Memperbaharui Buku Pelajaran
7 October 2006 | Ditulis oleh:Suatu kali, seorang tokoh setengah mengeluh setengah protes mendebat, kenapa kurikulum sekolah dan buku pelajaran selalu berubah? Tentu saja saya tidak berkomentar panjang lebar. Saya bukan pengambil keputusan yang memerah-hitamkan kurikulum dan buku pelajaran. Bahwa saya mengambil prascasarjana Pengembangan Kurikulum (perencanaan pendidikan), ya begitulah adanya.
Jangankan Sang Tokoh, saya juga dibuat bingung dan terlongo-longo oleh berbagai kebijakan Depdiknas, dari tingkat paling tinggi sampai paling bawah. Kalau dikomparasikan dengan yang dipelajari, justeru harus banyak belajar. Bahkan, terkadang digurui oleh orang-orang yang tidak belajar pendidikan secara akademis. Biar saja. Mereka punya ‘kekuasaan’ dan ‘lembaga’ sementara saya tidak. Wajar mereka merasa lebih tahu segalanya.
Ambil misal soal pembaharuan dan perubahan kurikulum. Manakala kita ‘memperbaiki’ hal-hal funfamental berarti merubah kurikulum, manakala hal-hal tidak mendasar, berarti memperbaharui kurikulum. Memang ada pepatah no new under the sun. Tetapi, the life is change. Tidak berubah atau tidak mau berubah (bukan ala power ranggers lho), berarti mati atau stagnan.
Pendidikan sebagai upaya mempersiapkan generasi muda untuk hidup di ‘jamannya’, bukan jaman kita, harus dan harus dipersiapkan menghadapi perubahan. Bukan saja berpatok pada ekplotasi ilmu pengetahuan tetapi gerak dan muatan kehidupan juga berubah, dan … itu harus dipersiapkan.
Contoh sederhananya begini. Anggaplah Sampeyan ‘penentu’ kebijakan pendidikan. Nah, bila berpikir pendidikan yang dulu diterima sebagai sesuatu yang paling baik, itu pertanda ‘kiamat’. Anak-anak kita saat ini hidup di era information technology (IT). Kalau ada sebagai ‘penentu’,mengoperasikan komputer sederhana saja tidak mampu, bagaimana akan ‘mempersiapkan’ jawaban tantangan, bahwa anak-cucu kita nantinya akan hidup di era persaingan tak terbatas IT. Bisa-bisa di mahkamah akhirat akan dihukum berat karena tidak menyiapkan generasi penerus dengan becus.
Ingat lho, anak-anak Indonesia tidak kalah cerdas dengan anak-anak dunia. Misal, dalam ajang oliympiade Fisika dan Matematika internasional, anak-anak kita menempati peringkat atas. Fakta bahwa apabila difasilitasi dan diarahkan, bisa jadi orang hebat. “Kalau ada yang bodoh, bukan anaknya tetapi bapaknya, he … he …”, kelakar seorang teman. “Barangkali yang mengurus pendidikan. Atau, kita yang secara keilmuan berpendidikan kependidikan yang tidak becus”, timpal kawan yang lain.
Tercampaknya Pluto
Praha 25 Agustus 2006. International Astronomical Union bersidang di ibukota Republik Ceko tersebut. Satu keputusan penting yang ’menghebohkan’ mengeluarkan Pluto dari anggota tata surya. Artinya kalau dulu tata surya kita terdiri dari Mercury, Venus, Earth, Jupiter, Saturn, Uranus, Neptune dan Pluto, kini Pluto tidak masuk lagi. Tata surya tidak lagi beranggotakan sembilan planet tetapi tinggal delapan saja.
Oleh mayoritas astronom, Pluto kini dipahami terlalu kecil hingga dimasukkan rumpun planet kerdil (dwarf planets) bersama asteroid Ceres, Charon, dan sekelasnya. Memang kita berbicara soal ’satu’ Pluto dan itu jauh sekali dari kita, bahkan mungkin tidak ada sangkutpautnya secara langsung. Namun, kita harus merevisi sebagai pengetahuan, harus di tukar di memori otak. Bayangkan kalau guru-guru di sekolah masih saja mengajarkan Pluto sebagai bagian tata surya. Bisa diketawakan orang sedunia.
