Pendidikan Curang
29 October 2006 | Ditulis oleh:Sekalipun ada gegap gempita polemik ujian nasional (UN) 2006, apakah UN penting atau tidak, Depdiknas sebagai pemegang otoritas pendidikan nasional tetap melaksanakan UN. Setelah dilaksanakan, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagai pelaksana, dengan bangga berkesimpulan, mutu pendidikan meningkat. Sebab, lebih 90% peserta UN berhasil.Kelusan 90% peserta ujian di suatu negara, sebenarnya patut diacungi jempol. Sekalipun ‘ribut-ribut’ prihal siswa yang gagal UN bergulir sampai ke DPR RI lengkap dengan demo segala macam, disolusii dengan cara sangat ‘enteng’, mereka bisa menempuh ujian Paket C. Padahal, Paket C adalah ‘kapling’ bagi mereka yang tidak menempuh pendidikan formal. Di Indonesia, memang banyak kasus diatasi dengan jalan pintas. Kata orang, penyelesaian ala Indonesia.
Lebih hebat lagi, mereka yang tidak lulus UN bisa saja diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) asal nantinya setelah lulus ujian Paket C menyerahkan persyaratan. Eloknya PTN juga ho oh saja. Diterima dulu syarat kelulusan menyusul. Suatu kebijakan yang susah diterima akal sehat dalam arti melangkahi aturan-aturan dasar manajemen pendidikan. Terkesan penanganan pendidikan bak senda gurau belaka.
Tulisan berikut tidak berfokus UN atau sepak terjang BNSP. Biarlah hal tersebut menjadi ingatan kolektif kita. Syukur kalau ada yang mempertanyakan di pikiran masing-masing, ada something wrong dalam penanganan pendidikan nasional. Kelulusan UN lebih 90%, secara ‘legal’ ala Depdiknas dan BNSP, mungkin ya. Tetapi, dari fakta lapangan ada cerita lain.
Guru Ujian
Selepas UN 2006 tersiar berita (fakta?), bukan siswa saja peserta UN dalam pengertian mengerjakan soal-soal, namun konon, guru juga ada yang berpartisipasi dengan baik. Pada kadar lebih memprihatinkan, malahan ada Kepala Daerah dan Dinas Pendidikan mengintruksikan, bagaimana caranyalah agar peserta UN lulus 100%.
Eloknya, guru-guru yang bernuari tebal, beridealisme tinggi, dan takut dosa, membongkar hal yang tidak pada tempatnya tersebut. Setelah ribut-ribut sesaat, penyelesaian ala Indonsianyalah akhirnya yang ‘memutuskan’, hilang sendiri di telan waktu. Tidak ada yang bersalah, tidak ada yang dikenakan sanksi. Kedatangan mereka ke DPR RI yang disiarkan gegap gempita media cetak dan elektronik akhirnya hilang begitu saja. Wong walau dikategorikan bangsa korup, toh satu dua saja yang terpidana korupsi. Apalagi kalau guru-guru hanya ‘membantu’ siswa.
Karena saya gurunya guru, dosen pada satu LPTK di daerah mencoba mencari tahu, apa sebenarnya yang terjadi. Kog bisa-bisanya sekolah-sekolah yang dalam pengertian umum lingkungan biasa-biasa saja, mampu meluluskan hampir 100% siswa-siswanya, mengalahkan sekolah-sekolah yang menurut masyarakat termasuk sekolah favorit.
Rupanya, memang ada praktek guru ‘membantu’ siswa. Bahkan, konon praktek tersebut bukan barang baru. Hal rutin saja. Kalau ceritanya demikian, sungguh ‘dosa besar’ telah dilakukan dengan sengaja. Saya meneror mantan mahasiswa saya: “Orang pertama masuk neraka adalah kamu, curang dalam praktek pendidian”. Saya tidak peduli, apakah dia melakukan atau tidak, tetapi setidaknya telah mengigatkan. Ketika dia mau pulang saya tabalkan: “Selamat bertobat”.
Saudara-saudara sekalian. Kalau untuk ujian saja dipraktekkan curang, bagaimana lainnya. Jangan-jangan, mereka yang bermental tebal korup saat ini produk dari pendidikan curang. Untuk lulus jenjang pendidikan saja melalui cara curang, wajar ketika diberi amanah memegang kendali menjalankan sesuatu, bisa jadi, kecurangan dipahami sebagai hal biasa saja.
Jangan-jangan semasa mahasiswa ketika tugas membuat makalah, skripsi, dan seterusnya menyuruh orang lain, alias diupahkan. Tidak sedikit lulusan PT yang tidak punya kemampuan, tidak punya kompetensi setara. Bayangkan kepada orang-orang berprilaku sedemikian jabatan strategis dipercayakan. Keteledoran yang susah diampuni. Harap diingat, ada yang dengan santainya ‘membeli’ gelar, dari sarjana, doktor, bahkan profesor. Fenomena apa ini?
Kalau demikian kisahnya, kalau pendidikan curang dimulai dari sekolah, dari rumah pendidikan, kita bisa memahami praktek curang di segala lini kehidupan yang merajalela dalam praktek. Kalau bangsa ini mau baik, menegakkan moral, menghargai perjuangan, memperhatikan usaha keras, dan memberantas korupsi, perbaikan haruslah dimulai dari dunia pendidikan, dari rumah pendidikan. Pecat guru-guru curang. Kalau berani tentunya, he … he …
Guru Menyontek
Suatu kali, di suatu kota, atas inisiatif beberapa kawan dan dirancang oleh lembaga yang punya otoritas pendidikan, saya diikutkan melakukan uji kompetensi kepala sekolah dan guru-guru. Sungguh kaget ketika ada yang bilang, ada guru dan kepala sekolah yang menyontek. Kalau betul-betul terjadi, sungguh keterlaluan dan terkutuk. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan mau bertobat dengan tidak melakukan kecurangan lagi. Tetapi, bagaimana dalam pandangan obyektivitas kependidikan?
Sebagai guru, kalau mengadakan ujian, saya lebih cenderung take home atau open book. Kenapa? Jujur saja, suatu kali mendapati mahasiswa curang dengan menyontek. Saya panggil dia dan bicara dari hati ke hati. Sungguh mengagetkan, katanya dari SD kebiasaan tersebut sudah dipraktekan. Bayangkan.
Sebagai pendidik ini menjadi ‘lampu merah’. Sampai-sampai dalam perkuliahan saya anjurkan tidak usah catat-mencatat, baca buku saja. Di kelas kita sharing, diskusi, dan berusaha saling memberi agar memahami. Kalau mencatat nanti dibuat ringkasan kecil-kecil, di lipat, disembunyikan di saku, di sela-sela paha atau BH, begitu dosen pengawas lengah, disontek. Harap diingat, perkulihaan bukan sekedar menghapal materi tetapi untuk mengerti dan memahami.
Bukan hendak sombong, sebagai dosen dan wartawan, saya tidak pernah membawa pulpen atau buku catatan. Bapak saya dari kecil mengajarkan pakai otak saja untuk menyimpan pengetahuan, dan … jangan sekali-kali menghapal, berusahalah memahami sesuatu. Untuk soal catat mencatat dan membawa pulpen, Sampeyan bisa buktikan sendiri. Hasil wawancara dan bacaan saya tulis di banyak media dan dijadikan buku. Entah nanti kalau umur semakin menua.
Yang ingin saya tegaskan, agar pendidikan curang secara sadar atau tidak jangan terpraktek, sedari awal peserta didik jangan sekali-kali dilatih menghapal, tetapi mengerti dan memahami. Kalau menghapal cenderung lupa tetapi mengerti dan memahami akan tersimpan dengan baik di memori. Semakin banyak menghapal semangkin banyak lupa. Percayalah.
Sebenarnya, kalau kurikulum berbasis kompetensi (KBK), kini KTSP, diparktekkan dengan benar, peserta didik dilatih untuk mengerti dan memahami. Tinggal bagaimana guru membuat formulasi yang tepat dalam praktek pendidikan. Kurikulumnya sudah sangat bagus tinggal bagaimana guru mempraktekkan, the man behind the gun.
Insya Allah, kalau pendidikan kecurangan, terutama di keluarga, sekolah, dan masyarakat diminimalilisir, keluhan-keluhan kebangsaan kita dalam praktek kehidupan, baik pribadi maupun berbangsa akan lebih baik. Perbaikan nasional, kemajuan bangsa dan negara, akan lebih mudah diraih. Kita kan teriak-teriak, prihatin, pejabat berbuih-buih mulutnya, pendidikan itu penting, peningkatan SDM adalah garansi kemajuan bangsa. Tapi, apa?
Kalau bicara soal anggaran majunya merambat pelan-pelan dan kurang pasti. Menuntut guru yang kompeten, padahal gajinya kecil, fasilitas pendidikan tidak keru-keruan, pendidikan di atur mereka yang tidak mengerti pendidikan. Keterlalun, kalau mereka yang menangani pendidikan, proyek-proyek pendidikan tega-teganya mencari kaya dari pendidikan (mudah-mudahn tidak, he … heh …). Katanya dana pendidkan meprihatinkan, tapi ada yang bergelimang harta karena dikurniahi jabatan dan proyek pedidikan. Auzubillah Min Zaliq.
Mari kita berdoa, ke depan jangan lagi kecuranagn mengungkung dunia pendidikan. Pendidikan pada hakekatnya adalah menanamkan sikap luhur dalam membentuk manusia idaman, manusia baik. Bukan manusia curang. Mari hapuskan pendidikan curang, mulai dari sekolah.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Ersis Warmansyah Abbas dosen FKIP Unlam, website: www.blogersis.com, www.unlamview.com, www.urangbanjar.com.










62 Responses to “Pendidikan Curang”
By Ridhani Rahima Utami. on Nov 6, 2006 | Reply
saya sependapat dengan penyataan bahwa pendidikan sekarang kebanyakan berupa pendidikan curang. hal ini akan malah memperkuat budaya KKN yang ada di indonesia, bagaimana dapat memberantas KKN bahwa kenyataanya dalam dunia pendidikan sendiri telah berakar kebudayaan tersebut. dan justru ini malah memperbodoh rakyat Indonesia. Bagaimana indonesia bisa maju dalm kenyataan dunia pendidikan saja telah berkembnag kebudayaan “Curang”. Saya pernah mendengar tentang satu sekolah di banjarbaru, di sekolah tersebut juga ada anak pejabat yang akan menghadapi UN. Oleh guru-guru setempat, murid tersebut mendapat perlakuan istimewa karena mungkin saja guru-guru tersebut telah menerima “suap” dari sang pejabat agar meluluskan anaknya. Dan ternyata ketika UN dijalankan, anak tersebut mendapat bocoran soal/dibiarkan menyontek dengan temanya berbeda dengan murid-murid yang lain. padahal anak tersebut tergolong biasa-biasa saja dan hasilnya anak tersebut berhasil lulus 100% dengan hasil yang luar biasa. Sungguh diluar dugaan, bahwa begitu sajakah sikap para guru menghadapi “murid istimewa” tersebut. kalau sudah begini, buat apa UN dijalankan dengan menetapkan standar nilai, kalau kenyataanya semakin tinggi standar nilai yamg ditetapkan semakin banyak kecurangan yang dilakuan oleh para guru untuk meluluskan siswanya atau justru hanya untuk mendapatkan “suap” dari oknum-oknum yang berkuasa. dan hasilnya siswa-siswa yang lulus tersebut justru adalah orang-orang bodoh yang tidak menggunakan otaknya dan akan memperbodoh lagi bangsa Indonesia.
