“Pasukan” OSN Kalsel
7 October 2006 | Ditulis oleh:Pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) pelajar V di Semarang baru-baru ini, prestasi siswa-siswa Kalimantan Selatan (Kalsel) dapat dikatakan tidak terdengar. Padahal, konon pada beberapa sekolah telah disiapkan ‘pasukan’ yang akan diterjunkan ke ajang uji kemampuan siswa SD, SMP, dan SMA agenda nasional pendidikan tersebut. Syukur, panitia tidak merangking perolehan medali seperti pada pekan olahraga nasional (PON). Kalau dirangking tentu bisa menjadi tambah pilu.
Saat diskusi kecil-kecilan, seorang teman alumnus Amerika Serikat mewacanakan perlunya persiapan lebih matang untuk tahun mendatang. Katanya pula, sebagai pembimbing pada tahun lalu, dia dan teman-temannya berhasil menoreh prestasi. Entah iya entah tidak, kebetulan saya tidak punya data dan tidak ada waktu untuk menceknya. Saya setuju untuk tahun 2007 dipersiapkan lebih intensif.
Hanya saja, kata saya, sebaiknya Sampeyan tidak usaha lagi menjadi pembina. Agak garang dia bertanya: Kenapa? Saya jawab enteng saja, Sampeyan gagal. Ibarat pelatih sepakbola, kalau tim tidak berhasil mencapai target juara, ya tahu dirilah, mundur. Logikanya sederhana saja, kalau pembinaan diserahkan kepada pembina yang telah gagal gagal, kapan kemajuan akan dicapai. Biarlah pembina tersebut belajar membina dulu. Gagal saja masih percaya diri.
Saya berani mengatakan hal sedemikian, karena dia teman saya. Belum sempat menjawab, saya ajukan alternatif sesungguhnya. Begini sobat, disamping pembina yang telah terbentuk, buat lagi tim pembina. Jadi, ada dua tim pembina dan keduanya disiapkan bersaing secara sehat. Disamping memberi kesempatan kepada yang lain, akan tercipta iklim kompetisi.
Apapun bidang garapan, kalau dilakukan oleh orang itu-itu saja, bagaimana kita akan mendapat pembanding. Pada bandingan contoh lain, kalau di suatu daerah hanya ada satu media yang kuat, kada rami. Kalau minimal ada dua media, masing-masing media akan bersaing menampilkan diri menjadi terbaik, dan dalam persaingan cenderung kemampuan diupayakan masksimal. Muaranya kualitas membaik dan yang diuntungkan pembaca.
Dalam konteks pendidikan, persaingan adalah bagian roh pemicu kompetisi positif dalam meraih prestasi terbaik. Kalau hal tersebut terbina yang diuntungkan pastilah prestasi. Sebaliknya, manakala persaingan bukan untuk meraih prestasi yang diutamakan tentu saja akan berakibat melempem dan tidak diuntungkannya prestasi, melainkan ….
Pasukan OSN
Tentu saja, kita bisa berdebat, perlu atau tidaknya perhatian dicurahkan untuk persiapan ‘pasukan’ OSN Kalsel. Yang ingin saya ingatkan, lebih baik meraih prestasi di even pendidikan nasional apa saja dari pada tidak. Untuk itu diperlukan konsep, strategi, dan kemauan petinggi-petinggi pengambil kebijakan pendidikan. Melakukannya tidak susah-susah amat.
Pertama, adakan ajang olimpiade sains daerah (OSD) Kalsel. Misal, pada awal tahun ajaran tingkat kota/kabupaten. Setelah itu, pada enam bulan pertama, katakanlah terpilih 10 terbaik, dilatih masing-masing daerah disiapkan untuk OSD tingkat provinsi. Pembinaan enam bulan cukup berarti sebagai persiapan. Soal tehnis pelaksanaan menjadi urusan Dindik Kota/Kabupaten.
Kedua, pada pilahan kedua, laksanakan OSD tingkat provinsi. Sepuluh terbaik disiapkan untuk diterjunkan pada OSN. Pembinaan dan segala hal terkaitnya menjadi tanggung jawab Dindik provinsi.
Ketiga, ‘pasukan’ tingkat provinsi ini dibagi menjadi dua grup yang masing-masing dibina oleh pembina berbeda. Dua tim ini disaung untuk menyiapkan prestasi terbaik, termasuk pembinanya. Hasil binaan kedua tim ini nantinya disaring untuk diterjunkan ke OSN. Gampang kan (teorinya sih begitu, yang susah melaksanakannya he … he …),
Pengembangan Diri
Saudara-Saudara sekalian. Mulai tahun ajaran 2006/2007, di sekolah-sekolah diberlakukan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Kurikulum berbasis kompetensi (KBK), setelah melalui uji coba dan pelaksanaan yang tidak jelas, nampaknya akan menjadi sejarah. Depdiknas dan jajarannya memang sedang ’lucu-lucunya’. Suka memakai istilah-istilah yang untuk memahami saja sukar bagi pelaksana pendidikan apalagi melaksanakannya.