Dulu, pengetahuan ’memberi tahu’ mataharilah yang mengelilingi bumi. Ketika Bruno, Copernicus, dan Galileo mendapatkan bukti, bumilah yang mengelilingi matahari (heliocentris), oleh petinggi gereja dianggap bid’ah. Seperti dikabarkan sejarah, hukuman matilah yang dihadiahkan atas kebenaran yang mereka tampilkan. Sekarang tentu tidak akan sedahsyat itu tetapi bukan sedikit dampaknya.
Bukan saja buku-buku yang harus diperbaiki, pengetahuan umum masyarakat dunia, terlebih guru, kamus astronomi, ensiklopedi dan seterusnya. Biayanya tidak sedikit. Sampeyan bayangkan kalau ’tonggak’ ilmu yang berubah total, jangan-jangan semua hal harus kita perbaharui. Pembaharuan adalah inti kehidupan itu sendiri. Kata Gde Prama, berubah atau mati.
Pemandangan Laut
Dalam berbagai pelatiahan, saya persilahkan peserta memejamkan mata sembari meminta agar membuat lukisan di pikiran masing-masing. Setelah lima menit ditanyakan lukisan apa yang tergambar. Rata-rata menjawab, pemandangan dengan matahari bersinar, dua gunung, pohon kelapa dan ada jalannya. Begitu mantapnya manakala guru ’mengisi’ otak kita. Sampai mati pun melekad begitu kokoh.
Padahal, kalau dicobakritik dengan prinsip kreativitas pendidikan, tidak bagus. Sebab, orang akan berpikir sama. Syukur akhir-akhir ini guru-guru telah beraktivitas dengan contoh-contoh yang lebih edukatif. Kalau tidak cara berpikir generasi muda kita akan sama-rata. Tidak heran, sampai ada kesimpulan, kalau memasak harus dengan vetsin, tanpa vetsin tidak enak. Padahal, di negara tempat lahirnya penyedap masakan tersebut dianggap kesalahan besar. Vetsin yang berbahan MSG, manosodiumglutamat berbahaya buat otak, dapat mengakibatkan kanker otak. Selera saja bisa ’disamakan’ orang, makanya sekalipun sudah merdeka, kita masih dijajah dalam berbagai segi kehidupan. Selera saja bisa diukur. Bayangkan.
Kisah rekaan yang sering saya ketengahkan secara satire, Sultan Taqdir Alisyahbana menulis buku Tata bahasa Indonesia Baru (1957). Alkisah, STA dicalonkan dicalonkan menerima hadiah Nobel. Selidik punya selidik, panitia di negara Swedia tersebut akhirnya memutuskan, STA tidak pantas menerima hadiah Nobel sekalipun telah berjasa mengembangkan bahasa Indonesia. Apa pasal?
STA membuat contoh kalimat aktif-pasif: Ali memukul anjing. Anjing dipukul Ali. Setelah sekian puluh tahun, guru-guru Indonesia masih saja membuat contoh serupa. Apa hubungannya dengan hadiah Nobel? Konon, anggota panitia adalah pencinta binatang. Kalau di Indonesia ada 2,7 juta guru dan satu hari mengajarkan satu kali saja dalam puluhan tahun berapa juta anjing yang dipukuli di kelas-kelas Indonesia.
Artinya, segala bentuk pembaharuan, apakah kurikulum dan buku pelajaran haruslah dimaknai sebagai perubahan, terutama dalam sikap, bukan dalam bentuk keluhan. Bahkan, pada tataran tertentu harus lebih jeli melihat lebih dalam lagi.
Suatu kali Jumadi diminta menjadi juru untuk lomba Duta Wisata suatu daerah. Dia bercerita, banyak peserta yang tidak tahu berapa jumlah kabupaten dan kota di Kalsel, kepala daerah saja ada yang tidak tahu. Sebagai Doktor Pengajaran Bahasa Indonesia saya candai dia.
Pak Doktor, saya membaca buku pelajaran bahasa Indonesia anak saya. Disitu ada karangan berisi perjalanan siswa ke Jogja. Diceritakan dari persiapan, ke terminal Rambutan terus ke Jogja. Akibatnya saya harus menerangkan. Buku itu tidak tuntas karena jauh dari lingkungan. Guru tidak kreatif menukarnya dengan rekreasi ke Batakan atau Mesjid Sabilal Muhtadin, misalnya.