By HELMA NOVIEANTY A1A105007 on Nov 6, 2006 | Reply
Menurut pendapat saya,saya tidak setuju dengan adanya sistem “guru curang” karena sama saja dengan pembodohan terhadap anak murid nya,jadi untuk apa seorang guru capek-capek mengajar ke sekolah tiap hari kalau dalam kenyataan pada waktu UN guru juga yang membantu siswa tersebut dalam menjawab soal-soal UN.apakah dalam hal ini tindakan guru-guru tersebut hanya untuk menjaga nama baik sekolah bahkan hanya untuk “gengsi” semata dengan sekolah lain maupun dengan sekolah di daerah lain,harus nya guru lebih bersikap jujur demi tujuan untuk mencapai kemajuan pendidikan di indonesia.Saya pernah mendengar salah satu sekolah di daerah,bahwa ketika UN dilangsungkan ada seorang guru yang memberi catatan berisi jawaban soal di sudut wc,dan tidak lama kemudian datang seorang siswa yang mengambil catatan tersebut,lalu menyebarkannya secara diam-diam di kelas,tanpa sepengetahuan pengawas UN,alangkah MEMALUKAN nya sikap perbuatan guru tersebut,bahkan tindakan guru ini di setujui oleh pihak kepala sekolah.
By HARIZ ZAKY MUBARAK Sejarah 2005 (A1A105020) on Nov 10, 2006 | Reply
Menurut hemat Guwe sich setuju2 aja,karena kenyataannya sekarang pendidikan curang sudah menjadi penyakit akhlak yang belum ada obatnya,dan parahnya lagi sudah menjangkit
di semua jenjang pendidikan. Realitas inilah yang sepatutnya kita “TENDANG” jauh2,karena jika kita tetap bersikukuh mempertahankan,memelihara,dan menumbuhkembangkan sikap “KEBINATANGAN” ini niscaya kita tinggal menghitung waktu untuk menyambut hari “KEHANCURAN” di dunia pendidikan. Pendidikan yang penuh “INTRIK,KEMUNAFIKAN,KEPALSUAN, dan KEKURANGAJARAN”, kesemua eksplikasi ini di harapkan dapat menyadarkan kita untuk lepas dari “BELENGGU PEMBODOHAN” sistematis ini.
At Lass Guwe cuma bisa berharap agar pendidikan di Indonesia dapat lebih baik dari yang ada pada saat ini “KAN ORANG2 INDONESIA PINTER2″
(katanya segh)
Tahu benar tidaknya biarlah “TUHAN” yang tahu.
By TRIA SAKTI LIANTI SEJARAH 2005 (A1A105004) on Nov 11, 2006 | Reply
Menurut hemat saya, adanya pendidikan curang yang dilakukan oleh sebagian guru di saat ini dalam menghadapi UN sah-sah saja. Sekarang kan zaman serba praktis ngapain kok dibikin repot, tujuan sebagian besar murid yang paling utama dalam sekolah cuma pengen ngedapetin izajah, ga’ penting nilai yang tertera itu baek atau jelek yang penting kan “LULUS”. Lagi pula kan kita bisa cepat-cepat meninggalkan bangku sekolah and ngelanjutin ke jenjang berikutnya klo “HEPENG”nya ada. And lagi pula kan setidaknya klo sebuah sekolah bisa ngelulusin hampir atau semua muridnya dalam UN itu akan mendongkrak “POPULARITAS” sekolah tersebut.
Tapi segh saya berharap hal itu tidak menjadi suatu kebiasaan,mo jadi apa generasi penerus bangsa ini klo masalah pendidikannya aja sudah di “MANIPULASI” oleh tingkah laku guru-guru yang penuh “BELAS KASIHAN” tersebut, and semoga dunia pendidikan kita bisa lebih baek dari sekarang ini.
Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiien.
By NN on Nov 11, 2006 | Reply
Ga’ urus
By Taufik Rozana Rahman on Nov 12, 2006 | Reply
saya sependapat dengan apa yang bapak utarakan
sungguh suatu dilema
pendidikan curang ibaratnya sudah “mendarah daging” di negara ini
betapa tidak kebiasaan ini sudah bisa dilakukan oleh anak SD sekalipun
bayangkan bagaimana tidak berkualitasnya pendidikan kita saat ini
hal ini tentu menjadi pemikiran kita bersama
bagaimana cara kita mengatasi dilema seperti ini
tentu bukan pemerintah saja yang berusaha keras untuk mengatasi hal ini
“kita” juga perlu ikut serta
karena kita yang berada langsung di lingkungan pendidikan tersebut
semoga hal ini bisa teratasi walau itu sangatlah sulit
semoga…
amiiin ya rabbal alamin…
By DIAH EKA RINI SEJARAH 2005 (A1A105011) on Nov 13, 2006 | Reply
Menurut pendapat saya, “Pendidikan Curang” yang dilakukan guru pada saat UN adalah tindakan yang sah-sah saja selama tujuannya untuk membantu murid. Menurut saya tidak apa-apa, karena seperti yang kita tau bahwa sistem Ujian Negara di Indonesia ini sangat merugikan siswa, dari semua mata pelajaran hanya tiga yang menjadi prioritas utama. Padahal banyak siswa yang lebih menguasai mata pelajaran lain dari pada tiga mata pelajaran utama sehingga membuat kegagalankelulusan bagi siswa. jadi demi rasa “KEMANUSIAAN” wajar saja para guru membantu dalam UN agar siswa bisa lulus dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi guna mengejar cita-citanya…….. Walaupun “MEMBANTU” itu sama dengan “pendidikan curang”
By FAHRIAN HEFNI SEJARAH 2005 (A1A105046) on Nov 13, 2006 | Reply
Opini saya tentang pendidikan yang curang, sangat tidak wajar.
Wong jelas-jelas ada peraturan-peraturan yang sudah di tetapkan, masa seorang guru/pengajar semena-mena melanggar.
Misalnya pada UN, fakta berbicara bahwa seorang guru/pengajar malah ikut ngerjain soal,”kaleeeeeeeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!”.
Apa segh tujuan guru/pengajar itu??
Mungkin dia pengen jadi siswa lagi atau saking cinta and sayangnya kepada anak didiknya, mungkin bisa juga pengen meninggikan pamor di sekolahnya.
“Mana mungkin bisa maju pendidikan di negara kita ini wong jelas-jelas mutu pendidikan kita ini kurang di tingkatkan”.
Emang ini adalah suatu permasalahan yang sangat sulit mencari solusinya, karena kebudayaan contek-mencontek sudah mendarah daging di dalam sistem pendidikan di negara ini.
“Saya harap agar kita jangan saling menghitam-kambingkan sesama, tapi yang kita cari adalah cara atau solusi bagaimana mengurangi and menghilangkan kecurangan-kecurangan di dalam sistem pendidikan di negara kita ini”.
Ini adalh permasalahan kita bersama, jadi sepatutnya harus kita pikirkan bersama dengan harapan sistem pendidikan dinegara ini dapat menjadi lebih baik dari sekarang.
Mudah-mudahan ALLAH SWT memberikan jalan keluarnya.
amiennnnnnnnnnn ya robal alamiennnnnnnnnn.
By dwi setiowati A1A105027 Sejarah 2005 on Nov 13, 2006 | Reply
Ass…ogut sih setuju aja ama pendapat anda,saya sebagai salah satu alumni sekolah yang dianggap orang “terpandang” merasakan hal itu.teman-teman ogut yang ikut ujian susulan mendapatkan jawaban dari pengawas ujiannya N kebetulan banget pengawas ujiannya guru-guru ogut juge.sempet sih ada rasa kesel ama hal itu,tapi mau gimana lagi pandidikan curang udah jadi budaya sih.tapi ogut ga bisa munafik,tanpa adanya pendidikan curang teman-teman baik ogut ga lulus,but sebagai salah satu kandidat pendidik,ogut berharap pendidikan curang ini bisa dikurangi ato bahkan dihapuskan.agar orang-orang yang benar-benar memilki potensi bisa unjuk gigi.Hanya Allah yang tahu.Wassalam…
By MUHAMMAD AGUSTIANNUR 2005 (A1A105032) on Nov 13, 2006 | Reply
Saya sependapat dengan wacana ‘Pendidikan Curang ‘ yang diberikan. Tapi, tidak hanya kaum pendidik seperti ‘guru’ yang berlaku demikian. Karena pendidikan curang telah mengakar pada diri masyarakat. Kita tidak bisa menghilangkan atau menghapus pendidikan MANIPULASI karena kita juga merupakan hasil buah dari ” MANIPULASI ” ( MANI YANG MENGOVULASI )HE>>>>>>>>>
Kecurangan tidak hanya muncul sebagai akibat adanya ketidakpuasan tetapi, lebih condong karena adanya kesempatan! WASPADALAH WASPADALAH WASPADALAH !!!!!
Pendidikan diawali dengan kecurangan merupakan dosa yang paling subur, karena akan berlanjut terus menerus. Andaikata kita yakin pada diri sendiri “KITA BISA” tanpa melakukan kecurangan merupakan pahala yang dijanjikan dipetik di yaumil akhir nanti!!!!!!
Semoga setelah wacana pendidikan curang ini muncul, menjadi renungan bagi kita untuk kedepannya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! WASSSSALAM FKIP SEJARAH 2005.
By nuril najmi sejarah 2005(A1A105023) on Nov 13, 2006 | Reply
saya sebagai seorang mahasiswi pendidikan turut prihatin dengan adanya “pendidikan curang” dan berduka cita yang sedalam-dalamnya terhadap pndidikan di negeri ini yang sudah dikotori oleh pihak-pihak yang tidak bermoral.
seharusnya pendidikan dewasa ini berjalan sesuai dengan peraturan yang ada tetapi malah sebaliknya.
Menurut saya dalam hal ini pihak yang di rugikan adalah siwa yang belajar giat siang dan malam untuk mempersiapkan UN,sedangkan siswa yang dalam belajarnya santai dan cuek bebek dalam menghadapi UN bisa lulus 100%.
Semoga pihak-pihak yang terkait sadar bahwa pendidikan haruslah dihargai,semoga mereka menghargai perjuangan para siswa yang “tuhuk” belajar untuk kelulusan………..
By FAHRIAN HEFNI SEJARAH 2005 (A1A105046) on Nov 13, 2006 | Reply
Muhammad Hidayat, Pendidikan Sejarah 2005 (A1A105005)
Saya setuju dengan pendapat bapak tersebut, sebab apabila dilihat dari cara guru tersebut dalam menjawab suatu pertanyaan atau tes yang mereka jalani, bukan tidak mungkin akan menurun kepada murid mereka sendiri, diibaratkan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”
Padahal sebagai seorang guru harusnya mereka tidak menyontek saat menjawab soal-soal tes tersebut, guru tersebut harusnya didepak karena dapat mencemarkan nama baik sekolah dimana ia bernaung, itupun apabila hanya guru tersebut yang melakukan kecurangan, tetapi apabila dalam satu sekolah tersebut semua gurunya melakukan hal yang sama apalagi membantu siswa dalam Ujian Akhir Nasional waaah!!! lebih baik sekolahnya saja yang dibubarkan.
Sebenarnya ini harus kita lihat dari depdikbud yang membuat aturan dengan batasan 4,25 cukup memberatkan siswa, sehingga para guru rela membantu siswa tersebut agar lulus ujian, mungkin bagi siswayang menjalani ujian tersebut sangat bahagia sebab dibantu dalam UN, akan tetapi efeknya akan terlihat dikemudian hari dimana sumber daya manusia akan menjadi rendah karena terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Oleh karena itu ada baiknya kita bersama-sama untuk menghilangkan sistem pendidikan curang tersebut, kita jangan terlalu memikirkan siapa yang salah yang kita lakukan adalah bagaimana cara untuk menghilangkan pendidikan curang tersebut.