Kalau boleh agar saru pelaksanan KBK yang secara konsepsional sangat bagus tersebut, belum ejakulasi, eh … datang pula ’kewajiban’ baru. Secara berseloroh kepada seorang guru yang mengeluh saya katakan, kenapa Sampeyan bersusah-susah, mana tahu tahun depan ’ditukar’ lagi. Kan tergantung yang di atas dan lihatlah betapa gagah dan bersemangatnya mereka-mereka punya profesi melatih, menatar. Seolah-olah masalah pendidikan akan selesai apabila tatar menatar dilakukan sepanjang tahun. Saya tegaskan, tugas Sampeyan melaksanakan proses pendidikan semaksimal dan sebaik mungkin. Lakukan. Pekerjaan itu sangat mulia dan berpahala.
Akan halnya suasana ’panca roba pendidikan’ pahami dengan sabar. Selama pendidikan tidak diurus ahlinya, ya itulah resiko yang harus dibayar. Kalau mau lebih iseng, mari habiskan waktu dan energi untuk memahami kurikulum baru sepanjang hayat, mengikuti penataran dan pelatihan, membeli buku ajar baru, dan sejenisnya. Itulah nasib pendidikan kita. Mari berdoa, suatu saat Allah SWT ’turun tangan’. Amin.
Seriusnya saya katakan, kalau Sampeyan memahami inti kurikulum, sejak kuriklum berawal, sejatinya ya begitu-begitu saja. Kurikulum adalah ’jalan’ untuk memcapai tujuan pendidikan. Toh, Sampeyan sudah tahu tujuannya. Soal jalan, kalau mau ke Banjarmasin mau lewat jalan A Yani atau Lingkar Selatan, tidak terlalu menjadi soal. Lagi pula, sejak pendidikan ada, adakah kurikulum yang tidak berbasis kompetensi?
Kalau menurut teori yang saya pelajari, kalau suatu konsep kurikulum mau diberlakukan, dipersiapkan segala hal terkaitnya. Batang tubuh kurikulum dan jabarannya, pelaksana, sarana dan prasarana. Pokoknya sedetail mungkin agar ketika diberlakukan nyaris sempurna. Itu pakem kurikulum. Nah, kini TKSP diberlakukan dan sosialisasinya dilaksanakan sampai tahun 2009, kata petinggi Depdiknas. Lumayan lucu kan. Mari kita nikmati saja.
Dalam pada itu, pada TKSP tersedia peluang besar untuk mengembangkan potensi (dan kompetensi?) anak didik melalui ’jalur’ pengembangan diri. Siswa dipersilahkan memilih bidang yang dimaui, dari pengembangan kemampuan matematika sampai sepakbola. Hari Sabtu disediakan khusus agar siswa dapat mengembanghkan diri sesuai pilihannya (ini bagus dalam tataran konsep kemerdekaan memilih).
Peluang ini sangat bagus dimanfaatkan maksimal dalam kaitan dengan major tulisan ini, mempersiapkan ’pasukan’ Kalsel untuk OSN. Kalaulah gagasan ini dapat dikembangkan secara tepat, bukan tidak mungkin medali emas fisika atau ekonomi akan dibawa ke banua tahun depan. Mana tahu. Sampeyan tidak usah pula pusing ikut berdebat, bidang studi ekonomi masuk ranah sains atau tidak. Lebih baik mempersiapkan siswa. Kita panah prestasi saja.
Akhirnya, kemajuan pendidikan tidak terpaku pada penamaan kurikulum atau hal-hal keren lainnya, tetapi pada proses dalam diri peserta didik yang ditampilkan dengan kemampuannya mengatasi sampai memprediksi kehidupannya. Syukur dimensinya bisa dielaborasi ke luar dirinya. Selama hasilan pendidikan untuk mengatasinya persoalan yang membalut dirin peserta didik saja tidak mampu selama itu pula pendidikan dapat dikatakan tidak berhasil.
Lagi pula, pada hakikinya pengembangan potensi dan kemampuan seseorang lebih ditentukan oleh individu bersangkutan, kita lebih berperan menyiapkan lahan kondusif. Mari memajukan pendidikan dengan tidak terlalu banyak berbantah-bantahan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Ersis Warmansyah Abbas, website: blogersis.com., unlamview.com., email: ersis_wa@yahoo.com., ersis.unlamview.com.










3 Responses to ““Pasukan” OSN Kalsel”
By windede on Oct 7, 2006 | Reply
testing komentar om lah…
By mathematicse on Jul 25, 2007 | Reply
Memang lucu pemberlakuan kurikulum di negeri kita ini. Yang dulu belum dimengerti, eh udah ganti yang baru.
Mungkin karena projek aja kali (mumpung ada kesempatan, makanya mereka-mereka yang di atas sana bikin “acara”, gonta-ganti kurikulum. Itung-itung bikin kegiatan… dasar sih yang ngurusnya bukan tukang pendidikan). Yang penting ada kegiatan, yang penting anggaran dapat seimbang (buang-buang duit deh…)
By Bulletin News on Oct 12, 2007 | Reply
Interesting review covering sukan” OSN Kalsel at MENULIS TANPA BERGURU (Ersis Warmansyah Abbas)! I love this point of view!