Anak Palestina

6 January 2009

Wajah-wajah itu, meringgis
wajah-wajah itu, membeku
anak-anak Palestina kita
merobek qalbu menikam duka ulu hati, pilu
kabut peluru punahkan
di jidatmu

Masih berhakah kita tertawa dalam bahak
memamah fasfood belalak mata melahap tayangan dusta
ketika hati dirampok injak
kesengsaraan abadi di kedungunan kisah
teriak, dan berteriak
sampai ke neraka

Wahal angin nan lalu, gelombang ganas
bangunkan kami
tank-tank, Uzi, dan raunagan burung dara
ubur-ubur bila iman di dada
bangunkan kami dari lelap panjang

Hibahkan sajadahmu, wahai para pencinta
permadani surga menanti
hakmu dalam kewajiaban
karenaNya

Banjarbaru, 6 Januari 2008

MER-C Peduli Palestina mengirimkan Tim Medis ke Palestina. Bila hati tergerak:
- Bank Muamalat Indonesia a/n MER-C, No. Rekening : 301.00521.15
- Bank Syariah Mandiri a/n MER-C, No. Rekening : 009.0121.773
- BCA a/n MER-C, No. Rekening : 686.0153678

Menulis Etalase Pikiran

6 January 2009

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

TENGKUHPUTEH, www.tengkuputeh.wordpresscom., dengan tampilan minimalis menorehkan komentar di www.webersis.com.: “Menulis menunjukkan sistematika berpikir atas segala ilmu yang telah kita kunyah”.

Ya, menulis menuangkan apa yang ada di pikiran, apa yang dipikirkan, dan atau, apa yang terpikirkan. Berpikir adalah sumber dari segala sumber menulis. Kalau tidak mampu berpikir, atau tidak berpikir, ya tidak bisa menulis. Cogito ergo sum, tulis Rene Descartes. Menulislah agar pikiranmu tertampak, tulis Ersis.

Kalau kita amati, tulisan-tulisan serius —sekalipun terkadang ada juga yang menipu— merupakan refleksi dari mereka yang berpikir serius. Sebaliknya, tulisan semau gue, seperti tulisan saya, bisa jadi karena memang berpikirnya kurang mantap. Teruskan membaca… »

Menulis Melawan Diri

5 January 2009

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KALAU ada yang bertanya: Hai Ersis, mengapa kamu berani memproklamirkan menulis sangat mudah? Pertanyaan antisipatif tersebut penting, sebab semakin sering ditanggap memberi motivasi menulis di banyak tempat dan pada berbagai kesempatan. Rupanya, tulisan di media cetak, internet, dan buku belum cukup ampuh memuaskan banyak orang. Ya, apa ya?

Entahlah. Yang pasti, kalau menulis mengalir begitu saja. Kalau dikaji-kaji, bisa jadi, menulis didorong dalam kerangka melawan diri. Melawan diri? Yes. Betapa tidak. Sedari kecil, kira-kira sekitar kelas V SD, dulu SR, terkagum-kagum dengan tulisan Hamka, Abu Hanifah, Al-Gazali, dan Karl May. Semangat begitu bergelora membaca cergam Tariq Bin Ziad, kalau tidak salah ditulis C. Isra. Saya penyuka membaca. Membaca apa saja. Teruskan membaca… »

Menulis Mengingatkan

5 January 2009

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENCATAT dalam artian lain menulis menguatkan ingatan. Apa yang dicatat lebih mudah diingat. Bukankah dengan mencatat mempekerjakan otak? Ada proses yang memantapkan hal yang dicatat. Contoh sederhana seperti komentar di www.webersis.com. Leah (www.sileah.com): “Jadi ingat pengalaman sendiri kalau mau belanja ditulis semua, meskipun catatan tidak dibawa, tapi akan selalu ingat apa yang ditulis hehehe”.

Ya, sekalipun saya tidak terbiasa mencatat, bahkan membawa pulpen saja tidak terbiasa, mencatat mengguatkan ingatan. Sejak dari SD kita dibiasakan mencatat hal-hal penting. Sampai-sampai Pak Guru dan Bu Guru memeriksa catatan pelajaran. Kalau tidak lengkap, … dapat hukuman. Mencatat bernilai edukatif dan melatih ingatan agar kuat. Kenapa? Teruskan membaca… »

Menulis Seks(i)

4 January 2009

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KOMENTAR  qizink (www: qizinklaziva.wordpress.com.), Mari menulis… karena menulis itu funky dan seksi, membangkitkan gairah seks, eh … sori kehendak membahasnya dalam tulisan. Tanpa berpikir panjang, langsung ditulis.