Mudah-mudahan dimasa yang akan datang indonesia menjadi lebih maju tanpa adanya sistem pendidikan curang tersebut. Amiin.
By Santy Dwi Pratiwi Sejarah '05' A1A105024 on Nov 13, 2006 | Reply
Saya agree bgt dgn tulisan Bapak. karena memang saat ini pendidikan kita penuh dengan kecurangan. hal ini terlihat jelas dalam kebiasaan mencontek yang dilakukan para siswa. apalagi setelah diberlakukannya standarisasi nilai Un, makin banyak siswa yang menyontek demi mencapai target yang diharapakan agar busa lulus. bahkan gurujuga ikut membantu siswanya memberikan jawaban. hal ini malah membuatsiswa menjadi bodoh. itu sebabnya pendidikan tidak dapat berkembang dengan baik. sbg calon pendidik saya berusaha menjadi guru yang dapat menjadi panutan yang baik dan memberikan ilmu pengetahuan kepada siswanya. Cie (I Hope :p) mengutip slogan kontes kecantikan, kt hrs mjd org yg memiliki 2B 1H Brain, beauty, honest. semoga sajalah pendidikan kita menjadi lebih baik dan tidak ada kecurangan lagi, Amin. I think that’s all. Take care God Bless.
By Muhammad Hidayat (A1A105005) on Nov 13, 2006 | Reply
Muhammad Hidayat, Pendidikan Sejarah 2005 (A1A105005)
Saya setuju dengan pendapat bapak tersebut, sebab apabila dilihat dari cara guru tersebut dalam menjawab suatu pertanyaan atau tes yang mereka jalani, bukan tidak mungkin akan menurun kepada murid mereka sendiri, diibaratkan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”
Padahal sebagai seorang guru harusnya mereka tidak menyontek saat menjawab soal-soal tes tersebut, guru tersebut harusnya didepak karena dapat mencemarkan nama baik sekolah dimana ia bernaung, itupun apabila hanya guru tersebut yang melakukan kecurangan, tetapi apabila dalam satu sekolah tersebut semua gurunya melakukan hal yang sama apalagi membantu siswa dalam Ujian Akhir Nasional waaah!!! lebih baik sekolahnya saja yang dibubarkan.
Sebenarnya ini harus kita lihat dari depdikbud yang membuat aturan dengan batasan 4,25 cukup memberatkan siswa, sehingga para guru rela membantu siswa tersebut agar lulus ujian, mungkin bagi siswayang menjalani ujian tersebut sangat bahagia sebab dibantu dalam UN, akan tetapi efeknya akan terlihat dikemudian hari dimana sumber daya manusia akan menjadi rendah karena terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Oleh karena itu ada baiknya kita bersama-sama untuk menghilangkan sistem pendidikan curang tersebut, kita jangan terlalu memikirkan siapa yang salah yang kita lakukan adalah bagaimana cara untuk menghilangkan pendidikan curang tersebut.
Mudah-mudahan dimasa yang akan datang indonesia menjadi lebih maju tanpa adanya sistem pendidikan curang tersebut. Amiin.
By ANTON WIRANATA (A1A105013) on Nov 13, 2006 | Reply
Menurut pandangan saya memang pendidikan curang ini jangan sampai di lestarikan di negara kita, karena kalau terus di terapkan maka SDM di Indonesia tidak akan bisa maju. Tapi kenapa di negara tetanga kita seperti Malaysia SDMnya tinggi,itu disebabkan karena disamping fasilitas sekolah yang mencukupi juga tenaga pendidiknya yang sangat konsisten didalam memberikan pelajaran. Oleh sebab itulah mutu pendidikan disana maju. Nah…! coba kita bandingkan di negara kita,katakanlah fasilitas sudah cukup, tapi ada tenaga pendidiknya yang tidak konsisten dalam menyampaikan ilmunya yang tidak sesui dengan tujuan pendidikan itu sendiri.Hal inilah yang bisa membuat siswa tidak mengerti dalam menerima materi yang telah diberikan.Maka untuk itulah pemerintah harus bisa memandang bagaimana kualitas pendidikan di negara ini, jangan menyamakan dengan negara lain yang mutu pendidikannya itu benar-benar tinggi.Ya jelas ga bisa lah…!
By SEJARAH 'O5(A1A105015) on Nov 13, 2006 | Reply
PENDIDIKAN CURANG?,memang itulah fakta yang terjadi saat ini. Sudah jelas sekali bahwa ini benar-benar merupakan pembodohan terhadap anak negeri,ini adalah bukti penjajahan!dengan KeDoK pendidikan,guna MENGEJAR target(?), wal hasil semua ini sudah terlaksana.SIAPA MENYALAHKAN SIAPA?,so! siapakah yang patut kita salahkan?”PEMERINTAH?,SISTEM?,atau…..DIRI KITA SENDIRI?.Namun, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan dalam SEJARAH, yang perlu kita abadikan dalam dokumentasi yang ditulis dengan TINTA EMAS yakni keberhasilan pendidikan dalam DAULAH KHILAFAH ISLAMIYYAH,bagaimana itu bisa tejadi? bagaimana caranya?,mari kita pelajari bersama.
By HARYANISEJARAH 'O5(A1A105015) on Nov 13, 2006 | Reply
PENDIDIKAN CURANG?,memang itulah fakta yang terjadi saat ini. Sudah jelas sekali bahwa ini benar-benar merupakan pembodohan terhadap anak negeri,ini adalah bukti penjajahan!dengan KeDoK pendidikan,guna MENGEJAR target(?), wal hasil semua ini sudah terlaksana.SIAPA MENYALAHKAN SIAPA?,so! siapakah yang patut kita salahkan?”PEMERINTAH?,SISTEM?,atau…..DIRI KITA SENDIRI?.Namun, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan dalam SEJARAH, yang perlu kita abadikan dalam dokumentasi yang ditulis dengan TINTA EMAS yakni keberhasilan pendidikan dalam DAULAH KHILAFAH ISLAMIYYAH,bagaimana itu bisa tejadi? bagaimana caranya?,mari kita pelajari bersama.
By EDWIN NORJAMI (A1A105033) on Nov 13, 2006 | Reply
Saya tau..ne masalah mang bikin ruwet,pusing,ngalu,dll…. tapi..kita harus liat dulu apakah yang menyebabkan ‘pendidikan curang’netu bisa terjadi/// contohnya begini;kita liat dulu dari gaya hidup orang2 Indonesia kebanyakan,,apa yg kita dapat???..”BUDAYA GENGSI” Nah…budaya ne yg mesti kita cermati dulu,,Dalam hal pendidikan…KITA tau pasti tiap sekolah tu masing2 mengutamakan “NAMA BAIK SEKOLAH”… Nama baik sekolah ini sangatlah penting bagi tiap2 sekolah….mengapa demikian???kita pasti sudah tau apa jawabannya…Ya kan???….
By Ganda Resnadi History '05 NIM A1A105012 on Nov 13, 2006 | Reply
saya sangat sependapat dengan pendapat Bapak dimana kecurangan yang dilakukan sejak dalam masa pendidikan tentunya akan dicerminkan nantinya pada saat orang tersebut sudah menjadi “orang” dan bangsa kita tak akan pernah menjadi bangsa yang korup selama pendidikan curang tetap terjadi.
Tapi disini saya juga ingin memberikan pendapat mengenai pendidikan curang yang dilakukan seorang Guru. Dulu saya juga pernah diberi jawaban waktu saya ujian sekolah dasar oleh seorang guru yang merupakan tetangga saya. kecurangan tersebut dilakukan mungkin karna adanya ikatan moril sebagai tetangga, mungkin juga karna guru tersebut takut “disambat nang macam-macam” oleh ortu murid. oleh karena itu ada pemikiran dari seorang guru bahwa ia takut akan hal tersebut terjadi di lingkungannya. tapi saya sangat menyesal karena saya menerima jawaban tersebut karena pada saat saya masuk SMP, saya merasa kurang begitu menguasai pelajaran yang diberi tersebut. Mudah-mudahan saya tidak menjadi guru yang curang dan semoga guru yang telah berbuat curang diampuni dosa-dosanya. Hidup pendidikan!! Hidup sejarah!!
By Akhmad Fauji (A1A105029) on Nov 13, 2006 | Reply
pada intinya saya sependapat dgn apa yg bapa katakan!bahwa melakukan kecurangan dlm pendidikan sangat-sangat tdak baik.Karna apa?karna pendidikan itu merupakan suatu hal menyangkut kebaikan,karna isinya merupakan hal-hal tntang ilmu-ilmu pengetahuanuntk kehidupan kita dimasa sekarang dan yg akan datang.danjuga merupakan perintah dari Allah SWT.Oleh karna itu apabila dlm pendidikan saja kta curang apalagi dalam hal lain.Tetapi disisi lain saya punya tanggapan tntang Guru Ujian.Kita tdk bisa menyalahkan guru saja,karna kita harus memandang dari berbagai sisi dan faktor yg menyebabkan guru itu melakukan hal tsb.apakah karna faktor moril,materil,maupun faktor untk menjaga nama baik sekolah ataupun karna faktor-faktor lain.harus nya kita juga bsa mengkritik kepada pemerintah yang menerapkan sntdar UAN tanpa memberikan pasilitas dan dana yang memadai kepada pihak sekolah.Jadi menurut saya kita kembalikan saja kepada kesadaran diri kita masing-masing untuk tidak melakukan hal tersebut;karna segala apa yg kita lakukan di dunia ini akan mendapat balasan dri Allah SWT di akherat nanti.
By Dina yulinda(A1A105019) on Nov 13, 2006 | Reply
Fenomena pendidikan curang saat ini emank menarik dibicarakan, fenomena ini sudah menjamur di seantare Indonesia. Menurut saya Pendidikan curang sangat merugikan terutama buat generasi muda. mereka diajarkan berbuat curang diawal pendidikannya yang akan jadi bekal hidup mereka. Hal ini tentu saja akan jadi batu tajam buat kehidupan mereka kelak. Seharusnya kita sebagai anak didik berusaha meningkatkan kwalitas diri agar bisa mencapai target tanpa adanya kecurangan, selain itu para pendidik juga diharapkan meningkatkan kwalitasnya agar menghasilkan siswa yang berkualitas. Tapi pendidkan curang sepertinya sudah membudaya dimasyarakat kita, hal ini dianggap wajar oleh sebagian komunitas, dalil para pelaku biasanya takut sekolah mereka malu karena banyak siswanya yang tidak lulus UAN, padahal mereka tidak perlu malu kalo emank itu kenyataan disekolahnya, justru mereka harus malu dengan kecurangan mereka yang secara perlahan malah merusak mutu manusia Indonesia. Sebagai calon pendidik kita harus mulai menekankan budaya malu berbuat curang dalam tiap hal.
By BAHCRUDDIN (A1A105016) on Nov 13, 2006 | Reply
Pendidikan curang seperti guru memberikan jawaban kepada murid diwaktu UN atau guru/kepsek menyontek disaat ujian dapat dikatakan hal yang tidak baik yang harus ditinggalkan. Pemerintah untuk membuat nilai atau standar nilai kelulusan seharusnya memperhatikan dan memperbaiki segala sesuatu yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan seperti;buku-buku,pasilitas yg mendukung terhadap penddikan dan guru yg profesional sesuai dengan bidangnya.Dimana apabila semua itu tercukupi,saya rasa berapapun nilai standar yang dipatok,bisa dicapai.Sehingga tindak kecurangan-kecurangan didunia pendidikan dapat diminimalisir.Dan kedepannya,pendidikan curang atas alasan menjaga nama baik sekolah,akan hilang….