Saya minta sama Pak Doktor, tolong Sampeyan bikin buku pelajaran bahasa Indonesia berbasis perubahan mental, jangan meniru gaya buku-buku keluaran Jawa, tapi yang mempertimbangkan daerah kita, Kalimantan Selatan. Harap dicatat, buku-buku pelajaran bahasa Indonesia Jumadi ternmasuk yang diakui dan dirokemendasi Depdiknas. Tapi, bisa jadi tidak akan diperhatikan aparat pendidikan lho. Entah setelah membaca tulisan ini he … he …
Akhirnya, peliharalah perubahan ke arah lebih baik, change in progress. Perubahan kurikulum dan buku pelajaran adalah hal biasa kalau kita paham dunia dan ilmu selalu mengalami perubahan. Perubahan adalah kehidupan itu sendiri.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Ersis Warmansyah Abbas, website: ersis.blogersis.com, unlamview.com, email: ersis_wa@yahoo.com., ersis.unlamview.com.










33 Responses to “Memperbaharui Buku Pelajaran”
By am. hamsin f on Nov 19, 2006 | Reply
menurut pendapat saya sebenarnya ada baiknya jika buku tersebut diperbaharui lebih dalam lagi sesuai dengan kurikulum yang ditentukan. jadi perubahan ke arah yang lebih baik, dalam Perubahan kurikulum dan buku pelajaran adalah hal biasa kalau kita memahami pentingnya ilmu pengetahuan. perubahan adalah untuk mencapai kesempurnaan mutu pendidikan indonesia.
By Dinna Barada on Nov 21, 2006 | Reply
perubahan kurikulum dan bulu pelajaran wajar saja mengalami perubahan. seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan perkembangan jaman,karena rasanya lucu kalau dengan keadaan masyarakat yang global saat ini,pengajaran masih menggunakan kurikulum lama. Toh perubahan itu juga unuk kemajuan pendidikan. siapa tau dengan perubahan-perubahan itu, tidak hanya pendidikan menjadi maju, tetapi orang-orang yang mempelajari juga ikut maju termasuk guru-gurunya.
By Puji Heryani on Nov 23, 2006 | Reply
Menurut saya suatu kawajaran jika adanya pembaharuan buku pelajaran.Karena tiap hari ilmu pengetahuan selalu mengalami perkembangan.Perubahan buku pelajaran tentu disesuaikan dengan kurikulum yang ada saat ini.Perubahan ke arah positif adalah wajar.
By farhat on Nov 23, 2006 | Reply
everyting is change. kalau kita ingin maju kudu berubah tentunya kearah yang lebih baik.semua ilmu pengetahuan terus berkembang masa kita gak mau maju, tentunya dalam dunia pendidikan kurikulum sebagai acuan guru dalam mengajar harus change gitu biar keren kaga kalah sama orang, orang luar kita nyaris ngak punya waktu untuk ngejar semua ketertinggalan.jangan banyak molor. betul juga kata beliu jauhi MSG, biar kada bungul lagi. oc kep keren selslu
By Feri Noviyanti on Nov 23, 2006 | Reply
Menurut pendapat saya perubahan kurikulum dan buku pelajaran itu bagus selama untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Jaman terus berkembang, seiring dengan perkembangan itu kita juga harus menyesuaikan dengan pengetahuan yang kita miliki. Perubahan yang baik akan menuju kearah yang lebih baik jika sesuatu yang telah berubah itu diikuti dengan usaha yang sungguh-sungguh.
By ihda on Nov 23, 2006 | Reply
perubahan memang sangatlah penting, apalagi menyangkut masalah pendidikan dan ilmu, tetapi apakah perlu perubahan kurikulum yang terjadi di negara kita ini harus selalu berubah setiap kali pergantian kabinet (itulah yang terjadi pada saat ini,bukan….??).Menurut saya,yang menjadi permasalahan dalam masyarakat sekarang ini lebih terfokus pada masalah biaya pendidikan yang dianggap mahal.
By c.widyastuti.ph on Nov 23, 2006 | Reply
perubahan adalah suatu kewajaran yang terjadi dalam hidup ini,apalagi perubahan itu yang membicarakan tentang kulikulum dalam pendidikan.Dimana dijaman sekarang yang serba teknologi ini membuat perubahan kurikulum harus lebih berkembang dan maju.Agar pendidikan dinegara kita tidak kalah dengan negara lain.so…ayo Seee….mmaaaaaaangatttttt…… para pahlawan tanpa tanda jasa!!!!! Chayoooooooo…….