Padahal, baru saja pulang ke rumah setelah membersihkan kolam renang dengan anak-anak dan ibunya. Capek masih bergayut, namun tak kuat melawan godaan Qizink. Penat hilang. Membaca, sekali lagi membaca, adalah pemantik paling yahud menulis. Tulisan berikut buktinya. Teruskan membaca… »

Menulis Buku (Mudah)

4 January 2009

Postingan 1 Januari 2009, Mengapa Saya menulis?, Alhamdulillah direspon teman-teman. Komen dikembangkan jadi tulisan menarik. Bahasan komen Anang (2 Januari), Sifat (3 Januari), Marsmallow (4 Januari) telah dilansir.

Publikasi berikutnya, Leah (5 Januari), Tengkuputeh (6 Januari), Anto (7 Januari), Taufik (8 Januari), Erwin (9 Januari), Nike (10 Januari), Dan Noodijk (10 Januari), Martlina (12 Januari), dan Daniel (13 Januari).

Tentu yang lain akan menyusul. Bisa-biasa pertengahan Januari buku bakal yang belum diberi judul tersebut selesai ditulis. Mudah bukan menulis buku?

Terima kasih para sahabat. Mari menulis, menulis, dan terus menulis.

Salam: Ersis Warmansyah Abbas

Terapi

4 January 2009

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MANUSIA perlu mencurahkan unek-uneknya. Kalau dipendam bisa ‘memakan’ kapasitas otak, isinya gondog doang. Tidak produktif buat memikir dan hal lain yang lebih berguna. Terapi populer bagi penderita gangguan mental dengan memperbanyak bicara, alias melepaskan uneg-uneg. Kalau tidak ada teman bicara, ya ditulis saja. Atau, agar lebih interaktif dan dapat respon, publikasi di blog. Menulis terapi jiwa.

Begitu wejangan Marshmallow, dokter yang baru saja menyelesaikan studinya di Australia. Terapi adalah usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit; pengobatan penyakit; perawatan penyakit (KBBI, 1988: 935). Marshmallow bisa jadi benar, tapi arti kamusis KBBI ngawur deh pada bagian tambahan keterangan … penyakit kok diobati atau disembuhkan. Teruskan membaca… »

Menyehatkan

3 January 2009

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

ADALAH Siti Fatimah, mahasiswa Fakulti Pendidikan, Universitas Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, yang rajin berkomentar mencerahkan pada banyak postingan ww.webersis.com. Pada mBak Sifat, begitu dia saya sapa, belajar bahasa Malaysia. Makasih atas kiriman Kamus Dewan dan buku-buku tentang Malaysia.

Sifat menulis: “Menulis adalah senaman yang baik untuk tangan, jari, dan minda kita. Pergerakan menulis adalah tarian seni yang memberi kesan kepada seluruh anggota badan walau hanya yang dilihat secara fizikalnya pergerakan pada anggota tangan sahaja. Otak jadi sihat kerana dibangunkan sentiasa, menjadi segar dengan idea-idea baru yang diibaratkan inovasi dalam pemikiran. Menulis dan berfikir adalah penawar untuk meningkatkan awet muda serta daya tahan dalaman”. Teruskan membaca… »

Mencurahkan pikiran

2 January 2009

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

ANANG, pemilik blog anangku, berkomentar pada postingan Mengapa Menulis: “Saya menulis untuk mencurahkan pikiran supaya tidak menumpuk dan hanya mengendap begitu saja… menulis untuk menumpahkan hasrat terpendam”. Ada dua hal, pertama agar informasi yang masuk ke wilayah otak tidak mengendap, dan kedua, ada keinginan di diri, hasrat yang perlu disalurkan.

Anang, Si Empunya blog biru kesohor itu benar adanya. Melalui panca indera, pikiran dan perasaan, tiap hari kita menginput banyak hal; dari hal sederhana sampai yang serius. Memori (otak) menampung setelah masukan dan olahan. Ada yang dikeluarkan, tetapi lebih banyak yang dibiarkan terlelap di botak kepala. Yang terpendam itu bisa menjadi kerak-kerak informasi, bahkan karang berkarat bila tidak ‘disentuh’. Bahaya itu. Teruskan membaca… »

Mengapa Menulis?

1 January 2009

Oleh Erss Warmansyah Abbas

SELAMAT TAHUN BARU 2009. Di penghujung tahun 2008 ditanya: Pak Ersis, kenapa pian menulis? Pertanyaan tersebut menyambung ulu pikiran, ya mengapa menulis? Tidak mudah dijawab sekelabat. Banyak hal tergayutnya. Lagi pula, menulis sudah merupakan hal rutin yang tidak membeban. Bahkan, obat banyak hal. Misal, bosan membaca, ya menulis. Nyaman.