By Srie Wahyu Astuti on Nov 13, 2006 | Reply
Wow kereeeen semakin hari selalu ada hal baru dala kehidupan kita dengan berbagai fenomena.Tidak jarang orang menghalalkan segala cara untuk mencapai hasil sempurna dan dipandang baik contohnya saja seperti “pendidikan curang”. adanya pendidikan curang membuat suatu dosa baru yang hampir di seluruh sekolah di Indonesia merasakan,menikmati kecurangan yang di lakukan oleh pihak yang tidak mau rugi,gengsinya tinggi!!!menurut saya melakukan kecurangan dlam suatu pendidikan sama saja memperbodoh bangsa dan negara kita yang miskin,masa sudah miskin bodoh lagi..??kita mestinya malu dengan keadaan sperti ini,di mana kita meletakkan tujuan bangsa kita yang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. saya sependapat dengan bapa SEMOGA HAL INI TIDAK TERJADI DAN TERULANG KEMBALI DI KEHIDUPAN SELANJUTNYA AMIEEEEEN…..moga2 generasi muda yang akan jangan seperti yang sekarang!!!!!
By Hanik Puspitasari (A1A105047) on Nov 13, 2006 | Reply
Assalamu’alaikum,,,Pendapat saya pendidikan yang diterapkan saat ini terkesan plin-plan.Kenapa??Pasalnya disalatu sisi pemerintah menegaskan bahwa siswa harus mencapai target yang telah ditetapkan supaya dapat lulus UN. Tetapi disisi lain pemerintah dengan mudah memberikan ujian ulang pada siswa yang tidak lulus.Disini terlihat bahwa sistenm pendidikan yang dijalankan justru menikam balik sistem itu.Menurut pengamatan saya, “pendidikan curang” yang tercipta merupakan produk dari sistem yang dipakai.Secara tidak langsung, mengorbankan guru dan siswa yang berperan aktif dalam bidang itu. Kenapa bisa terjadi hal tersebut?? Bukankah kita memiliki Islam sebagai pengatur semua sendi kehidupan kita?? Kalau itu benar kenapa kita tidak kembali pada Islam dan menerapkan sistem pendidikan Islam secara menyeluruh?? Adakah keraguan dihati kita terhadap ISLAM?!?…Wassalamu’alaikum,,,
By KAMSINAH SEJARAH '05 (A1A105037) on Nov 13, 2006 | Reply
Menurut pendapat saya mengenai PENDIDIKAN CURANG itu memang sudah jadi tradisi orang kita n sangat SULIT untuk DIRUBAH karena kebanyakan dari orang-orang kita, sejak dari kecil sudah dilatih untuk bersikap curang dan tidak jujur, BUKAN SALAH IBU MENGANDUMG ,tapi salah siapa?….,Lingkungan n keadaan yang MEMAKSA seseorang untuk berbuat curang.Jadi ayo kita rubah keadaan ini,DENGAN APA?????????????,Tentunya dengan sistem or aturan yang LEBIH BAIK DONG!!!!!!!!!!!
By Angki Hardanika (A1A105048) on Nov 13, 2006 | Reply
Saya sungguh tidak setuju dengan pendidikan curang,karena selain dapat menurunkan kwalitas pendidikan kita, juga kerena dapat merendahkan moral bangsa, bila kita pandang dari luar para siswa telah berhasil mencapai kemampuan yang diharapkan,tapi kenyataannya sisiwa-siswa yang melakukan pendidikan curang BODOH-BODOH, para siswa inilah yang menjadi generasi penerus, negara ini akan hancur bila berpondasikan para siswa yang BODOH-BODOH itu.
Nama baik guru sebagai penjamin mutu pendidikan akan tercoreng, alasan para guru biasany untuk melakukan pendidikan curang ini pada umumnya menjaga nama baik sekolah,seharusnya para guru membiarkan siswa berusaha semaksimal mungkin dengan disertai bantuan dari guru tentunya,tetapi dalam jalan yang benar bukan jalan yang salah sehingga siswa yang tidak mampu akan merenungi kekurangannya masing-masing.
Yang perlu kita telaah secara terperinci disini bukan dari siswa tapi guru sebagai pelaku utama dari pendidikan curang ini, maka pemerintah harus merekonstruksi ulang kembali para guru agar mampu meningkatkan mutu kwalitas pendidikan secara benar.
pendidikan curang telah menjadi budaya di tempat kita jadi untuk menghilangkannya akan sangat sulit,paling tidak dapat diminimalisir oleh pemerintah khususnya dengan memberlakukan peraturan yang lebih ketat, selain itu pemerintah memberikan bantuan yang nyata…..
By Erina Marsiana Sejarah "05 (A1A105014) on Nov 14, 2006 | Reply
Asslamu’alaikum… Btw masyalah pendidikan curang,kenapa mereka berbuat seperti itu? because banyak motif. salah satunya faktor utamanya adalah “asal Bapa Senang”.Mereka melakukan itu untuk kepentingan atasan. agar dapat proyek, ini memeng sungguh-sungguh perbuatan yang tidak terpuji,why? karena bangsa Indonesia adalah komonitas islam yang terbesar di dunia. koq bisa-bisanya berbuat bejat dengan cara ikut berpartisipasi dalam membantu dalam sepak terjang peserta UAN tsb.Ini sama dengan”curang berjamaah” yang sama sekali nggak menunjukan profesionalisme guru. wallahualam,,, sebaiknya pendidikan curang ini memang sangat nggk perlu dilakukan oleh oknum-oknum tenaga pendidik, ga penting gito (cuek-ae).Tapi semua itu kita kembalikan kepada hati nurani masing-masing.
By Rahmadi(A1A105035) on Nov 14, 2006 | Reply
pendidikan curang? hmmm… ungkapan yang lumayan tepat untuk keadaan pendidikan yang ada pada saat ini. tapi, di sini saya menanggapi tentang masalah guru yang membantu siswa untuk lulus dari sekolah mereka. kita tidak mesti menyalahkan 100% kepada gurunya, karena bisa saja mereka terdesak pada peraturan yang diharuskan oleh kepala sekolah, atau mungkin kepada daerah yang menginginkan kelulusan 100% untuk pelajar ditempat mereka. dan mungkin benar apa yang dikatakan dari salah satu teman saya, meraka terlanjur “gengsi” untuk menerima kenyataan bahwa ditempat mereka masih terdapat pelajar yang tidak lulus dalam ujian. gengsi terhadap dunia luar kalau kami ni masih tatinggal lawan urang… hahaha… kalau sudah gengsi2an sih… kita mau apalagi coba???
jadi, menurut saya tidaklah mesti menyalahkan guru sebagai palaku utama dalam melakukan praktek ini. pasti ae dah ada dedalang daripada semuaan ni…
By windede on Nov 14, 2006 | Reply
numpang ngisi komentar ahhhhh…
By Najla Al-Banjari * on Nov 15, 2006 | Reply
Salamualaikum….
umpat nimbrung punk Lah….
mengomentari tulisan pian Pa’ae…
emm…memang miris kalo kita perhatikan keadaan sekarang di mana kecurangan dan ketidak jujuran yang terjadi tidak hanya dalam masalah pendidikan saja seperti apa yang pian tulis, tapi yang kita rasakan sekarang kecurangan dan ketidak jujuran pembodohan terhadap masyarakat yang sudah bodoh (termasuk ulun ha..ha..ha..)tapi terjadi di segala lini kehidupan.
sebagai calon guru (kira2 sekitar 3 taon lagi)di mana 3 taon atau 4 taon kedepan ketika saya jadi guru nanti, zamannya kan sudah berubah tu pa’ keadaan sekarang aja begini bagaimana entar, kalo kecurangan itu semakin berlanjut dan sudah membudaya,
kenapa sih ko’ yang jelas2 ga baik dibiarkan membudaya, kenapa ga diganti aja dengan peraturan yang jelas2 dan terbukti paten dalam hal pendidikan atau paraturan apapun di dunia yaitu sistem Khilafah Islamiah.
jujur saya juga sangat kawatir apakah entar saya dan tema-teman saya yang cita2nya jadi pahlawan tanpa tanda jasa itu mampu jadi guru yang baik, guru yang tidak hanya sekedar menyampaikan materi kepada anak didik tapi juga menanamkan budi pekerti yang baik, kalo keadaanya masih seperti sekarang. guru yang
tidak melakukan kecurangan mendidik murid untuk tidak melakukannya,baik ketika kami jadi mahasiswa sekarang lebih2 entar kalo jadi guru (amiiin…..999x).
untuk komentar tulisan bapa,
jelas donk saya sangat TIDAK SETUJU SEKALI yang ngarannya pendidikan curang nangitu.
udah saitu ja.
males ngetik 5 menit lagi udah mo magrib.
makasih dan barelaan….
By Purenoise on Nov 15, 2006 | Reply
Menurut Gwe segh ntu yg nmanya pendidikan curang yg trjadi saat ini sah2 aje,slama hal trsebut mmbntu dlam klulusan murid dlam UN. Kan kg ad ruginya juga klo seorang guru ngebantu ntu murid?? Lgi pula klo dlm UN Suatu skolah ntu bsa luluz 100% sp yg untung hayooo???? Khan ntar ntu skolah bs trkenal plg kg d wlayahnya and bs jd fav lg, ya ga????
N’ yg nmanya KPC bwt yg kg lulus dlm Un ntu segh sah2 jg, wong khan dach jtuh masa ktimpa tnnga? mksd gw ntu slama org ntu pnya duit apa slahnya cba ngikut ntu KPc khan sertifikatnya jg bs di pake bwt daftar ke PTS/PTN slama loe pnya duit….
Ngapaen kok d bkin ssh wong jamanya dach susah………..
skrg ntu jd org kg ush pinter2 yg pnting bs cri krja yg halal n hdp yg mapan amieeeennnnn.
By dinna barada on Nov 16, 2006 | Reply
menurut saya,ya gak jauh2 amat dari pandangan bapak.
saya sangat setuju kalau masalah pendidikan curang segera di “bina”sakan. tapi rasanya gak semudah itu, masalahnya sekolah2 yang melakukan hal demikian punya maksud tertentu, khususnya untuk membangun citra sekolah menjadi baik, ditambah lagi malu dong kalau banyak muridnya banyak gak lulus. mungkin potensi pelajar indonesia cuma mentok sampai disitu, jadi kalau di buat peringkat tentang kelulusan, di bandingkan dengan negara lain,kalau indonesia mau jujur, ya pasti dapat tempat paling ujung di bawah. kan susah juga.ya sekarang harapan saya gak untuk membasmi sistem pendidikan yang curang saja, tetapi lebih ditekankan pada pelajar indonesia yang harus benar-benar mau belajar, meningkatkan potensi kemampuan agar pendidikan dan hidup lebih maju. sehingga para guru yang curang2 itu gak lagi curang mikirin kelulusan muridnya. kalau yang udah pada curang ya udah biarin aja,ngapain kita pusing2 mikirin guru2 yang aneh itu. nti sambung lagi komentarnya.