By D3wi Yuliana Indah on Nov 23, 2006 | Reply
Kurikulum dan buku pelajaran berubah? Menurut saya itu adalah hal yang wajar-wajar aja,coz pendidikan memang suatu hal yang harus disesuaikan dengan zamannya generasi muda, apalagi di tengah kemajuan era informasi dan teknologi sekarang dan apalagi jika perubahan tsb ditujukan untuk kemajuan pendidikan.
Pendidikan adalah salah satu perjalanan hidup, jangan kita menengok ke belakang!Tetaplah terus maju berjalan biar nggak ketinggalan dan digilas orang. Thank’s!:)
By An Nisa Zuraida on Nov 23, 2006 | Reply
Menurut pendapat saya,pembaharuan mengenai buku pelajaran memang harus dilaksanakan, karena zaman terus berjalan ilmu pengetahuan dan teknologipun semakin berkembang. Yang harus dilakukan sekarang adalah pemerintah harus lebih banyak mensosialisasikan kepada guru tentang kurikulum yang baru dan pembaharuan buku-buku pelajarannya sehingga guru tidak mengalami kesulitan dalam mengajar di kelas.
By triprasetia on Nov 23, 2006 | Reply
Bujur jar sdr.EWA tu…gila lalu bila yang mengubah kurikulum itu adalah orang-orang yang tidak paham pendidikan karena memang mereka tidak punya latar belakang pendidikan yang jelas..Nah kyapa tu????Bagaimana para generasi nantinya memikul pengetahuan yang “asal2an”.Nah lalu mauuuuuuk!!!!!!!!!Perubahan kurikulum dan buku teks pelajaran memang harus selalu dipantau biar kada kebablasan..ya kada choy..he3 coz perubahan itu selalu terjadi dari tahun ke tahun begitu juga dengan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti contoh planet nang dipecat tadi dari “wali songo”. jika guru tidak tahu info terbaru tersebut amat sangat membahayakan dunia pendidikan..celaka banget tuh!!!Change’s important maannnnnn……..!!!Coz perubahan menuju ke arah yang lebih baik,,,tentunya yang positif dung…ok choy!!!
By laila rahmi on Nov 23, 2006 | Reply
wayoo…raja sdr.Ewa nech…perubahan kurikulum dan buku teks pelajaran memang mesti selalu diubah sesuai dengan perkembangan zaman karena di situlah IPTEK menyajikan hal-hal yang baru dan selalu berubah,,,dan itu wajib ain diketahui oleh semua orang especially urang2 pendidikan. Kaya apa handak maju kita ya kada …….???????????gurunya aja masih memakai buku zaman baheula kyapa muridnya handak kada magin bungul kalau yang mengisi otaknya karatan semua……sabarai nah..OK kita kudu tahu info terbaru dari media apapun yang tersedia misalnya internet..biar ja situ gurunya nang bungul sorangan tapi kita tahu apa2 yang baru di dunia biar kada GAPTEK ‘n iepe hehehehehehe….Intinya adalah semua kudu berubah ke arah progress ‘n positif terutama dalam hal pendidikan (kurikulum dan buku teks pelajaran) agar masa depan baik guru, murid, dan masyarakat pendidikan laennya ada jua tatarangannya..ya ga man!!!!!
By sugiharni on Nov 23, 2006 | Reply
Waaahhh….seru juga ya…ulasan di atas. Yup bener banget kalo banyak orang yang bilang jaman sekarang jamannya Globalisasi yang semua serba berubah.dan pastinya donk kenapa juga pendidkan ga’ berubah. masa’ kita jadi manusia yang tertindas terus. kita jangan kalah donk dengan negara-negara maju ‘n berkembang laennya. untuk mengubah suatu generasi bangsa dimulai dulu dari kurikulumnya dan otomatissst…tau sendiri donk apa yo’???yup bener banget pastinya buku-buku pelajarannya juga harus berubah.tapi jangan juga lupa dengan kurikulum lama dan buku lama donk..!!!setidaknya keduanya masih saling berkaitan dan masih bisa dijadikan sumber rujukan dikedepannya.OK ga’ coy???OK bangetttttzzzzz donk!!!!!