Luar biasanya, kalau orang bersikeras —barangkali berawal dari perkeliruan teori— menulis tergantung mood, bagi saya, kalau pikiran lagi pusing, menulis, reda. Kalau lagi sedih, menulis, nyaman. Kalau lagi senang, menulis, semakin enjoy. Kalau pekerjaan menumpuk, menulis 15 menit, satu tulisan, fresh. Belive it or not, kalau tidak punya uang, menulis, lalu dikirim atau diberikan kepada seseorang, dapat duit, he he. Teruskan membaca… »

Blog Eksplisit

31 December 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KENIKMATAN blogwalking yang menyangkiti para blogger yang semakin menajam bisa jadi karena sajian blog sangat khas, eksplisit. Bila rajin menikmati sajian blog praktis, yang gamblang, tegas, terus terang, tidak berbelit-belit, sungguh mendatangkan sensasi tersendiri. Paman Tyo dan bejibun blog lainnya, misalnya, memantik kesukaan bertandang.

Padahal, sajian blog saya sebaliknya. Postingan dominan dari ‘calon buku’. Tulisan dibuat dalam format buku, kalau ada keinginan menulis di media cetak tinggal dikirim via email, kalau mau memposting di blog, tinggal disalin. Atau, dua-duanya. Sajiannya sudah terpola. Sebab, memang memanah buku.

Blog bergenre eksplisit, sungguh menarik. Setidaknya tidak akan bosan membacanya. Bukan  seperti blog bersajian bak makalah atau pidato yang berpanjang-panjang. Langsung ke inti persoalan.

Hanya saja, menulis ringkas bukan perkara mudah. Semakin singkat tulisan semakin sulit. Orang bisa saja bilang, menulis puisi itu gampang. Namun, ‘memeras’ sesuatu dalam konsep, pada satu kata bukanlah perkara mudah.

Albert Einsten membuat puisi paling terkenal: E=MC2. Jutaan tulisan dibuat membahasnya. Relativisme Einstein masih terbuka ditafsiran. Contoh lainnya. Benua Asia, Eropa, Afrika, Amerika, dan Australia, samudera Atlantik sampai laut Adriatik, dari pengunungan Himalaya sampai ke Gunung Kilimanjor, dan seterusnya, bisa jadi, Sampeyan simpan dalam satu kata, dunia.

Jadi, jangan pernah pandang enteng blog ekplisit.

Bagaimana Menurut Sampeyan?

Blog Eksaltasi

30 December 2008

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KERIANGAN menulis bisa jadi pemantik produktif menulis, sebab keriangan yang kuat membangkitkan potensi diri. Asal jangan peningkatan keriangan secara abnormal. Eksaltasi kita artikan keriangan spiritual. Spiritual merujuk ke kejiwaan, rohani, batin, mental, dan moral. Keriangan spiritual dalam menulis adalah pemacu dan pemicu menulis. Dan, ambilan pasnya, pengalaman menulis terlampiaskan melalui blog.

Ya, menulis di blog, apalagi dalam kaitan spitualitas, setidaknya bersandar pada suasana kejiwaan yang  menggugah batin, memantik semangat, menyamankan. Menulis itu menyenangkan, menggugah spiritulitas, ya iyalah. Banyak blog bergenre demikian.

Bahwa saya Muslim, pasti itu. Namun, Muslim yang paripurna belumlah. Pengetahuan agama adalah sedikit,  praktiknya mungkin jaraknya masih jauh dari  ideal. Wajar mengayun kerinduan spiritual melalui bacaan. Blog satu diantara buruan.

Di dunia blog, Alhamdulillah banyak blog sedemikian. Mengembirakan. Lebih asyik, berbeda dari dapatan pada buku-buku, blog eksaltasi disajikan lebih santai. Ditulis dari pengalaman penulis dilandasi muatan dan pesan-pesan hikmah.

Ada pula blog ‘umum’, namun sajian berdasarkan keriangan keagamaan, dan karena itu, ditulis dengan cita rasa, muatan mental, ujaran … tanpa ‘mengancam’. Nyaman dinikmati. Agama dirasakan bukan mengantar beban, tapi paparan keriangan yang memantik keriangan beragama. Sungguh blog bermanfaat.

Bukankah kita mencari dan selalu mencari hal-hal bermanfaat? Yes.

Bagaimana Menurut Sampeyan?