By Istiqomah A1A105031 sjrh '05 on Nov 16, 2006 | Reply
Kalo menurut saya sih pendidikan curang khususnya dalam masalah ujian nasional itu harus ditindak, tapi kalau melihat keadaan yang telah terjadi para aparat dan pihak yang bersangkutan malah tenang-tenang saja. Adanya bantuan dari pihak guru yang ikut dalam ujian nasional, bukan membantu para muridnya tapi semakin membuat mereka besar kepala. Hal ini akan berakibat pada masa depan mereka, bila ingin melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Dalam pikiran mereka mungkin akan tertanam bahwa, walaupun tidak berusaha dengan keras dalam pendidikan mereka akan terbantu lagi seperti pada waktu sebelumnya padahal tidak. sepertinya mutu pendidikan indonesia masih dibawah, jadi untuk menaikkannya dilakukanlah pendidikan curang hehehehe…….
By Hamidah Ulfah (A1A105021) on Nov 16, 2006 | Reply
Assalamualaikum,wr wb… Saya sich sependapat aja sama apa yang bapa kemukakan di atas tentang PENDIDIKAN CURANG.Memang hal tersebut sudah mendarah daging di dalam bangsa kita sendiri dan sulit sekali untuk dihilangkan.Sebaiknya hal itu tidak dilakukan oleh seorang pendidik/guru,karena secara tidak langsung perbuatan tsb menjadi contoh yang tidak baik bagi generasi muda masa depan.Untuk itulah bagaimana cara agar pemerintah dalam hal menetapkan nilai standar kelulusan bisa dilihat sistematis kondisi dari jenjang pendidikan itu apakah sekolah itu bisa mencapai target yang diinginkan atau tidak.Untuk mengubah sesuatu hal dari yang tidak baik menjadi lebih baik lagi,hanya dari niat individu tsb serta usaha.dan pada akhirnya kita kembalikan lagi kepada yang TUHAN YANG MAHA ESA…Wassalamualaikum.wr wb…
By RINA HIDAYANTI on Nov 23, 2006 | Reply
Coment Tentang “Pendidikan Curang”
Dari tulisan Drs. Ersis W. Abbas, M. Pd
Kesan pertama baca, seperti biasa kalo saya baca tulisan bapak di Radar ato di buku – buku yang bapak tulis, saya pasti ketawa. Soalnya…semua tulisan bapak yang pernah saya baca pasti isinya blak – blakan. Walau mungkin menyakitkan bagi yang merasa tersinggung dengan tulisan bapak karena mereka melakukan tapi tidak mau terima kritikan.
UN yang dilaksanakan dalam sistem pendidikan kita sekarang tentu saja tidak lepas dari yang namanya penting ato tidak UN tersebut. Bagi mereka yang lulus dalam pelaksanaan UN akan cuek bebek saja sama UN dan semua yang terkait dengan UN tersebut. Toh yang penting sudah lulus dan tinggal mikirin ujian masuk PT aja bagi yang tidak mengambil jalur PMDK dan pengen terus kuliah. Bagi mereka yang lulus langsung pengen kerja ato kawin lebih gak perduli lagi.
Dengan jujur dan gamblang saya katakan bahwa saya mengakui menjadi salah satu orang yang menganggap lulus itu hal terpenting dalam kuliah saya dan menomor 2kan masalah bisa atau memahami apa tidak dalam kuliah yang saya ambil itu. Saya menyadari dengan sesadar – sadarnya bahwa it’s the big wrong. Makanya, sekarang saya mencoba mendapatkan keduanya walau saya sadar bahwa saya bukan termasuk golongan orang pintar banget tapi saya juga ga bodoh – bodoh banget. Otak saya masih sering saya pake buat mikir ko…
Kemudian UN menjadi bener – benar penting sekarang bahkan sampe – sampe kaya presiden dan para pejabat segala yang sering didemo adalah dari mereka – mereka yang tidak lulus dalam UN. Apalagi saya baca di koran bahwa banyak yang termasuk tidak lulus dalam UN tersebut adalah dari golongan anak – anak yang terkenal smart di sekolahnya. Sedang anak lain yang dianggap punya kemampuan biasa - biasa aja bisa lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Ada apa ya? Apa faktor lucky ato sistem UN nya yang salah?
Kayanya sekarang yang penting bagi kita dan tentu saja BSNP sebagai pelaksananya adalah bukan mencari sistem UN yang paling sempurna untuk dipakai dalam sistem pendidikan Nasional kita supaya tidak ketinggalan dengan negara – negara lain, karena tidak ada manusia, sistem dan apapun di dunia ini yang sempurna kecuali ALLAH (No Body and Nothing Perfect). Seperti apapun sistem yang kita punya dan kita pakai, yang penting kan bagaimana penerapannya yang baik, benar dan sesuai prosedur yang telah ditentukan.
Saya setuju dengan pendapat bapak tentang masalah ujian paket C. Kenapa ujian paket C yang sebenarnya telah jadi jatah pendidikan non formal malah bisa menjadi penentu dan melegalkan siswa SMA yang tidak lulus UN menjadi lulus setelah ikut ujian paket C. Tau gitu dari awal ga usah aja cape – cape sekolah formal, lewat paket C juga bisa, so.. ga usah cape sekolah lama – lama apalagi sampe ujian 2 x gara – gara gak lulus UN. Parahnya antara PT yang menerima mahasiswa baru dari lulusan SMA/SMK dengan sekolah menengah yang mengeluarkan siswa – siswanya yang pengen masuk PT setelah lulus SMA terjadi misscomunication. Kaya kasus yang marak kemaren, banyak yang diterima PMDK di PTN padahal belum tau siswa yang lulus PMDK tadi lulus UN ato gak. Tau – tau kejadian kan, banyak yang gak lulus UN. Gimana tuh……?
Masalah fakta yang didapatkan bahwa guru ikut berpartisipasi meluluskan siswanya ujian, saya punya 2 pandangan terhadap itu.
• Pertama, guru dianggap ikut berpartisipasi atas kelulusan siswanya adalah guru yang telah benar – benar berhasil menjadi guru sejati. Dengan talenta mengajar yang baik membuat siswa yang di ajarinya tidak hanya tau atas suau pelajaran tetapi memahami bahkan mampu menerapkannya dalam kehidupan. Sehingga ketika masa ujian, siswa mengerti dan memahami tiap pertanyaan dan dapat lulus dengan baik walau itu dengan nilai pas – pasan ato sangat baik. Tentu donk tidak lepas dari siswanya yang juga jujur dan mau di ajak jujur ketika ujian dan ditiap kesehariannya.but…sulit ditemui, 1 diantara 10 bahkan mungkin 1 diantara 100 terdapat guru yang seperti itu.
• Kedua, guru yang membantu siswanya ketika ujian dengan memberi tau jawaban dari pertanyaan yang diberikan. Sejak dulu praktek ini terjadi, sesuai dengan pengalaman pribadi yang saya alami yang terkait persis dengan kasus yang faktanya sekarang semakin terlihat. Ketika duduk di kelas 6 SD, di salah satu SDN di Banjarmasin saya juga mengikuti UAN untuk meluluskan diri dari SD dan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi yaitu SMP. Walaupun yang mengawasi kami ketika itu adalah guru dari sekolah lain tapi praktek guru bantu murid ini saya alami sendiri. Saat bingung dengan sebuah pertanyaan pilihan ganda, ternyata gelagat bingung saya tercium oleh guru itu. Beliau mendekat dan tanpa diminta, dikomando dan ditanyai di memberi jawaban pilihan yang benar (a, b, c ato d dan e waktu itu saya sudah lupa jawabannya yang mana) dengan sedikit berbisik. Saya tentu senang dengan hal itu padahal itu sangat buruk bagi mental saya pada akhirnya. Suatu pembuktian dari kasus yang sedang hot dan in sekarang yang benar – benar saya alami sendiri. Mungkin jenis guru seperti ini yang ikut berpartisipasi memperbodoh generasi penerus bangsa Indonesia.
Dari pengalaman saya ketika PPL I dan PPL II di SMK 5 Banjarmasin ( STM Teluk Dalam samping Bui Banjarmasin), saya merasakan bahwa menjadi guru ternyata berat. Ada challenge yang harus di Respons ( teori Toynbee ). Beban berat jika hasil yang di dapat oleh siswa yang kita ajar tidak lulus ujian ato dalam konteks yang lebih kecil seperti ulangan harian ato bulanan. Rasanya kecewa. Sepertinya kita kurang berhasil dalam mentransfer ilmu dan memacu anak didik untuk mencari tau apa yang kita ajarkan dan mencari informasi lebih lanjut untuk mempelajari yang kita ajarkan tadi. Tapi alangkah berbahagianya andai siswa yang kita ajar lulus dan mendapat nilai yang baik. Mungkin kalo ditinjau dari itu bisa saja guru – guru yang berpartisipasi itu memiliki sentuhan rasa takut menghadapi kenyataan apakah anak didiknya berhasil atau tidak. Karena bila siswa yang kita ajar gagal maka kitapun pasti dicap gagal mengajar. Padahal gak 100 % begitu ko…
Sebagai siswa dari bapak saya terkesan dengan Idealisme bapak dan cara bapak memberi kuliah walaupun dengan cara yang bapak berikan (tanpa pulpen dan catatan), bagi saya pribadi kurang bisa memahami jika tanpa mencatat. Bukan berarti saya minta di dikte dan mencatat secara detail kata – kata yang bapak ucapkan. Tetapi maksud saya di sini bahwa saya senang dengar kuliah dan mencatatnya secara singkat sesuai bahasa dan tulisan yang saya mengerti sendiri (menuliskan point – point pentingnya saja)dan itu bagi saya lebih efektif untuk membuat saya memahami perkuliahan dosen yang memberi kuliah. Tetapi saya sadar, baik dosen – dosen maupun mahasiswa memiliki cara berbeda dalam memberi ilmu, berbagi informasi dan dalam memahami segala sesuatu. Satu hal lagi yang saya suka dari tugas yang bapak kasih ini. Saya belajar untuk buka – buka internet karena saya akui saya jarang sekali ke warnet (tapi saya ga GaTek lo pak…(Gagap Teknologi)) dan belajar serta mencari info di internet kecuali ketika ada tugas seperti ini. Hal lainnya yang membuat saya senang adalah tugas yang bapak kasih ini membuat saya bisa dengan bebas menyalurkan apa yang ada di otak saya terhadap sesuatu di hadapan saya melalui tulisan. Karena jujur, saya kurang berani bicara di depan umum ( demam panggung ). Tidak tau kenapa saya begitu menyukai menulis.mungkin karena di SD saya paling senang mengarang dan paling jago menulis di antara teman – teman ato karena dari kecil saya bila ada masalah apapun, sedih, senang, marah, sebel, dsb selalu curhat dengan tulisan.
Guru nyontek?
Saya gak kaget dengarnya, wong saya yang calon guru aja masih sering contek – contekan sama temen – temen ko. Walau saya benci dengan jawaban yang sama dengan orang lain, makanya saya ubah kalimat dari jawaban saya disetiap hasil contekan bersama dengan teman – teman supaya beda dengan yang lain toh tetep aja namanya nyontek juga. Hehehe….saya ga malu mengakuinya. Bukan berarti urat malu saya sudah hilang. Itu mang salah tapi toh itulah kenyataannya yang saya lakukan. Semoga nanti – nanti gak gitu lagi.
Tidak salah bila bapak bilang pendidikan curang. Tapi yang saya artikan dari judul pendidikan curang ini adalah bukan pendidikannya yang melakukan kecurangan tetapi komponen – komponen yang terkait di dalam pendidikan tersebut yang curang. Tetapi saya berharap tidak termasuk di dalamnya karena saya sadar betul bahwa pendidikan adalah hal utama dalam kehidupan manusia dunia dan akhirat. Karena semua harus balance antara pendidikan agama, budaya, ekonomi, sopan santun dan tata laku, dsb.
