Posting oleh EWA 12 May 2008
Kategori Renungan.
Oleh Ersis warmansyah Abbas
PEMANTIK menulis, sebagaimana rizki, terkadang datang tanpa diduga. Kalau Allah SWT mendatangkan rizki, tanpa mengharapkan akan didapat. Wajar, Rasulullah tidak mengajarkan, tidak ada hadis, menolak rizki. Rizki datang dari Allah.
Menulis tentu bukan ’rizki’ dalam artian harpiah. Hanya saja, kalau mampu dimaknai bisa jadi ‘ibu’ rizki. Menguntungkan secara psikologis, berupa amal manakala untuk kebaikan, dan berbuah rizki (pendapatan) kalau bermanfaat oleh pembaca. Baca lengkap ‘Agitator Menulis’
Posting oleh EWA 12 May 2008
Kategori Renungan.
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
PERMAINAN atau olah raga yang dapat memicu adrenalin, menaikkan tekanan darah dan denyut jantung, kini seolah mewabah di banyak tempat. Di Taman Impian Jaya Ancol banyak pilihannya, dari tora-tora sampai roadcoaster. Di Bali ada yang melambungkan badan ke udara. Kalau pengecut, jangan coba-coba. Ibarat kata, bisa copot jantung. Ih … ngeri.
Adrenalin dalam artian memicu kehendak menulis tentu tidak soal. Lagi pula, caranya mudah dan murah meriah. Misalnya membaca atau berdiskusi, mengamati fenomena alam, atau sekadar menikmati keindahan alam. Menumpahkan kekesalan atau menyampaikan kegembiraan. Bisa pula hal-hal ringan atau yang membeban pikiran. Kalau di memenej dapat memacu adrenalin menulis. Baca lengkap ‘Adrenalin Menulis’
Posting oleh EWA 12 May 2008
Kategori Novel.
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Sesuai kesepakatan, dalam menunaikan tugas, soal cara urusan masing-masing. Yang penting, tugas dijalankan. Lolo mendatangi lagi PT TAR. Tetap ditolak. Sekalipun demikian, Lolo mendapat sedikit celah. Lebih mengenal represionis perusahaan, Panai. Gadis cantik asal Marabahan.
Celah itu dimanfaat sempurna. Lolo mendatangi tempat kos Panai. Diterima setengah hati. Bahkan, pada kedatangan pertama ibu kos yang menemui Lolo memakai jurus kuno: “Maaf Nak Lolo, Panai lagi kurang enak badan”. Baca lengkap ‘Novel: Lolo (6.2)’
Posting oleh EWA 12 May 2008
Kategori Novel.
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
MALAM ITU. Lolo tersandar lemas. Pikirannya mengawang. Hatinya gundah. Kiriman dari kampung tidak kunjung datang. Bapaknya, Lurah Kelurahan Gempol, tanpa sebab yang jelas —menurutnya— diperiksa kejaksaan, dan dijebloskan ke Hotel Pordeo. Kasusnya penggelapan uang Bantuan Tunai Langsung (BTL). BTL sebagai kompensasi kenaikan BBM untuk rakyat kecil. Kasus itu menista keluarganya.
Ketika pulang kampung, sempat berdiskusi. Menurut Bapaknya, dia tidak tahu menahu-nahu soal penggelapan uang BTL tersebut. Petugas kecamatan, memerintahan membagikan uang kepada keluarga miskin sebanyak Rp.500 juta. Lalu dia disuruh menandatangi kuitansi sebesar Rp.2 miliar. Baca lengkap ‘Novel: Lolo (6.1)’
Posting oleh EWA 11 May 2008
Kategori Renungan.
Oleh Ersis warmansyah Abbas
OTAK tiap hari ditimbuni berbagai informasi. Dari apa yang dilihat, dibaca, didengar, dirasa, diraba atau dipikirkan sekalipun. Proses kerja otak, saking aktifnya, bahkan ketika ‘tidak sadar’ seperti ketika kita tidur, hampir tidak penah berhenti. Memori otak unlimited. Kalau otak berhenti beraktiviatas pertanda sesorang wassalam.
