Pimpinan Proyek

8 October 2006 | Ditulis oleh: |

Tayangan website Banjarbaru 2020 di tugob –-semacam komputer dinding— di kantorku sungguh membuat heran. Bagaimana tidak. Website kota yang tengah berbenah membangun itu hanya berisi informasi-informasi sederhana. Mana pula, disainnya sangat awam. Padahal, ketika itu, SDM Pemko Banjarbaru —dulu begitu nama kota yang kini menjadi metropolis Banzharbharo— rata-rata pascasarjana, bahkan banyak yang Doktor.Sedang asyik menikmati keheranan, sinyal digital pintu kantorku berisyarat. Ku tekan window remote. Begitu pintu terbuka, Mithako, mahasiswi bimbinganku, muncul di pintu.

“Mat Pagi, Pak”.
“Ya. Datanya dapat?”, tanyaku sedari Mithako berjalan ke meja kerjaku.
“Dapat, Pak”, jawabnya sambil menghempaskan pantatnya di kursi.
“Sudah dianalisis?”.
“Sudah. Saya jadi paham”.

***
Pada waktu itu, seabad yang lalu, tepatnya tahun 2020, di Banjarbaru dilakukan program perumahan guru-guru. Dengan penduduk 500.000 orang, ada 20.000 ribu guru. Nah, karena program sarana dan prasarana pendidikan serta kualitas guru sudah mencapai standar ideal, pemerintah kota melakukan program perumahan bagi guru-guru.

Menariknya, guru-guru yang sudah punya rumahpun mendapat jatah. Pembiayaannya, disamping dari ABPD Banjarbaru, dibantu UNDP dan Pemerintah Pusat. Hingga, harga wajar rumah tipe 40 yang Rp.250 juta, bisa ditekan menjadi Rp.150 juta.

Karena Pemko tidak mempunyai lahan maka dikerjasamakan dengan seorang pengusaha yang punya lahan di empat penjuru kota. Di utara, selatan, barat dan timur masing-masing dibangun 5.000 rumah. Dibuat beberapa kesepakatan dengan pihak Pemko. Kespakatan tersebut ternyata ‘dimainkan’ pimpinan proyek, terkenal dengan singkatan pimpro waktu itu, Bapak Xtrum.

“Xtrum itu nama atau apa, kog aneh”, kataku memotong paparan Mithako.
“Bukan Pak. Itu nama samaran buat Si Pimpro”.
“Kenapa saya tidak boleh tahu namanya. Saya kan pembimbingmu?”.
“Ini soal etika, Pak. Kalau ditulis aslinya, nanti timbul masalah”.
“Maksud kamu, pigi mana”, saya mencoba memahami setengah bingung.
“Setelah ditelusuri, Si Pimpro itu kakek Pak Dekan paling Bapak percaya”.
“Maksudmu?”.
“Kakek dari Prof.DR. Kasihana, PP, Dekan Fakultas Genetika Buaya Rawa yang Bapak bangga-banggakan”.
“Jadi, kamu rahasiakan karena takut aku sampaikan kakeknya pejabat curang?”.
“Persis”.
“Ya, sudah. Teruskan paparan risetmu.
***

Sebagai pimpro, Xtrum sangat giat mengurus soal pembangunan rumah para guru. Dia melakukan lobi-lobi intensif ke Rhodesia, pusat UNDP. Kebetulan, sebagai ahli penyakit dalam wanita, para pejabat UNDP, adalah teman-temannya dari berbagai fakultas di universitas Republik Nauru di lautan pasifik. Berkat jaringan itulah Banjarbaru mendapat bantuan perumahan untuk guru-guru sampai hampir separoh harga rumah.

Sebagai pemimpin yang menjaga nama bangsa dan negara, Xtrum sangat hati-hati mengelola bantuan. Apalagi, para pendana dari negeri-negeri maju sangat ketat mengawasi. Salah sedikit, apalagi sampai korupsi, bisa-bisa bantuan langsung dihentikan.

Hebatnya, atau liciknya, Xtrum sudah mengatur nun di pusat UNDP bahwa bantuan seharga Rp.100 juta per guru khusus diperuntukkan untuk membeli lahan. Karena harga per unit rumah Rp.250 juta, untuk bangunannya dikredit para guru, Rp.150 juta dalam 20 tahun. Disitulah permainan cantik Xtrum.

Bekerja sama, atau tepatnya mengkadali, Tuan Tanah Ngiungin, dibuat kesepakatan ‘canggih’, harga jual tanah itu Rp.25.000 per meter. Tuan Tanah Ngiungin tidak bisa berkutik, sebab kalau tidak mau, akan memilih lahan lain. Tentu saja Ngiungin tidak berkutik. Apalagi bisnisnya sedang menukik.