Kelihatan kan pendidikan paling penting. Tak banyak harapan yang muluk – muluk, saya ingin menjadi orang yang bisa berarti dan berguna bagi orang lain (apapun itu tapi yang positif donk) sehingga uang datang dengan sendirinya, bukan kita yang mencari uang. Intinya pendidikan nasional kita punya tujuan yang jelas dan sangat mulia, apa salahnya kita dukung. Hari ini begini toh besok bisa berubah kan? Tinggal kita aja lagi yang mau milih merubahnya kearah yang positif atau yang negatif. InsyaAllah…
Itu saja sedikit komentar tentang wacana yang bapak tulis ini (Pendidikan Curang ). Semoga negara kita bisa lebih baik lagi dengan sistem pendidikan yang baik dan di dukung oleh komponen – komponen di dalamnya, contoh seperti KBK. Tidak ada lagi yang namanya otoritas guru. Siswa mampu berkembang tanpa didikte. Toh guru tinggal mengawasi agar pemahaman siswa tidak menyimpang. Benerkan…..semoga ke depan kita semakin baik, amin……..
RINA HIDAYATI
( A1A102010 )
By LL on Nov 24, 2006 | Reply
Numpang Lewat
By ADI FITRIANSYAH RIZQONI on Dec 4, 2006 | Reply
Menurut hemat saya,pendidikan curang sudah membudaya dinegara kita.Mungkin sangat sulit sekali menghilangkan image tentang pendidikan curang,karena secara ga sadar saat kita masuk kebangku sekolah,nilai-nilai yang diberikan kepada kita kebanyakan pemberian dari guru,bukan hasil dari belajar sendiri.Sehingga pendidikan curang kayaknya sudah mendarah daging dalam kehidupan.Jujur saya sendiri sebagai mahasiswa FKIP,calon guru lagi…Masih saja melakukan kecurangan~~~ Tanya Ken–Napa???..Jawabannya,,, YAAA..dIATAS tadi.Saya ga percaya kalo mahasiswa diFKIP Ga pernah melakukan kecurangan baik didalam midd maupun Final test,kecuali anak-anak FSI???Kayaknya sih…Bukannya saya menuduh…tapi yang saya lihat faktanya memang begitu koq.Kenapa saya bisa berkata seperti itu??…Kalau kita kuliah,gabung sama temen-temen dari prodi lain,saat midd atau final kebanyakan dari mereka juga melakukan kecurangan….Tanya sanalah..tanya sinilah…Bahkan ada juga yang buka buku>>>Apa itu ga curang namanya???Untuk masalah sekolah-sekolah yang melakukan kecurangan dalam hal UAN,memang sih itu ga bener,,karena sama saja sekolah itu membodohi siswanya bukan malah mencerdaskan….Tapi,yang patut kita pertanyakan sekarang,”Bagaimana dengan nasib siswa,bila dia ga lulus???Karena kalau kita lihat,standar nilai yang diberlakukan pemerintah tidak sesuai dengan sarana dan prasarana yang mendukung,khususnya bagi sekolah-sekolah yang biasa-biasa azaaa…Wajar aja kalau mereka curang..Mungkin saja mereka pengin sekolahnya itu mempunyai prestise yang bisa mendongkrak popularitas dekolahnya.Getu LOCH….
By ELMA KHAIRINA SEJ'O5 (A1A105043) on Dec 4, 2006 | Reply
“PENDIDIKAN CURANG !!!!” Wwwooow…Daaahsyaat! Yah begitulah pendidikan yang ada di Indonesia sekarang ini.Why..? Coz,gini loch.. Masa dalam hal pendidikan saja sudah curang ,bagaimana dengan dalam kehidupan sehari-harinya? LEBIH BUSYET kaleeeee…
Coba deh kita liat kenyataan yang ada sekarang ini, banyak siswa yang tidak lulus UN malah bisa masuk PTN, Nie kan ga adil bo !!! Enak aja masuk PTN dengan modal ijazah Paket C,sama aja bo’ong, Paket C tu kan masih bisa dikatakan pendidikan informal,bukan pendidikan formal.Standar pendidikan yang diperoleh siswa jelas beda. Begitu juga dengan siswa yang lulus UN dengan bantuan guru. Hasilnya sama ajja, kwalitas pendidikan siswa tetap rendah karena gurunya lah yang mengerjakan soal-soal ujian tersebut. Gimana siswa bisa berkompetensi di PTN klo modal pendidikan dasarnya aja udah kurang.Pasti ribet dech…..
Mungkin zaman sekarang pola pikir manusia emang udah serba praktis. Berbagai cara dilakukan untuk memperoleh keberhasilan tanpa memandang kemampuan.
Menyikapi tentang tindakan guru menyontek,ini menunjukkan bahwa peranan guru sebagai pendidik sudah tidak pada tempatnya lagi.Seharusnya guru malu akan tindakannya tersebut, karena sudah memberikan contoh yang tidak baik pada siswa.Mungkin tindakan siswa bisa lebih parah lagi dalam urusan menyontek. Memang benar kata pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”.
So, dalam menyikapi pendidikan curang dan guru menyontek yang perlu ditanamkan dalam diri individu adalah KEJUJURAN dan KEDISIPLINAN yang merupakan pondasi awal untuk melangkah lebih maju dalam membuka jendela masa depan.SEMANGAT 45 Coy… !!!
By Muhammad Hidayat on Dec 5, 2006 | Reply
Beta sih setuju dengan pendapat sampeyan tersebut, sebab apabila dilihat dari cara guru tersebut dalam menjawab suatu pertanyaan atau tes yang mereka jalani, bukan tidak mungkin akan menurun kepada murid mereka sendiri, diibaratkan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.”
Padahal sebagai seorang guru harusnya mereka tidak menyontek saat menjawab soal-soal tes tersebut, guru tersebut harusnya didepak karena dapat mencemarkan nama baik sekolah dimana ia bernaung, itupun apabila hanya guru tersebut yang melakukan kecurangan, tetapi apabila dalam satu sekolah tersebut semua gurunya melakukan hal yang sama apalagi membantu siswa dalam Ujian Akhir Nasional waaah!!! lebih baik sekolahnya saja yang dibubarkan.
Sebenarnya ini harus kita lihat dari depdikbud yang membuat aturan dengan batasan 4,25 cukup memberatkan siswa, sehingga para guru rela membantu siswa tersebut agar lulus ujian, mungkin bagi siswayang menjalani ujian tersebut sangat bahagia sebab dibantu dalam UN, akan tetapi efeknya akan terlihat dikemudian hari dimana sumber daya manusia akan menjadi rendah karena terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
Oleh karena itu ada baiknya kita bersama-sama untuk menghilangkan sistem pendidikan curang tersebut, kita jangan terlalu memikirkan siapa yang salah yang kita lakukan adalah bagaimana cara untuk menghilangkan pendidikan curang tersebut.
Saya sendiri juga masih merasa bahwa saya jebolan dari sekolah yang melakukan pendidikan curang, jadi hendaknya kita harus merombak cara belajar kita sendiri
Mudah-mudahan dimasa yang akan datang indonesia menjadi lebih maju tanpa adanya sistem pendidikan curang tersebut. Amiin.
By Haris Zaky Mubarak on Dec 5, 2006 | Reply
Menurut hemat gw sich setuju2 aja, karena kalo kita lihat pada realitas sekarang. pendidikan curang sudah menjadi penyakit akhlak yang belum ada obatnya dan parahnya lagi sudah menjangkit disemua ranah pendidikan. faktual inilah yang sepatutnya kita tendang jauh-jauh, karena jika kita tetap bersikukuh mempertahankan, memelihara dan menumbuh kembangkan sikap “kebinatangan ini”. Niscaya kita tinggal menghitung waktu untuk menyambut hari kehancuran di dunia pendidikan. Pendidikan yang penuh “intrik, kemunafikan, kepalsuan dan kekurangajaran”. kesemua eksplikasi ini diharapkan menyadarkan kita untuk lepas dari belenggu pembodohan sistematis ini.
At last, gw cuma bisa berharap agar pendidikan di Indonesia dapat lebih baik dari yang ada pada saat ini, dengan sarat muatan2 pembenahan akhlak, bukan cuma sekedar pendidikan yang kosong dan sia-sia. kan orang Indonesia pinter2, banyak Prof. Dr. yang nganggur di kampus dan cuma setor tampang muka doank di kampus
By Akhmad Fauji on Dec 5, 2006 | Reply
pada intinya saya sependapat dgn apa yg bapa katakan!bahwa melakukan kecurangan dlm pendidikan sangat-sangat tdak baik.Karna apa?karna pendidikan itu merupakan suatu hal menyangkut kebaikan,karna isinya merupakan hal-hal tntang ilmu-ilmu pengetahuanuntk kehidupan kita dimasa sekarang dan yg akan datang.danjuga merupakan perintah dari Allah SWT.Oleh karna itu apabila dlm pendidikan saja kta curang apalagi dalam hal lain.Tetapi disisi lain saya punya tanggapan tntang Guru Ujian.Kita tdk bisa menyalahkan guru saja,karna kita harus memandang dari berbagai sisi dan faktor yg menyebabkan guru itu melakukan hal tsb.apakah karna faktor moril,materil,maupun faktor untk menjaga nama baik sekolah ataupun karna faktor-faktor lain.harus nya kita juga bsa mengkritik kepada pemerintah yang menerapkan sntdar UAN tanpa memberikan pasilitas dan dana yang memadai kepada pihak sekolah.Jadi menurut saya kita kembalikan saja kepada kesadaran diri kita masing-masing untuk tidak melakukan hal tersebut;karna segala apa yg kita lakukan di dunia ini akan mendapat balasan dri Allah SWT di akherat nanti.
By Helma Novieanty on Dec 5, 2006 | Reply
Menurut pendapat saya,saya tidak setuju dengan adanya sistem “guru curang” karena sama saja dengan pembodohan terhadap anak murid nya,jadi untuk apa seorang guru capek-capek mengajar ke sekolah tiap hari kalau dalam kenyataan pada waktu UN guru juga yang membantu siswa tersebut dalam menjawab soal-soal UN.apakah dalam hal ini tindakan guru-guru tersebut hanya untuk menjaga nama baik sekolah bahkan hanya untuk “gengsi” semata dengan sekolah lain maupun dengan sekolah di daerah lain,harus nya guru lebih bersikap jujur demi tujuan untuk mencapai kemajuan pendidikan di indonesia.Saya pernah mendengar salah satu sekolah di daerah,bahwa ketika UN dilangsungkan ada seorang guru yang memberi catatan berisi jawaban soal di sudut wc,dan tidak lama kemudian datang seorang siswa yang mengambil catatan tersebut,lalu menyebarkannya secara diam-diam di kelas,tanpa sepengetahuan pengawas UN,alangkah MEMALUKAN nya sikap perbuatan guru tersebut,bahkan tindakan guru ini di setujui oleh pihak kepala sekolah.
By Fahrian Hefni on Dec 5, 2006 | Reply
Opini saya tentang pendidikan yang curang, sangat tidak wajar.
Wong jelas-jelas ada peraturan-peraturan yang sudah di tetapkan, masa seorang guru/pengajar semena-mena melanggar.
Misalnya pada UN, fakta berbicara bahwa seorang guru/pengajar malah ikut ngerjain soal,”kaleeeeeeeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!”.
Apa segh tujuan guru/pengajar itu??
Mungkin dia pengen jadi siswa lagi atau saking cinta and sayangnya kepada anak didiknya, mungkin bisa juga pengen meninggikan pamor di sekolahnya.