Dapat dibayangkan, betapa banyaknya tumpukan sari pati atau ampas dari kerja otak. Kemana semua itu disalurkan? Satu caranya dengan menulis. Tidak berlebihan manakala menulis dipandang katarsis, membersihkan kerak-kerak otak. Kalau katarsis tidak pernah dilakukan, dan apa yang bergelora di otak dihimpit dengan lamuan, misalnya, dapat dibayangkan betapa menumpuknya. Ibarat busung, atau karena tumbang tindih, otak bisa hang. Kalau sudah begitu, gawat am. Baca lengkap ‘Busur’
Posting oleh EWA 11 May 2008
Kategori Umum.
Oleh Ersis Warmansya Abbas
TONG kosong nyaring bunyinya. Begitu pepatah tentang orang yang kalau bicara, omong kosong, cakap besar alias bual. Membual berarti bercakap-cakap yang bukan-bukan (sombong). Dalam menulis tinggal memindahkan maknanya, menulis dalam katup tidak berdasar, hil yang mustahal. Jauh dari yang sebenanrnya.
Suatu kali, ketika menulis di media cetak, dibuali seseorang. Luar biasa omong kosongnya tentang tulisan yang baik dengan kaidah bahasa sempurna. Saking muaknya saya katakan: “Mas, tulis apa yang diomongin (cakapkan), kalau bagus nanti saya tiru”. Kenyataannya? Baca lengkap ‘Bual’
Posting oleh EWA 10 May 2008
Kategori Renungan.
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
ABORIGIN, penduduk asli Autralia mempunyai senjata khas, bumerang. Senjata berbentuk lengkung dari kayu tersebut, apabila dilemparkan dan tidak mengenai sasaran, dapat kembali kepada si pelempar. Perkataan atau perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri, disebut bumerang. Dalam menulis, bumerang dapat diartikan apabila ‘melontarkan’ sesuatu, kiritikan atau hujatan, kembali kepada diri sendiri.
Mengkritik, tanpa dasar dan argumen, apalagi asbun, dipastikan kembali ke diri. Suatu kali, seorang petinggi kampus, entah entah atas dasar apa, menyebut teman-teman dosen yang rajin menulis di media cetak sebagai Dosen Koran. Daud Pamungkas sebalnya ke ubun-ubun, dan ditulisnyalah artikel bertitel: Dosen Koran. Daud menulis kepositifan dosen menulis di media cetak. Baca lengkap ‘Bumerang’
Posting oleh EWA 10 May 2008
Kategori Renungan.
Oleh Ersis warmansyah Abbas
MENULIS menuangkan pikiran. Begitu sering saya tulis. Kalau pikiran buntu, tidak seorangpun mampu menulis. Ya, bagaimana mau menulis kalau segala ‘lubang’ untuk keluaran pikiran tertutup, buntu. Jangankan mengeluarkan, wong pikirannya saja tertutup he he.
Berbahagialah yang mampu menulis. Apa pun analisisnya, menandakan pikiran tidak buntu. Bisa pula pikiran tidak buntu, tetapi menulisnya buntu. Kalau yang terakhir, bisa jadi pikirannya masih normal, tapi ya tu tadi, menulisnya buntu. Kenapa bisa buntu? Baca lengkap ‘Buntu’
Posting oleh EWA 9 May 2008
Kategori Pendidikan.
Oleh Ersis Warmansyah Abbas
UJIAN Nasional (UN) SMU/MAN/SMK dan SMTP/MTs. 2008 usai sudah. Para lulusan segera ‘berburu’ pendidikan lanjutan, atau memulai karir sebagai pengangguran. Ada yang bersorak, lulus ‘sempurna’. Ada sekolah mendekati kelulusan 100%. Ada yang merenung. Ada yang bertanya, yang ujian para siswa atau siapa? Pelaksanaannya, jujur atau curang? Tanya nurani masing-masing (pelibat).
Pantas dikaji ulang, UN untuk kepentingan siswa, guru, sekolah, atau pemerintah? Terlepas dari hal sangat esensial tersebut, ada yang ‘tercecer’. Masa menjelang UN sampai hari pelaksanaan adalah hari-hari berat bagi para siswa. Sejak enam bulan sebelum ujian, mereka sudah dihantui berbagai hal. Hari-hari mereka dirampas untuk menghadapi UN. Pokoknya persiapan UN. Baca lengkap ‘UN Underpressure’