By pariadi on Nov 23, 2006 | Reply
TENTANG PERUBAHAN ?!: ITU SIH GUE BANGET ………
hanya dengan adanya perubahan lah makhluk dikatakan hidup. perubahan adalah sesuatu yang sangat saya harapkan dalam hidup ini. contohnya : perubahan dari sistem liberalis-sekuler kepada yang menentramkan jiwa (Islam). perubahan adalah hal yang sunatullah dan pasti akan terjadi dalam hidup ini. perubahan hanya masalah waktu.
kalau kita bicara perubahan dalam konteks umum tersebut saya rasa semua orang yang “sadar” akan hidup dan mau “berpikir” akan sepakat.
begitu pula pada konteks yang lain seperti kurikulum misalnya. kalau dengan kurikulum yang ada kita merasa masih belum bisa memenuhi target yang diinginkan, ya… rubah saja. terserah bisa dengan diperbaharui, dimodifikasi, atau bahkan diganti sekalian. bisa dengan menggunakan pendidikan berbasis IT, dengan menggunakan kurikulum KTSP, atau dengan pendidikan berwawasan kearifan lokal, dll ( saya belum terlalu banyak tahu tentang itu).
untuk menyusun itu mungkin hanya para ahli (magister atau doktoral) pengembangan kurikulum – perencanaan pendidikan, yang berkompeten.
akan tetapi satu hal yang menjadi perhatian saya adalah bahwa dari dulu sampai sekarang (dengan berbagai macam kurikulum yang dipakai) wajah pendidikan indonesia tetap saja selalu buram (buruk dan amburadul he..he..). terkadang terlihat “jelek” (kaya orang lagi “nangis” gitu loo), terkadang agak kurang juga sih “jelek”nya (karena hanya “cemberut”), tapi tetap saja “jelek”.
By pariadi on Nov 23, 2006 | Reply
YANG TERLUPAKAN (1)
wajah buruk itu bisa kita cermati dari berbagai realita yang ada (bisa terindera).
Pertama, paradigma pendidikan nasional adalah sekular-materialistik. Terlihat dari dualisme dan dikotomi pendidikan, antara pendidikan agama dan pendidikan umum. agama ditempatkan sekedar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimal, bukan menjadi landasan dari seluruh aspek. bahkan pendidikan lebih berorientasi pada materi doang.
dengan pendidikan yang kaya gini mungkin bisa saja melahirkan orang yang menguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. akan tetapi pendidikan semacam ini terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan tsaqofah Islam (indonesia kan mayoritas islam, gue islam anda juga islam, dan yang teruji paling mantep..tep..tep juga islam).
berapa banyak lulusan pendidikan umum yang tetap saja “buta agama” dan rapuh kepribadiannya? sebaliknya, mereka yang belajar dilingkungan pendidikan agama memang menguasai tsaqofah Islam dan secara relatif sisi kepribadiannya tergarap baik. akan tetapi disisi lain, ia buta terhadap perkembangan sains dan teknologi. akhirnya, sektor-sektor modern (industri manufaktur, perdagangan, dan jasa) di isi oleh orang-orang yang relatif awam terhadap agama karena orang-orang yang mengerti agama terkumpul di dunianya sendiri (dosen/guru agama, depag), tidak mampu terjun kesektor modern.
By pariadi on Nov 23, 2006 | Reply
YANG TERLUPAKAN (2)
Kedua, mahalnya biaya pendidikan : “pendidikan bermutu itu mahal”. kalimat itu sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam pendidikan. sehingga pendidikan, yang berkualitas (karena ga ada kan orang mau yang “jelek”) hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang “punya duit”. itu karena apa ? karena negara (dengan sistem sekarang ini) engga terlalu peduli sama rakyatnya. peran negara dalam pelayanan sektor publik semakin melemah.
Padahal, Edgar Faure (ketua The International Comission for Education Development) menekankan bahwa pendidikan adalah tugas negara yang paling penting. Sumber daya manusia yang bermutu merupakan prasyarat bagi terbentuknya peradaban yang baik. Sebaliknya, sumber daya manusia yang buruk secara pasti akan melahirkan masyarakat yang buruk pula.
Kalo begitu bukankah artinya negara harus bertanggung jawab penuh atas ketersediaan pendidikan yang berkualitas untuk bisa di akses oleh seluruh rakyat indonesia. Tidak di privatisasi (bagian dari agenda kapitalisme global) seperti sekarang.