“Mana mungkin bisa maju pendidikan di negara kita ini wong jelas-jelas mutu pendidikan kita ini kurang di tingkatkan”.
Emang ini adalah suatu permasalahan yang sangat sulit mencari solusinya, karena kebudayaan contek-mencontek sudah mendarah daging di dalam sistem pendidikan di negara ini.
“Saya harap agar kita jangan saling menghitam-kambingkan sesama, tapi yang kita cari adalah cara atau solusi bagaimana mengurangi and menghilangkan kecurangan-kecurangan di dalam sistem pendidikan di negara kita ini”.
Ini adalh permasalahan kita bersama, jadi sepatutnya harus kita pikirkan bersama dengan harapan sistem pendidikan dinegara ini dapat menjadi lebih baik dari sekarang.
Mudah-mudahan ALLAH SWT memberikan jalan keluarnya.
amiennnnnnnnnnn ya robal alamiennnnnnnnnn.
By TONI FEBRUARI (A1A105038) on Dec 5, 2006 | Reply
alhamdulillah saya mah.. kurang mengerti dengan pendidikan curang itu, cuman pada waktu SD, pada waktu saya ujian/EBTANAS, pak guru yang saya sayangi memberikan saya jawaban dari soal-soal EBTANAS. saya terkesima dan terpesona begitu baiknya si bapak guru tersebut, saya terharu, tapi lama kelamaan pikiran saya berubah, dulu saya menilai pak guru mempunyai simpati yang sangat besar terhadap muridnya. maklum, saya mah.. masih ingusan. yang saya tahu cuman perhatian dan kasih sayang. namun setelah saya menginjak ke dewasa, fenomena pendidikan curang itu, makin berkembang pesat dan mengharumkan nama bangsa. serta memberikan perkembangan yang sangat berarti bagi pendidikan kita saat ini. bayangkan saja paket C yang di programkan pemerintah, terhadap siswa-siswa yang tidak lulus ujian, menjadi program yang sangat populer dan diminati pada saat ini. saya mah.. melihat fenomena ini sebagai suatu perkembangan yang sangat ironis sekali, dimana pemerintah saat ini menggembar-gemborkan peningkatan kualitas pendidikan, tetapi solusi yang diberikan jelas-jelas sangat menghancurkan pendidikan, yah.. saya mah… namanya juga manusia mau setuju mau enggak, ngga bakalan bisa ngerubah pola pikir seperti ini. mungkin sedikit pesimis tapi memang itu adanya, maklum kebanyakan orang pintar sih saat ini, jadi dia tidak tahu kondisi kebodohan masyarakat saat ini. akhir kata dari saya orang sunda bilang, dipoyok dileubok’ istilah yang sangat cocok bagi kondisi pendidikan saat ini. hatur nuhun
By FATHUL RIZKIYAH SEJ' 05 (A1A105041) on Dec 5, 2006 | Reply
“Pendidikan curang”….emm..,gimana yach?bingung nech..tapi emang sich kalonya soal nyontek-menyontek emang udah membudaya ‘n menjadi tradisi kita.Yach..ga semua juga sich kaya gitchu.Tapi yang ini udah parah banget,masa seorang guru membantu siswanya dalam menjawab soal-soal ujian.Gila..!!!walaupun dengan alasan untuk kebaikan siswa itu sendiri.Itu malah membuat siswa makin bodoh,otak tempe,ya geto dech.. Seorang guru harusnya mendidik dengan penuh tanggung jawab untuk menciptakan manusia yang berakhlak mulia,bukan malah sebaliknya.Untuk siswanya sendiri sich seneng-seneng azha dibantuin coz dia dapat keuntungan,lulus dengan nilai yang memuaskan walaupun bukan hasil jerih payahnya sendiri.Dengan bangganya menenteng-nenteng ijazah pergi ke PTN,bahkan dengan ijazah Paket C sekalipun.Kecurangan yang kaya begini nich yang susah banget diberantas.SO..mulai sekarang tanamkan kejujuran dalam diri kita masing-masing agar kita tidak menjadi manusia yang BODOH,selalu mengagungkan kecurangan,dan menempuh jalan pintas untuk mencapai tujuan.Gimana,OKE khan…
By M.Rizky Ad'ha on Dec 5, 2006 | Reply
Assalamualaikum…
Waduh2…,semakin sedeng aja pendidikan zaman sekarang ini?? Klo kita berbicara tentang pendidikan curang pasti didalamnya terkandung ketidakadilan dan sama saja pembodohan karakter bangsa(khususnya bangsa elu-elu pade: “Indonesia”). Dari namanya aja kita dapat tau apa sih tu kata “curang”. Mengapa sehh…,pendidikan curang tuh harus terjadi? Menurut hemat saya, banyak aspek sosial yang melatarbelakanginya, kita lihat saja sekarang ini banyak pemiran-pemikiran instant yang memicu kecurangan itu. Meningkatnya standarisasi kelulusan dalam UAN, mengakibatkan siswa maupun guru-guru kalang kabut menyiasati standarisasi tersebut. Diantaranya adanya tekhnik perjokian, si guru memberikan jawaban pada siswanya pada UAN berlangsung dan bahkan dengan tekhnologi hp siswa dapat dengan mudah mendapat jawaban. Saya sendiri sebagai mantan siswa SMA dulu, menyadari akan hal itu. Tapi kebanyakan oknum tersebut melakukannya karena dalam keadaan terdesak akibat standar kelulusan yang tinggi. Secara terang-terangan fenomena ini sudah membudaya di lingkungan sekolah, sekolah sendiri secara tidak langsung diuntungkan karena apabila siwanya banyak yang melampaui nilai standarisasi maka terangkat pula nama besar sekolahnya. Hal ini disadari karena tiap-tiap sekolah mempunyai keinginan untuk mempopulerkan kelulusan siswanya, selain itu juga karena tuntutan persaingan antar sekolah-sekolah unggulan. Dampak yang mendasar dalam “kecurangan” ini berakibat pada sikap mental siswa dan guru dimasa yang akan datang. Tidak habis pikir bagaimana kelak pendidikan di Indonesia bernafas dalam aliran arus “kecurangan” seperti ini secara membudaya dan universal??? Usaha-usaha apalagi yang harus kita tanamkan sampai ke ubun-ubun pikiran kita… Gak usah terlalu banyak teori, yang kita perlukan sekarang adalah solusi nyata yang dapat kita rasakan dari hari ini untuk di realisasikan kepada anak cucu kita kelak……..!!!!!
Wassalammualaikum….
By Dewi komala sari (A1A105002) on Dec 6, 2006 | Reply
assalamualaikum .wr.wb
pendidikan curang …………aduh saya bingung gimana ya ….saya sih sedikit setuju dengan adanya pendidikan curang tetapi saya sangat menyayangkan pendidikan curang itu terjadi besar-besaran di indonesia…..hati saya sangat miris sekali mengetahui adanya pendidikan seperti itu di indonesia sebelumnya saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri sewaktu ujian kelulusan kemaren dimana saya menemukan beberapa jawaban yang sudah menempel dipintu WC,awalnya saya mengira hanya keisengan temen-temen tetapi akhirnya saya tau kalau itu pekerjaan guru saya …….liwar tekajutnya saya mengetahui hal itu …….ternyata hal itu sudah merupakan tradisi dan membudaya disekolah saya dulu ………ha ha ha ha malunya saya mengetahui hal itu,tetapi guru juga tidak bisa di salah kan sepenuhnya dalam hal ini,mereka mungkin niat baik membantu murid-murid tetapi caranya salah …….ya kita cukup berdoa saja semoga paktek seperti ini dapat ditekan dan hilangkan dari kebudayaan kita…..amien….bagaimana indonesia mau maju kalo gurunya saja selaku seorang pendidik belaku curang dan yang lebih menyakitkan lagi siswanya pun mendukung perbuatan itu padahal perbuatan itu memperbodoh mereka termasuk saya ………..ha ha ha ………………..semoga saya tidak lagi bisa bisa dibodohi orang lain …AMIEN……….
……wassalam…..
By jali on Dec 6, 2006 | Reply
Fenomena pendidikan curang saat ini emank menarik dibicarakan, fenomena ini sudah menjamur di seantare Indonesia. Menurut saya Pendidikan curang sangat merugikan terutama buat generasi muda. mereka diajarkan berbuat curang diawal pendidikannya yang akan jadi bekal hidup mereka. Hal ini tentu saja akan jadi batu tajam buat kehidupan mereka kelak. Seharusnya kita sebagai anak didik berusaha meningkatkan kwalitas diri agar bisa mencapai target tanpa adanya kecurangan, selain itu para pendidik juga diharapkan meningkatkan kwalitasnya agar menghasilkan siswa yang berkualitas. Tapi pendidkan curang sepertinya sudah membudaya dimasyarakat kita, hal ini dianggap wajar oleh sebagian komunitas, dalil para pelaku biasanya takut sekolah mereka malu karena banyak siswanya yang tidak lulus UAN, padahal mereka tidak perlu malu kalo emank itu kenyataan disekolahnya, justru mereka harus malu dengan kecurangan mereka yang secara perlahan malah merusak mutu manusia Indonesia. Sebagai calon pendidik kita harus mulai menekankan budaya malu berbuat curang dalam tiap hal.
By Dina yulinda (A1A105019) on Dec 6, 2006 | Reply
Fenomena pendidikan curang saat ini emank menarik dibicarakan, fenomena ini sudah menjamur di seantare Indonesia. Menurut saya Pendidikan curang sangat merugikan terutama buat generasi muda. mereka diajarkan berbuat curang diawal pendidikannya yang akan jadi bekal hidup mereka. Hal ini tentFenomena pendidikan curang saat ini emank menarik dibicarakan, fenomena ini sudah menjamur di seantare Indonesia. Menurut saya Pendidikan curang sangat merugikan terutama buat generasi muda. mereka diajarkan berbuat curang diawal pendidikannya yang akan jadi bekal hidup mereka. Hal ini tentu saja akan jadi batu tajam buat kehidupan mereka kelak. Seharusnya kita sebagai anak didik berusaha meningkatkan kwalitas diri agar bisa mencapai target tanpa adanya kecurangan, selain itu para pendidik juga diharapkan meningkatkan kwalitasnya agar menghasilkan siswa yang berkualitas. Tapi pendidkan curang sepertinya sudah membudaya dimasyarakat kita, hal ini dianggap wajar oleh sebagian komunitas, dalil para pelaku biasanya takut sekolah mereka malu karena banyak siswanya yang tidak lulus UAN, padahal mereka tidak perlu malu kalo emank itu kenyataan disekolahnya, justru mereka harus malu dengan kecurangan mereka yang secara perlahan malah merusak mutu manusia Indonesia. Sebagai calon pendidik kita harus mulai u saja akan jadi batu tajam buat kehidupan mereka kelak. Seharusnya kita sebagai anak didik berusaha meningkatkan kwalitas diri agar bisa mencapai target tanpa adanya kecurangan, selain itu para pendidik juga diharapkan meningkatkan kwalitasnya agar menghasilkan siswa yang berkualitas. Tapi pendidkan curang sepertinya sudah membudaya dimasyarakat kita, hal ini dianggap wajar oleh sebagian komunitas, dalil para pelaku biasanya takut sekolah mereka malu karena banyak siswanya yang tidak lulus UAN, padahal mereka tidak perlu malu kalo emank itu kenyataan disekolahnya, justru mereka harus malu dengan kecurangan mereka yang secara perlahan malah merusak mutu manusia Indonesia. Sebagai calon pendidik kita harus mulai menekankan budaya malu berbuat curang dalam tiap hal.
