Guvurnur Banzharbharo

8 October 2006 | Ditulis oleh: |

Mataku terasa perih. Badan terasa lemas. Tapi, aku baru saja menemukan ‘sesuatu’ yang teramat penting. Informasi dari tugob –-semacam komputer dinding— di Perpustakaan Universitas Banzharbaro otomatis menghilangkan kelelahan. Sebulan penuh aku mencari file penting bermuatan informasi tentang Guvurnur Banzharbharo yang terpilih tahun 2102.Aku segera ke ruang kantin di sudut perpustakaan. Alhamdulillah, disamping beberapa kaleng orange juice masih tersisa beberapa bungkus kolipes -–makanan khas Amuntai, adonan dari belibis dan pisang— tergolek pasrah.  Sungguh lezat. Aku menarik napas dalam-dalam, dalam sekali.

Kembali ke tugob kucermati dengan sungguh-sunguh. Guvurnur itu bernama Pahuluan Awed. Ia terpilih dalam pemilihan guvurnur periode 2102-2109 dari Partai Pendidikan dengan kemenangan mutlak mengungguli pesaingnya, Lupur Irhak, dari Partai Sekutu Bumi dengan perbandingan suara 10.100.771 melawan 37.543 suara. Kunci kemenangan Pahuluan Awed adalah tema kampanyenya soal lingkungan. Awed dan tim suksesnya merumuskan: Industri yes, eksploitasi SDA No.

Kemenangan Awed sungguh mencengangkan. Dia seorang pengusaha intelek. Punya rumpun usaha bernama Bada Tana Pertiwi yang bergerak dihampir semua sektor ekonomi. Awed bukan pengusaha bermodal otak udang sebab dia adalah lulusan terbaik sekolah bisnis ternama Zimbawe, National Bussines School of Economics. Iapun sempat menjadi komandan Pasukan Perdamaian PBB di kawasan Antartika ketika terjadi perang antara Australia dan Selandia Baru memperebutkan pusat sumber es dunia.

Provinsi Banzharbharo, dulunya berasal dari provinsi Kalimantan Selatan, tetapi karena banyak daerah memisahkan diri atau bergabung dengan provinsi lain, tinggal beberapa kota saja. Itulah sebabnya terkadang disebut Kalsel Kecil. Nah, kawasan miskin SDA ini oleh Awed berhasil dirubah paradigma pembangunannya menjadi industri pendidikan dan industri otak.

Sejak kepemimpinan Awed, 5 tahun lalu, masyarakat Banzharbharo mengambil tindakan drastis. Pembangunan difokuskan pada pembangunan sumberdaya manusia dan mengharamkan ekploitasi sumberdaya alam. Mula-mula banyak ditentang, terutama para pejabat pemerintah pusat yang didukung pemilik modal luar negeri, tetapi masyarakat Banzharbharu sepakat, ya itu tadi, mengharamkan ekploitasi SDA.

Model pembanguan sedemikian dimulai sejak guvurnur Taktaking yang digantikan Awed, dan pada masa pemerintahan Awed, fokus pembangunan SDM lebih dipertajam. Tidak heran, tahun 2106, saat riset ini kulakukan, Banzharbharo berkembang menjadi center of exellent Indonesia. Pendidikan terbaik di republik Indonesia, dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi, ya terfokus di Banzharbharo. Itu pulalah sebabnya, Banzharbharo satu-satunya provinsi di Nusanatara yang masih menyisahkan tanda-tanda ketropisan. Provinsi lain telah berubah menjadi lautan padang pasir.

Posisi itu dilalui melalui perjuangan sangat gigih gempita. Pada tahun 2104, ketika negara-negara kapitalis melalui pemerintah pusat memaksakan ekploitasi emas, masyarakat Banzharbharo menolak tuntas. Sampai-sampai sempat memproklamirkan berdirinya Republik Banzharbharo. Tentu saja pemerintah pusat mengirimkan pasukan dibantu tentara internasional. Beberapa tempat sempat dibombardir.

Masyarakat tidak melawan, walapun jatuh korban ribuan penduduk. Akhirnya, pemerintah pusat dan masyarakat internasional sadar, cara kekerasan sangat tidak tepat. Banzharbharo dibiarkan membangun sesuai konsepnya. Para pemodal yang menanamkan modal di pertambangan emas Cempaka terpaksa hengkang ke negerinya. Provinsi Banzharbharo bebas dari ekiploitasi SDA yang tidak menguntungkan penduduknya sama sekali.