By pariadi on Nov 23, 2006 | Reply
dua hal tersebutlah yang kalo menurut saya merupakan hal mendasar yang harus diperhatikan dalam melakukan perubahan kurikulum (khususnya) dan pendidikan (pada umumnya) di Indonesia.
By abdulrahman.s on Nov 24, 2006 | Reply
menurut pendapat saya perubahan kurikulum dan buku teks adalah hal yang sah-sah saja.perubahan ini sangat penting mengingat betapa pentingnya kemajuan iptek yang harus kita kejar. semakin majunya iptek maka semakin pesatnya persaiangan dunia pendidikan.
By abdulrahman.s on Nov 24, 2006 | Reply
karena didalam perubahaan kurikulum dan buku teks terdapat pembaharuan-pembaharuan yang bersifat untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam era globalisasi ini. dengan adanya pendidikan sekarang ini setiap orang akan dilahirkan sebagai orang yang menguasai sains-teknologi dalam era globalisasi ini.jadi, perubahan adalah hal yang wajar di zaman sekarang guna untuk memperbaiki dan menyempurnakan kekurangan sebelumnya.
By evi oktaviani on Nov 24, 2006 | Reply
Perubahan tu wajar aja,ga aneh klo itu menjurus kearah yang positif. Apalagi jika berkaitan dengan pendidikan. Perkembangan zaman tentu juga mesti diikuti ama perkembangan pendidikan. Gimana mau maju klo otak kita kosong gituuuuuu…!! Tapi jangan lupa perubahan buku pelajaran juga harus sesuai ama kurikulum. Karena penting tuh!! Ingat ye…^_~
By nida adriawati on Nov 24, 2006 | Reply
Perubahan kurikulum dan buku pelajaran adalah sah-sah saja, apalagi jika mengingat perkembangan zaman sekarang. Ga asik banget kan….zaman truz berkembang, tapi pendidikannya ga maju2. Lagian sekarang ini teknologi semakin berkembang, mubazir kan klo ga diguna’in.heee…
By Ratna Yuwinda on Nov 24, 2006 | Reply
memperbaharui buku pelajaran hukumnya wajar-wajar saja, mengingat apapun di dunia ini segalanya berubah. lagi pula banyak hal-hal yang dulu ada sekarang sudah hilang atau di tiadakan seperti kasus Pluto. namun, ada baiknya untuk perubahan itu juga di dukung oleh pihak-pihak yang berkaitan dengan masalah tersebut, minimal ada kerjasama yang baik, jadi ketika di lemparkan kepada masyarakat tidak menimbulkan kontroversial atau polemik. bukannya takut sih, asik kan rame, hehehe… tapi bener ya, klo yang tukang urus nya bukan orang yang paham pendidikan sama ae bohong! mana wadah kita nih “pintar2″ barataan pulang. Asiknya tuh, mun ibarat HP pendidikan kita ne di Master Reset z baasa.
but whatever, klo sagan perubahan go ahead z… semangat!!!everything is change, change 2 a better life? sapa Takuuut?!
By lauda ima on Nov 24, 2006 | Reply
kalau memang membawa perubahan ke arah pendidikan yang lebih baik mengapa tidak,tapi jika tidak membawa pada arah yang lebih baik dan malah membuat kacau sistem pendidikan, lebih baik tidak ada perubahan kurikulum.
By siswati on Nov 24, 2006 | Reply
selama perubahan itu membawa ke arah kemajuan pendidikan,merombak kurikulum mengandung banyak resiko tanpa jaminan akan berhasil baik. perubahan tidak akan diterima atau bertahan lama,bila kurang dukungan dari masyarakat,selain itu perubahan kurikulum hendaknya menyesuaikan diri dengan “kebudayaan” guru,yaitu cara mereka lazimnya berpikir dan berdebat selain dengan kebudayaan masyarakat.
By Dinna Barada on Nov 24, 2006 | Reply
hanya meralat komentar nomer dua di atas mengenai pendapat saya, tertulis bulu pelajaran, seharusnya buku pelajaran. terimakasih
By tri juarningsih on Nov 24, 2006 | Reply
selama perubahan kurikulum itu mampu membawa kepada kemajuan bidang pendidikan, hal itu bisa dilakukan, perubahan kurikulum tentunya akan membawa dampak kepada siswa, siswa diharapkan mampu untuk menerima perubahan kurikulum tersebut. guru sebagai mediator mampu untuk membawa kepada perubahan yang diharapkan dalam dunia pendidikan.
