca artikel ini saya jadi mengerti apa akibat dari perkataan yang bisa dianggap mengada-ngada untuk menghentikan tangisan anak kecil.

  3. By Wenny handayani on Dec 5, 2006 | Reply

    PENDIDIKAN TAKUT
    Mulai kecil pendidikan yang salah memang telah mejadi suatu hal yang tidak asing lagi. Meski hal tersebut bukanlah suatu hal yang baik untuk anak tetapi bagi orang tua asalkan anak dapat mematuhi perintah orang tua baginya tidak menjadi masalah. Apalagi anak kecil tidak dapat mengajukan pemberontakan terhadap orang tua, dikarenakan mereka sendiri tidak mengetahui kebenaran atas kebohongan orang tuanya. kebohongan ini telah mendarah daging dan turun temurun akan selalu ada dalam masyarakat selama masyarakat (orang tua) tidak mengerti bagaimana dampak yang terjadi pada si anak kedepannya nanti. artikel ini merupakan suatu tambahan pengetahuan bagi diri aku, agar kelak nantinya aku jika menjadi orang tua tidak menanamkan pendidikan yang salah terhadap anak ku nantinya seperti yang telah terjadi pada diriku sebelumnya.

Post a Comment