Inilah kekalahan paling besar kapitalis dalam mengekploitasi SDA di Nusanatara. Bagi masyarakat Banzharbharo sederhana saja, seratus tahun eklpoitasi yang dilakukan hanya menghasilkan satu hal, kerusakan lingkungan seluas 1.000 hektar. Pahuluan Awet makin populer dan kepemimpinannya dijadikan model oleh provinsi lain.
    ***

Aku sungguh terpana. Dari riset yang melelahkan itu, ternyata kebijakan pembangunan dibawah kepepimpinan Pahuluan Awed sangat membumi. Pembangunan bertumpu pada pembangunan SDM berbasis lingkungan. Tidak heran, Banzharbharo menjelma menjadi pusat intelektual dan parawisata dunia.

Persoalan muncul, ketika teman-teman di kampus menjagokan aku agar bersaing melawan Pahuluan Awed untuk masa jabatan guvurnur 2007-2014. Memang, teman-teman di Universitas Bhanzharbaro memberi dukungan penuh. Kalangan LSM, apalagi pencinta lingkungan, kaum wanita, anak-anak muda memberi supor. Sebagai peneliti di kampus, sebenarnya aku lebih senang mengajar dan meneliti. Tapi situasi menghendati aku harus maju. Dalam teks kuno, aku pernah menemukan, era Orde Baru di Indonesia, seabad lalu, kata-kata tersebut berarti sama dengan ‘rakyat menghendaki’.

Yang tidak habis kumengerti, kenapa Pahuluan Awed harus disainggi atau diganti karena hanya kesalahan kecil. Pada tahun 2105, setelah serangan pemerintah pusat, Awed melepaskan beberapa orang pengusaha hitam yang dipenjarakan karena kecurangannya dalam perdagangan. Semangat masyarakat Banzharbharo memang anti kecurangan, terkenal dengan istilah KKN seabad lalu. Kebetulan, para pengusaha itu saudara atau kroni para petinggi pusat.

Dari riset baru aku tahu, Awed melakukan itu berdasarkan pertimbangan,  daripada menghabiskan energi dan waktu mempersoalkan para pengusaha curang tersebut, apalagi sampai terjebak polemik berlarut-larut, lebih baik dipersonanongratakan, tidak boleh sekedar berkunjung ke Banzharbaro apalagi berusaha. Nah, kebijakan sedemikian dapat reaksi keras masyarakat. Awed jadi bulan-bulanan pers. Berbagai usaha ‘penggulingan’ dilakukan.
    ***

Pagi itu, 24 November 2106, seluruh petinggi kampus, kalangan LSM, tokoh-tokoh masyarakat berkumpul di aula universitas. Oleh pengatur acara aku dipersilahkan memaparkan hasil riset. Ketika digadang-gadang untuk dicalonkan meminta waktu sebulan melakukan riset mengkaji peluang dan hambatan untuk merumuskan strategi menuju B.1 (Guvurnur Banzharbharo).

“Ibu-ibu, Bapak-Bapak, dan hadirin sekalian”, kata saya membuka pertemuan, “mari kita dengungkan pekik perjuangan: Banzharbharo Jaya, Banzharbharo Huibat”. Belum kata-kataku habis terucap, aula bergemuruh gaung tepukan. Sampai-sampai hadirin berdiri berpekik ria mengacungkan tangan: Banzharbharo Jaya, Banzharhbaro Huibat. Banzharbharo Jaya, Banzharbharo Huibat”.

“Pak Dekan”, kata saya lurus memandang Dekan Fakultas Agama dan Etika hingga semua mata tertuju padanya, ”Di Bhanzharbaro kita berhasil menerapkan syariat Islam. Menurut riset, dulu kampus atau kantor-kantor pemerintah jorok. WC bau, sampah berserakkan, kini menjadi tempat paling bersih. Kalau diundang rapat jam 09.00, orang-orang datang jam 10.00, banyak alasan yang dikemukakan. Kakek-kakek kita bangga menjadi Muslim, tapi mereka mengingkari ajaran Islam, melecehkan Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW tentang waktu dan kebersihan. Kini diundang jam 09.00, jam 08.50 sudah berkumpul.

“Hingga”, kata saya  menarik nafas panjang, “kini kita menjadikan tempat dimana saja menjadi tempat yang nyaman, indah, bersih, dan aman. Saudara-saudara kita dari agama lain juga hidup dan berkehidupan penuh keselarasan. Banzharbharo menjadi pusat pendidikan dan penelitian kemajuan Islam, bukan saja teori, tapi dipraktekkan”. Tepuk tangan menghilangkan suaraku yang terkenal sangat lantang.