By Helmiansyah (A1A105028) on Dec 6, 2006 | Reply
Assalamualaikum Wr.Wb…
Pendidikan curang itu dimasyarakat indonesia sudah menjadi budaya sejak adanya keputusan pemerintah tentang diberlakukannya UAN.
dimana para siswa khususnya seorang guru merasa terbebani karena mereka takut ketahuan bodoh dihadapan para muridnya, untuk itu mereka melakukan apa saja untuk menutupi kebodohan mereke tersebut yang salah satu jalannya adalah dengan mempraktikkan pendidikan curang tersebut, lebih gilanya lagi para murid senang dengan hal tersebut.
padahal pada intinya pendidikan yang dilakukan oleh guru mereka adalah bumerang bagi diri mereka sendiri, karene hal tersebut membuat mereka makin bodoh… itukan sama saja kita senang kalau kita diajari yang bodoh-bodoh…
wassalamualaikum wr.wb
By Humaidi on Dec 6, 2006 | Reply
Bila kita kaitkan problem tersebut dengan pengakuan individu sebagai manusia, yang mana manusia itu tebentuk dalam proses kehidupannya dari rasa takut, sedih, senang, bahagia dsb.Apabila sisi positif cenderung/ mendominasi, ini akan mengarahkannya agar menjauhi tindakan semisal curang. Jika sebaliknya dapat ditebak,kan…ia akan curang
Akan tetapi jika kita mencoba menarik kembali sejarah hidup manusia semisal munculnya untuk pertama kali individu yang sekarang lebih dikenal dengan manusia, awalnya mereka tidak terlalu memusingkan soal keadilan juga kecurangan yang ada hanya pikiran bagaimana agar bisa betahan hidup.
Bila diamati fenomena tersebut, tentunya kita sadari mungkin yang sekarang terjadi pada lembaga pendidikan sama halnya dengan keadaan yang dialami manusia pertama, yakni sama-sama ingin mempetahankan eksistensinya terutama dalam hal kelangsungan/ berjalannya lembaga tersebut.
By dwi setiowati ( A1A105027 ) on Dec 8, 2006 | Reply
Ass…ogut sih setuju aja ama pendapat anda,saya sebagai salah satu alumni sekolah yang dianggap orang “terpandang” merasakan hal itu.teman-teman ogut yang ikut ujian susulan mendapatkan jawaban dari pengawas ujiannya N kebetulan banget pengawas ujiannya guru-guru ogut juge.sempet sih ada rasa kesel ama hal itu,tapi mau gimana lagi pandidikan curang udah jadi budaya sih.tapi ogut ga bisa munafik,tanpa adanya pendidikan curang teman-teman baik ogut ga lulus,but sebagai salah satu kandidat pendidik,ogut berharap pendidikan curang ini bisa dikurangi ato bahkan dihapuskan.agar orang-orang yang benar-benar memilki potensi bisa unjuk gigi.Hanya Allah yang tahu.Wassalam…
By hamidah ulfah ( A1A105021 ) on Dec 8, 2006 | Reply
Assalamualaikum,wr wb… Saya sich sependapat aja sama apa yang bapa kemukakan di atas tentang PENDIDIKAN CURANG.Memang hal tersebut sudah mendarah daging di dalam bangsa kita sendiri dan sulit sekali untuk dihilangkan.Sebaiknya hal itu tidak dilakukan oleh seorang pendidik/guru,karena secara tidak langsung perbuatan tsb menjadi contoh yang tidak baik bagi generasi muda masa depan.Untuk itulah bagaimana cara agar pemerintah dalam hal menetapkan nilai standar kelulusan bisa dilihat sistematis kondisi dari jenjang pendidikan itu apakah sekolah itu bisa mencapai target yang diinginkan atau tidak.Untuk mengubah sesuatu hal dari yang tidak baik menjadi lebih baik lagi,hanya dari niat individu tsb serta usaha.dan pada akhirnya kita kembalikan lagi kepada yang TUHAN YANG MAHA ESA…Wassalamualaikum.wr wb…
By istiqomah ( A1A105031 ) on Dec 8, 2006 | Reply
Kalo menurut saya sih pendidikan curang khususnya dalam masalah ujian nasional itu harus ditindak, tapi kalau melihat keadaan yang telah terjadi para aparat dan pihak yang bersangkutan malah tenang-tenang saja. Adanya bantuan dari pihak guru yang ikut dalam ujian nasional, bukan membantu para muridnya tapi semakin membuat mereka besar kepala. Hal ini akan berakibat pada masa depan mereka, bila ingin melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Dalam pikiran mereka mungkin akan tertanam bahwa, walaupun tidak berusaha dengan keras dalam pendidikan mereka akan terbantu lagi seperti pada waktu sebelumnya padahal tidak. sepertinya mutu pendidikan indonesia masih dibawah, jadi untuk menaikkannya dilakukanlah pendidikan curang hehehehe…….
By kamsinah ( A1A105037 ) on Dec 8, 2006 | Reply
Menurut pendapat saya mengenai PENDIDIKAN CURANG itu memang sudah jadi tradisi orang kita n sangat SULIT untuk DIRUBAH karena kebanyakan dari orang-orang kita, sejak dari kecil sudah dilatih untuk bersikap curang dan tidak jujur, BUKAN SALAH IBU MENGANDUMG ,tapi salah siapa?….,Lingkungan n keadaan yang MEMAKSA seseorang untuk berbuat curang.Jadi ayo kita rubah keadaan ini,DENGAN APA?????????????,Tentunya dengan sistem or aturan yang LEBIH BAIK DONG!!!!!!!!!!!
By Hartoni on Dec 10, 2006 | Reply
Bagaimana ya,,!bingung juga saya wong dah jadi budaya tuh,yang namanya “CURANG” dari dunia paling bawah sampai sampai yang paling atas,tapi yang sangat perlu untuk disesalkan MENGAPA hal serupa juga terjadi di DUNIA PENDIDIKAN (why).
Dunia yang seharusnya mengajarkan kebenaran dan mendidik pesertanya untuk menjadi “orang yang baik” oh,,, dunia2006x..! Ya wes to, sekarang tinggal kita sebagai insan pendidikan,apakah akan diam saja melihat fenomena ini? “Tentu tidak” mari kita saling membahu untuk cari “SOLUSI” salah satunya saya setuju seperti apa yang telah You ‘n Fatner lakuin,,,,,, mudah-mudahan ALLAH menberikan jalan yang terbaik ntuk “KITA”…..amiin…!!!
By lauda ima on Dec 15, 2006 | Reply
menurut pendapat saya tentang pendidikan curang kalau dalam pendidikan terjadi kecurangan bagaimana pendidikan di Indonesia dapat menghasilkan generasi yang dapat di harapkan kalau cara kelulusan nya saja dari hasil kkn hanya demi kepentingan pribadi disaat negara lain sudah maju pendidikan nya kita malah makin terpuruk [oranglain berlari kita baru belajar merangkak]
By Nanny on Dec 20, 2006 | Reply
Mengomentari tentang tulisan artikel “pendidikan curang” sekilas membuat saya terhenyak dan mengingatkan saya kembali kepada memori 3 tahun yang telah lalu dimana masih berada di bangku sekolah SMU. Sama seperti anak-anak remaja lainnya ketika menghadapi UAN, pikiran semakin bertambah ada semacam beban mental mempersiapkan diri belajar sekaligus di liputi perasaan was-was menanti detik-detik yang menegangkan yaitu penentua kelulusan d tingkt akhir nasional. Lebih-lebih ketika di umukan target nilai UAN (Nilai Standar) yang harus di capai membuat para siswa gusar, karena nilai standar tersebut di nggap lumayan tinggi. Padahal jika di bandingkan dengan negara-negara lainnya sebut saja seperti negara tetangga Brunai dan Malaysia, angaka untuk nilai standar yang di patok oleh pemeintah kita yang berada > 3,00 amat sangat lah jauh dengan nilai UAN yang di patoknegara tetangga yang sudah berkisar pada > 6,00. Wow! suatu perbandingan yang luar biasa buat negara kita yang dari dulu smpai sekarang mutu pendidikan kita dalam hal kualitas masih rendah.
Kegelisahan yang di alami oleh para siswa alm menghadapi UAN ternyata juga membuat para guru di sekolah ikut gelisah, khawatir menunggu hasil UAN. Apakah ini semacam ikatan emosional (ikatan batin) antara anak murid dengan guru, entahlah, yang jelas di saat detik-detik menegangkan tersebut para guru deengan belas kasihnya ikut turun tangan. Dengan kata lain ikut membantu siswanya sedikit memberikan bocoran kemungkinan-kemungkinan jawaban yang akan keluar ketika UAN berlangsung.Memang, begitulah apa adanya pendidikan kita begitu curang, memprihatinkan, tanpa ada solusi yang tepat untuk mengatasi hal tersebut. Masalah pendidikan curang yang terjadi di sekolah berlanjut juga sampai ke perguruan tinggi dimana hal-hal yang berkitan dalam contek mencontek atau “ngerpe” yang di tulis dalam bentuk tulisan di selebaran atau kertas lembar yang kemudian di sisipkan di balik tas atau apalah…sudah menjadi rahasia umum. Saya sempat kesal dengan hal-hal tersebut karena berdasarkn pengalaman (maaf) kejujuran tidak selalu di junjung tinggi. Semua ketika menghadapi ujian menganut aliran Machiavellan (menghalalkan segla cara). Dan parahnya, entahlah apakah ini semacam kebetulan. Orang yang belajar serius (mempraktekkan kejujuran) terkadang tidak lah dapat mendapatkan nilai yang mulus. Celakanya orang yang mencontek mendapatkan nilai yang bagus, bahkan cenderung orang yang di ciontek nilainya jelek ke timbang orang yang mencontek. lalu dimanakah letak nilai keadilan tersebut??? Saya benar-benar kesal melihat kenyataan tersebut, karena saya pernah mengalaminya (dapat nilai jelek ketika di contek orang). Karena kesal, saya pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti aliran Machiavelian, toh sama saja hasilnya dengan oang-orang yang mencontek. Enak juga sich…he..he dan menjadi kebiasaan. Tapi lama-lama saya sadar dan berfikir jika saya terus-terusan seperti itu, mau jadi apa diri saya kedepannya karena tidak jujur. Pendidikan curang saya rasa perlu di atasi karena hal ini jika di biarkan sampai masa yang akan datang keadilan dalam pendidikan tak akan pernah berdiri tegak . Karena pendidikan curang sudah menyngkut masalah moral(akhlak). sebenanya kalau di tilik lebih dalam lagi hal tersebut merupakan semacam penyakit psikis yang ingin berbuat curang. Sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja kecurangan itu akan menghaslkan hasil yang buruk. Lantas bagaimaakah solusi yang tepat dalam mengatasi hal tersebut? Kiranya menurut saya lebih tepat jika di dalam pendidikan itu di perluaka apa yang di sebut dengan inovasi pendidikan. Mari kita mulai dari hal yang terkecil saja dulu yaitu dari diri sendiri, intinya belajr untuk jujur, jujur pada diri sendiri kemudian jujur dengan oang lain. Maka dari itu, jagalah hati… jangan kau nodai… he..he. seperti lagunya aagym gito loh!!
By Hilaire Shichiro on Jul 23, 2007 | Reply
You don’t know how lucky you are boy. Hilaire Shichiro.
By TannyLocker on Jul 27, 2007 | Reply
This day I find some files of free porn video download.
By Azha on Sep 28, 2007 | Reply
Very nice. Love this place! Keep up the good work!
By teectillson on Jan 28, 2008 | Reply
Good site
http://www.google.com - xamasapa