“Pian membeli tanah itu kan hanya Rp.20.000. Untung bersih Rp.5.000 per meter”, kata Xtrum setengah mengancam.
“Iya. Tapi bagaimana kalau Rp.30.000, biar saya untung agak lumayan. Dana dan keuntungan untuk mengimbuhi proyek Teropong Bintang yang rugi”, katanya setengah mengetuk pintu hati Xtrum agar diberi sedikit belas kasihan.
“Tidak bisa. Segala urusan, termasuk dengan BPN, saya ambil alih. Rp.25.000 itu bersih. Biaya lainnya, saya yang tanggung”, Xtrum menekan tanda tawarannya final.
“Ya, Pak. Tapi kontrak pembelian seharga Rp.100.000. Selisihnya terlalu banyak”, Ngiungin masih berusaha membuka peluang.
“Kamu ini bagaimana. Saya kan harus membagi-bagi kepada orang lain. Biaya itu yang mahal. Masyak pengusaha saja tidak paham. Kalau begitu ya sudah. Kesepakatan batal”, Xtrum mengancam sempurna sambil berkata: “Maaf saya ada tamu. Kasihan dia terlalu lama menunggu”.

Bak tentara kalah perang, Ngiungin dengan lemas berkata: “Iyalah Pak”.
“Itu baru bagus. Kamu urus dengan Antoitip. Jangan dengan Pampadian, nanti urusannya jadi rumit. Dan … secara administratif buat serapih mungkin. Selisih harga kirim melalui rekening rahasia saya di Cayman Island”.
***

Berikutnya Xtrum mendatangi teman-temannya sesama pejabat sembari memberi penawaran menggiurkan.
“Untuk proyek perumahan 20.000 rumah guru-guru, saya sudah sepakat dengan Pak Ngiungin, harga lahan Rp.90.00 per meter. Kalian ikutlah sebagai investor, minimal 2.000 rumah per orang, untuk pembelian lahannya. Dalam tempo tiga bulan, untung per meter Rp.10.000. Sebab, begitu proyek dimulai —tiga bulan lagi— pembelian lahannya dibantu UNDP. Saya atur semuanya. Kalian tinggal bersihnya saja”, begitu kuliah tawaran menggiurkan Xtrum. Beberapa rekannya tergiur.

Dengan berbagai cara, karena rata-rata dibawah kepemimpinan Guvurnur Larantua, para Kepala dinas sibuk dan mencurahkan energi membangun Banzharbaro, Xtrum bebas menerapkan otak kotornya mengeruk keuntungan. Segala biaya dibebankan kepada Pemko dan memanfaatkan bantuan khusus pembangunan guru yang memang telah dianggarkan.

Hitungan kasarnya, dari pembelian lahan saja, Xtrum mengaet untung hampir Rp.70 juta per rumah. Kalau dikalikan 20.000 tentu susah menghitungnya, apalagi di tahun 2020. Kalkulatur tercanggih saja susah memuat digit angka perhitungan. Belum lagi dari pembangunan rumahnya. Tidak heran, Xtrum adalah pejabat paling kaya saat itu.

Setelah proyek perumahan selesai, semua orang senang. Perumahan guru-guru adalah yang paling bagus untuk ukuran nasional. Xtrum beserta keluarga besarnya berlibur ke Kutup Utara. Bahkan tetanga-tetangganya diikutkan, hingga pesawat Airbus 500 hampir saja tidak muat.

Kalau mujur datangnya tidak terduga, malang tidak dapat dihindarkan, Allah SWT yang mengatur hidup manusia, Airbus 500 jatuh di Laut Utara Jepang. Xtrum dan seluruh kelurga dan tetanga-tetangganya meninggal dalam kecelakaan tragis tersebut. Datang dari Allah kembali kepada Allah.

Sebulan setelah peristiwa tragis tersebut, provinsi Banzharbharo dibikin geger. Pihak bank dan asuransi kebingungan, kemana harta kekayaan diberikan. Seluruh keluarga Xtrum meninggal. Setelah melalui proses penyelidikan yang rumit dan panjang, akhirnya setahun kemudian baru ditemukan solusinya.

Rupanya, diantara wanita-wanita simpanan Xtrum, sekalipun sakit-sakitan menderita AIDS, rupanya ada yang mempunyai seorang anak yang dititipkan pada sebuah panti asuhan. Dialah Bapak dari Prof. Dr. Kasihana, PP, yang kini menjadi Dekan Fakultas Genetika Buaya Universitas Banzharbharo.
***

Rupanya, hari itu, aku ditakdirkan mendapat berbagai kejutan. Tanpa diduga, pintu kantorku memberi isyarat, ada tamu. Ku pencet window remote, dan … ternyata Prof. Dr. Kasihana. Seperti biasa, dia langsung duduk di kursi tamu. Kini kami bertiga.

“Pak Presiden –-sebutan untuk pimpinan universitas— saya ingin melapor. Saya kan tidak punya anak. Harta peninggalan Kakek dan Bapak saya kan sangat luar biasa banyaknya. Saya ingin menyumbangkan seluruhnya untuk kemajuan pendidikan. Kalau untuk hidup sehari-hari, gaji sebagai dosen dan Dekan, lebih dari cukup”.

Aku tidak sempat mengomentari usulan Kasihana, hanya memandangnya dengan tajam. Kemudian saling pandang dengan Mithako. Mithako mengangguk yang susah ku diartikan.
Ternyata jam menunjuk angka 09.00. Aku harus segera ke kantor, mengurus persiapan Aruh FKIP Unlam 2004.

Banjarbaru, 4 September 2004.

Post a Comment