Memupuk Senang Menulis (9.8)

9 February 2010

Menulis menuangkan pikiran. Kalau pikiran itu sendiri sedang ruwet manalah mungkin dituangkan, dituliskan. Kalau dipaksakan akan centrang-prenang. Pikiran yang siap ditulis, dibeking suasana hati, biar keren, ada yang menamainya mood, atau lebih tepatnya, in the mood. Tidak usah diperdebatkan mood suasana hati sementara yang akan dituliskan pikiran.

Yang pasti, kalau pikiran ruwet agak susah menulis. Walau, dalam praktiknya, keruwetan pikiran kalau ditulis malahan membuat kenyamanan. Susah kan berteori? Karena itu lebih bagus melatih menulis dalam suasana apa pun. Teruskan membaca… »

Buku Bersama 2010 (01)

8 February 2010

Keajaiban Umrah Ramadhan

Oleh Om Abenk (identitas?)

Keajaiban tidak pernah kita sangka. Kita tidak dapat merekayasanya. Keajaiban hak prerogatif Allah SWT. Keajaiban datang tidak mengenal waktu dan tempat tanpa kita sadari muncul begitu saja di hadapan kita sebagai sebuah fenomena yangg sungguh sangat luar biasa. Kejaiaban adalah kurniah Allah SWT.

Alhamdulillah. Pada bulan Ramdhan 2007 saya berkesempatan melakukan ibadah umrah. Kenangannya dibagi kepada ‘Jamaah Fesbikyah’, mana tahu, ada hikmah dari keajaiban yang saya alami dan semoga menjadi pemicu kita semua mendekat diri kepada Dzat Yang Maha Agung. Betapa tidak. Allah SWT berkenan memperjalankan hambanya yang dhoif ke Tanah Haram melalui ibadah umrah Ramadhan. Teruskan membaca… »

Nyaman Menikmati Tugas Menulis (9.7)

8 February 2010

Bagaimana sikap kita menghadapi tugas? Banyak cara. Dalam kaitan menulis, sebaiknya dilakukan dengan senang, riang gembira. Setidaknya, berusaha menyenanginya. Cara lain? Tidak usah dipikirkan. Sebab, tugas adalah kewajiban yang harus dilakukan. Titik.

Prinsip tersebut memang tidak bisa diamini semua orang. Ada seorang yang sharing menulis ketika diberi ‘tugas’ menulis minimal satu tulisan dalam sehari, selama satu bulan tidak boleh abai, marah-marah ketika dicoret sebagai anggota sharing. Apa pasal? Teruskan membaca… »

Menulis Menuai Nyaman (9.6)

7 February 2010

Ketika mengikuti kuliah S2 di Bandung tempo hari, mendidik beberapa mahasiwa menulis. Ketika membuka Materpamur Agency, pengelolaan dipercayakan kepada mreka dimana kami bermarkas, Asrama Surau Awak, Jalan Sersan Badjuri Nomor 8, Bandung. Hidup dari honor menulis dan agen media. Bersama Aswir, membangun ERAS FC —Ersis dan Aswir —perintis photokopi di Bandung utara. Dosen-dosen UPI ada yang sampai hari ini masih ‘meledek’ saya sebagai Raja Photokopi. Ada-ada saja. Lumayan membuat tertawa ngakak.

Satu hal, kini tidak mau berbisnis. Teman-teman pada sukses. Saya tidak boleh tergoda. Paling-paling bercerita tentang bisnis tempo dulu dengan syarat, jangan rayu berbisnis. Saya suka menceritakan bagaimana memaksa mereka pagi-pagi, jam 04.00 ke Cikapundung mengambil aneka media kepada almarhum Pak Rajab, agen besar media. Teruskan membaca… »

Menulis Berkawan Nyaman (9.5)

6 February 2010

Lingkup kehidupan saya hanya level lokal di Kalimantan Selatan. Coba ketik kata Ersis Warmansyah Abbas, Paman Google mencatat puluhan ribu. Hebat juga. Saya tidak tahu. Erwin D. Nugroho, Bos JPPN, yang menyuruh mengetik semisal: ‘Teori Menulis’, nah ‘Menulis Tanpa Berguru’ peringkat atas. Dan, banyak lagi. Oh begitu kiranya. Saya tergolong gaptek.

