Ramai Rasanya

25 October 2006 | Ditulis oleh: |

Wahyu, dosen FKIP Unlam sangat punya ‘urat malu’ kalau tidak menulis. Tergolong rajin malahan. Buku terbarunya, Perubahan Sosial dan Pembangunan adalah bukti. Buku tersebut, kalau dari judul dan disain kulit, bak buku teks. Padahal sajian campuran buku ajar dan artikel populer.

Pada Pendahuluan diintro-dusir ‘keberhasilan’ pembangun-an nasional era PJPT I berbuah masalah pada PJPT II; kesenjangan atau ketimpangan antardaerah, antarsektor, antar-usaha, dan antargolongan pendapatan dalam masyarakat (p.xiv).

Pada Bagian Teori Perubahan Sosial (I), Pengertian Perubahan Sosial (A) dipapar sangat akademik. Hal sama pada Teori Perubahan Sosial (B): teori evoluisoner, siklus, fungsional dan konflik. Hanya saja bisa dipertanyakan, kalau ada teori evolusioner bagaimana ‘gagasan’ Sztompka, puncak perubahan sosial adalah revolusi? Sampai Sumber-Sumber Perubahan Sosial (C), Efek-efek Perubahan Sosial (D) dan Hasil-hasil Penelitian Tentang Perubahan Sosial (D), aman-aman saja.

Bagian Dinamika Pemba-ngunan (2), langsung menukik ke Menyoal Bangsa Indonesia (A) terus ke Politik Lokal sampai Kepemimpinan dalam Masyarakat Multikultural (I). Sayang tanpa dasar teoritik.

Kalaulah dibeking, kajian Alvin Toffler, mengsehadapkan refor-masi pascah Orba akan sangat menarik. Dari tiga revolusi kehidupan, perubahan sosial dahsyat dalam bentangan historis, dari masyarakat peramu ke pertanian, pertanian ke industri, industri ke informasi, di mana posisi Indonesia?

Perubahan konkret apa buah reformasi? Kalau sistem paternalistik masih dominan, ama aja boong. Perlu disimak muatan ‘modal sosial’. Jangan-jangan, (Tonnies, 1955), masyarakat kita masih gesellschalft, baru me-nyentuh gemeinnschalft.

Ibarat lari, Wahyu suka melompat-lompat. Kalau beramsal makanan, lidah kecut, asin, manis, terkadang pedas. Rupa-rupa rasa tercicip. Bak iklan permen nano-nano, ramai rasanya.

Memasuki Bab Pendidikan: Suatu Tinjauan Sosiokul-tural, tidak dibeking hal-hal fundamental; sajian filosofis, aliran, pemikiran inovasi pendidikan. Sajian remeh-remeh merangsang berpikir, semisal ikan bushido, anjing buldog, samuel undong. Dikunci sajian memantik, mengelitik, bahkan memaki sikap kurang cerdas terhadap pendidikan.

Bab Kepemimpian dan Generasi Muda (4), Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan (5) dan Keluarga dan Masyarakat (6), bukanlah sajian yang padu. Dapat dimaklumi, berasal dari kumpulan karangan. Tidak heran, buku sarat ide.

Akhirnya, buku ini harus disambut positif. Bolehlah kita merindu, Doktor, Profesor dan pejabat birokrasi kampus mampu membuat satu buku dalam setahun. Bisa-bisa ratusan buku ‘lahir’ dari rahim intelektual Kalsel. Nggak usah deh bangga tidak menulis buku. Jangan pernah (lagi) memberi alasan untuk tidak menulis buku. Alasan adalah musuh berkarya.

Bagaimana menurut Sampeyan?

, dosen FKIP Unlam sangat punya ‘urat malu’ kalau tidak menulis. Tergolong rajin malahan. Buku terbarunya, adalah bukti. Buku tersebut, kalau dari judul dan disain kulit, bak buku teks. Padahal sajian campuran buku ajar dan artikel populer.

  1. 2 Responses to “Ramai Rasanya”

  2. By ahmad_salehudin on Feb 14, 2008 | Reply

    Bagi sahabat-sahabat yang tertarik dengan budaya Melayu, silahkan buka http://www.melayuonline.com

  3. By ahmad salehudin on Feb 14, 2008 | Reply

    Bagi sahabat-sahabat yang tertarik dengan budaya Melayu, silahkan buka http://www.melayuonline.com - wisatamelayu.com - rajaalihaji.com

    selain itu, jika sahabat2 mempunyai tulisan tetang Melayu dan ingin dipublikasikan melalui media online, kami siap memfasilitasi.

    salam

    Ahmad Salehudin

    ***Yoi makasih informonya

Post a Comment