By Diah ratna wulan. on Nov 26, 2006 | Reply
Perubahan kurikulum dan buku pelajaran, merupakan 2hal yg gampang-gampang susah. Perubahan yg diharapkan tentu nya kearah yg lbh baik, yaitu meningkatnya mutu pendidikan bgs Indonesia, serta mencapai tujuan Bgs yaitu mencerdaskan kehidupan Bgs. Satu hal yg perlu diperhatikan setiap perubahan ada yg baik dan buruk. mengenai siapa dan mengapa Berubah tdk terlalu penting krn smua memang pasti berubah sesuai dg kehendak Allah.Begitu jg ilmu dan pemikiran dan pemahaman manusia. Mau tidak mau perubahan pasti terjadi,Bagi saya yg penting bagaimana kita menyikapi perubahan itu sendiri.
By Maiyasa on Dec 1, 2006 | Reply
Yang dikatakan bung EWA bener juga tuh…! Hidup manusia bagaikan roda yang berputarmaka mutlak adanya perubahan dalam kurikulum. Tapi perlu diingat jangan sampai perubahan itu membuat pendidikan bangsa Indonesia berada di bawah standar, dan perlunya perhatian dan pengawasan dari semua pihak yang terkait agar pendidikan bangsa Indonesia tidak dipandang sebelah mata oleh negara lain. Maju terus pantang mundur……..!!!!!!!
By Khairatunnisa on Dec 1, 2006 | Reply
Menurut pendapat saya, kurikulum dan buku pelajaran berubah adalah suatu hal yang wajar. Ini dilakukan demi peningkatan dalam mutu pendidikan bangsa Indonesia, dan diharapkan dapat membawa kemajuan dan sesuatu yang positif bagi bangsa dan negara ini.
By Piagusleani D.M on Dec 7, 2006 | Reply
Kurikulum menurut saya berubah-rubah itu hal yang sangat tidak bisa dipungkiri lagi karena menurut pendapat saya dilihat pendidikan dizaman globalisasi ini sangat suram diakibatkan bermacam-macam faktor dimana zaman sekarang IPTEK membuat perubahan kurikulum harus lebih berkembang dan maju, tetapi sekarang lebih baik bagaimana cara untuk bisa mengembangkan kurikulum dengan merumuskan tujuan-tujuan yang lebih opersional dan memilih strategi pengajaran yang lebih baik.
By M.Rizal Mukhlishin on Dec 11, 2006 | Reply
Perubahan!! Saya sangat mendukung perubahan yang terjadi dalam kurikulum atau buku mata pelajaran, tetapi dalam artian selama itu memang diperlukan oleh masyarakat kita khususnya anak-anak. saya setuju dengan istilah “The life is change”, asal jangan disalah artikan dengan terus merubah sistem dan buku mata pelajaran di negara kita tanpa melihat dampaknya. akibatnya anak-anak yang jadi korban. Ya nggak?? Sekian komentar saya, maju terus pendidikan Indonesia!!!
By m. azhari abrori on Dec 12, 2006 | Reply
chage???…it’s ok,setuju bangeet, selama perubahan itu menghasilkan yang baik, why not??….cuman masalahnya terletak pada orang yang melaksanakannya….sesuai jiwa jaman donk…jangan yang bahari kala taruz…sukses truz bos….
By m. azhari abrori on Dec 12, 2006 | Reply
change???…it’s ok, setuju bangeet, selama perubahan itu menghasilkan yang baik, why not??…,cuman masalahnya terletak pada orang yang melaksanakannya…,sesuai jiwa jaman donk…jangan yang bahari kala taruz…sukses truz bos…
By Muhammad Fauzi on Dec 13, 2006 | Reply
Menurut saya, terjadinya perubahan dalam kurikulum itu sah-sah saja, kalau tidak ada perubahan dalam kurikulum kapan majunya pendidikan Indonesia???. Sebenarnya terjadinya perubahan dalam kurikulum tidak bisa disalahkan sich…yang salah itu adalah pelaksana kurikulum itu sendiri, yaitu guru!! Good Luck Bos ai…