“Pak Dekan Fakultas Pertanian”. Kalau di jaman kakek kita dulu, universitas menjamur bak cendawan di musim hujan. Kita mempunyai ribuan sarjana, master, dan doktor pertanian, tapi kita harus mengimpor bibit jeruk, durian, padi unggul dari Bangkok. Konon, 80% rakyat kita —jaman kakek kita dulu—bergerak di sektor pertanian, tapi kita menjadi pengimpor segala produk makanan paling besar di dunia. Kini kita adalah pengekspor produk pertanian untuk masyarakat di provinsi lain.

“Bukankah seperti Pak Dekan bilang”, kataku melayangankan pandangakn ke dekan Fakultas Hukum. Dulu, negara kita terkenal sebagi jawara korupsi. Penegak hukum kita, seperti sekarang, banyak yang lulusan fakultas hukum, tapi penegakkan hukum mandul. Kita teriak-teriak soal illegal logging, illegal mining dan sebagainya, tapi konon dibiarkan berkiprah di depan mata. Kini, hukum dijunjung tinggi. Banzharbharo bebas dari praktek kecurangan hukum dan itu, banyak sedikitnya, karena penegak hukum lulusan fakultas hukum kita menjadi pelopor. Aplaus makin menjadi-jadi.

Kalau dulu, untuk menyumbang iuran Komite Sekola Rp.15.000 bak jihat fisabilillahk Guru-guru kita, kita miskinkan. Kini 30% APBD untuk pendidikan dan 25% pendapatan kita masing-masing disumbangkan untuk pendidikan hingga kita tidak saja memberi beasiswa kepada saudara-saudara kita dari belahan Nusantara, tapi kita memberikan untuk negara-negara terbelakang seperti di Eropa dan Asia Timur. Kasihan mereka hancur berperang karena keserakahan.  “Bukankah begitu Pak Dekan Fakultas Pendidikan?., kataku yang lagi-lagi mendapat tepuk tangan panjang.

Perikanan kita berkembang pesat, hutan kita tidak digunduli tapi justeru ditanami hingga menjadi paruh-paruh dunia. Pembangunan fisik kita mengacu aturan konstruksi, tidak ada aspal 1 cm demi meraup untung atau bangunan runtuh begitu diresmikan. Di Banzharbharo, apa-apa yang ideal kini bukan diwacanakan, tapi dipraktekkan dan diperbaiki terus-menerus.

Oh ya. Dulu, konon, pejabat-pejabat kita, bergantian tiap minggu, melakukan kunjungan kerja atau studi banding. Teman-teman di legislatif, eksekutif dan yudikatif saling adu pintar bikin proyek itu, kini orang luar yang kita bimbing. Tidak usah kunjungan kerja atau studi banding ke Banzharbharo, kita sadarkan, cari saja informasi di internet, lalu uang untuk kunjungan kerja itu gunakan langsung. Kita tidak repot, mereka tidak capek-capek datang ke Banzharbharo.

Lihatlah, Dekan-Dekan kita, kepala-kepala dinas kita, begitu lincah memainkan tuts komputer menjelajahi internet, toko-toko buku buku di Banzharbharo menjadi paling laku di dunia, mereka membaca, iqra’ iqra’ iqra’ bukan bergunjing soal jabatan atau berdiskusi memantapkan modus operandi korupsi di lapangan golf sambil berjudi. Kita melakukan revolusi tindakan, sedikit bicara banyak kerja.

Karena itu … sebagai insan kampus, lebih bijak kita memfokuskan diri untuk pendidikan dan peneltian. Maaf, dulu kakek saya, EWA pernah menulis buku tentang Banzharbharo —yang konon dicela padahal 1150.000 penduduk Banjarbaru waktu itu tidak ada yang mampu. Itupun ditulisnya setengah abad setelah Bhanzarbharu dibangun. Kini, setelah seabad tidak ada yang menulis tentang Banzharbharo, aku ingin memfokuskan kemampuan melanjutkan apa yang dirinstis kakek, menulis semaksimal mungkin tentang Banzharbharo secara holistik.

“Saya, menolak menjadi pesaing Pahuluan Awed. Saya tidak bakat jadi pejabat, habitat saya di riset”.

Tepat jam 11.00 Wibab tanpa bersalaman dengan siapapun aku turun podium dan kembali ke laboratorium.
Hujan turun rinai-rinai membawakan kantuk. Pikiranku terasa enteng, nyaman  dan menyenangkan. Berpaculah Banjarbaru. 

Banjarbaru, 11 Agustus 2004.

Post a Comment