Lagi pula, hal-hal sedemikian, jangankan dibangakan, wong paham saja tidak. Tetapi, satu hal, ternyata dengan menulis melempangkan jalan untuk berkawan. Teruskan membaca… »

Menulis Kata-Kata Menjamah Rasa (9.4)

5 February 2010

Semilir angin malam dingin-dingin sejuk. Penjara ingin membalut harap di Bandung nan mempesona. Roda hari berpacu lebih kencang. Canda anak-isteri mendenda batin, hadir dalam bayang rindu. Nun, di kaki gunung Kerinci, asal diri, Ibu-Bapak mogahan sehat walafiat. Doa dipanjatkan.

Malam makin mendaki, globalization berbungkus international education semakin menggaruk, local genius harus dipancangkan kokoh agar persada jangan di telan mentah-mentah. Duh … Mak, muatan lokal digadai English. Mau jadi apa bangsa ini. Meruwetkan pikiran menghujam rasa. Teruskan membaca… »

Menulis Membangun Silaturrahim (9.3)

4 February 2010

Membangun silturrahim mendatangkan rizki. Yaps, saya lupa, kiranya hadis atau bukan. Yang pasti, Al-Quran dan Rasulullah ‘menganjurkan’ jalinan silaturrahim. Kalau silaturrahim beres, duh nyamannya. Caranya? Banyak cara. Satu hal yang mengagumkan melalui tulisan. Maksudnya?

Jujur saja, menulis di media cetak seperti menulis buku, melempangkan jalan berteman dengan banyak orang. Mendatangkan rizki sudah pasti. Hitungannya, lebih banyak positifnya dari negatifnya. Hal tersebut terus melebar dalam guliran menyenangkan. Apa pasal? Teruskan membaca… »

Menulis, Plong … Alamaaaaak (9.2)

3 February 2010

Banyak hal dibaca. Dari yang remeh-temeh sampai serius. Membaca tabloid dengan sajian bisa menggelikan sampai buku tentang Ibnu Rusyid yang begitu serius. Apalagi di ruang kuliah, dari wejangan dosen sampai diskusi saling adu argumen. Hmm … Keinchi Ohmae boleh saja membahas percaturan dalam The Borderless World dengan peringatannya. Dalam tarikan Indonesia, harus berbenah diri.

Betapa dalam kehidupan ini, banyak yang diinginkan, yan baik-baik semua. Tapi, kehidupan menyata lain. Hidup ini adalah perjuangan. Ada tantangan, ada kekecewaan, ada kesedihan, ada pula kesuksesan atau kegembiraan. Campur aduk. Kita harus tetap hidup. Teruskan membaca… »

Menulis Menyenangkan (9.1)

2 February 2010

Menulis menyenangkan.
Kalau tidak, mana mungkin ada penulis begitu produktif. Setidaknya dijadikan hal menyenangkan.
Mari jadikan menulis menyenangkan?
Mari sharing menyenangkan.

PRDUKTIF. Membaca tulisan Rivai Marlaut di harian Haluan Padang atau Abu Hanifah pada majalah Kiblat ketika semasa mengikuti Sekolah Dasar sungguh membuai. Trkadang tidak sabar menunggu Bapak membaca. Bahasan masalah luar negeri kedua penulis tersebut sangat ditunggu. Ada saja yang mereka tulis, menarik, dan membelajarkan.

Sunggguh. Betapa menyenangakan kalau bisa seperti mereka, atau betapa menyenangkan mereka menulis. Setelah kuliah, membaca lebih serius, belajar menulis dengan menulis. Ternyata, … memang menyenangkan. Bukan saja berlabuh dipikiran, atau ranah rasa, pada relasi sosial pun mengirim kenyamanan. Menulis memang menyenangkan.Silakan menikmati pada Bab IX ini.

Dijebak ‘Contoh’ Abstrak (8.10)

1 February 2010

Hampir dipastikan, banyak orang membaca apa yang tertulis, membaca tulisan, tetapi sedikit orang yang menuliskan apa yang dibaca. Hampir dipastikan, setiap orang memikirkan banyak hal, namun sedikit yang menuliskannya pikirannya. Jutaan orang terpingkal-pingkal membaca bacaan bermuatan kelucuan atau menitikkan air mata manakala membaca tulisan berkesedihan, tetapi tidak banyak yang menuliskan ketika disapa senang atau saat didenda sedih.

Jutaan guru atau dosen, bisa jadi memotivasi berjuta-juta anak didiknya untuk menulis, namun sungguh sangat sedikit guru atau dosen memberi contoh dengan karya tulisnya. Berceramah lebih dipilih dibanding memberi contoh karya nyata: “Ini lho contoh karya bagus, tulisan gurumu”. Mencontohkan dengan tataran ‘dongeng’ memang lebih mudah dibanding hasil perbuatan. Teruskan membaca… »